Pasar Didominasi Impor, Produsen Boiler Minta Dukungan Pemerintah

Saat ini industri dalam negeri baru mampu memenuhi 20-30 persen dari kebutuhan boiler nasional.
Image title
9 Februari 2017, 08:00
PLTU Suralaya
Arief Kamaludin|KATADATA
PLTU Suralaya merupakan pembangkit listrik tenaga uap terbesar di ASEAN dengan total kapasitas 3.400 MW.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menerima kunjungan Asosiasi Industri Boiler & Turbin Indonesia di kantornya. Mereka berharap pemerintah dapat membuat regulasi nontarif yang dapat melindungi industri boiler dan turbin di Indonesia. 

Peraturan timpang tindih, dari Kementerian Perindustrian menyatakan akan mendukung, tapi BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) mengeluarkan fasilitas bebas biaya masuk impor. Jadi sebenarnya mana yang benar nih,” kata Ketua Asosiasi Industri Boiler & Turbin Indonesia Henkie Leo  di Kantor Kementerian Perindustrian, Rabu (8/2).

Ia meminta pemerintah lebih tegas mendukung TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri). Misalnya, dengan mewajibkan tender-tender BUMN menggunakan produk lokal.

(Baca juga:  Sri Mulyani dan Ekonom Prediksi 5 Sektor Prospektif Tahun Ini)

“Kalau BUMN itu tidak beri contoh siapa yang akan beri contoh. Kalau swasta ini kan sulit mereka lihat dari segi bisnis. Kalau sudah ditetapkan tidak boleh impor tolonglah dikasih sangsi,” katanya.

Menurut Henkie, masih banyak kebijakan pemerintah yang lebih mendukung industri luar negeri ketimbang lokal. Dari segi perpajakan misalnya, pabrik tanki boiler dikenakan pajak 3 persen pajak penghasilan (PPh) final, sedangkan perusahaan importir malah tidak dikenakan pajak apapun.

“Begitupun dengan kebijakan impor bahan baku perusahaan dikenakan bea 5 persen, sementara impor barang jadi tidak dikenakan bea,” katanya.

(Baca juga: Bangun Infrastruktur Gas Butuh Rp 1.066 Triliun Sampai 2030)

Saat ini, Henkie menyatakan, pabrikan dalam negeri baru mampu memenuhi 20 persen dari kebutuhan pasar boiler atau pemanas air, sementara sisanya dipenuhi melalui impor.

Kebutuhan lokal saat ini sekitar 300 sampai 500 unit boiler per tahun. Dari jumlah tersebut yang dibuat oleh pabrik dalam negeri hanya 20 sampai 30 persen saja, atau sekitar 100 unit per tahun. “Dari asosiasi sendiri saat ini hanya ada 14 pabrik boiler yang beroperasi” katanya.

Henki mengatakan kualitas boiler buatan pabrik dalam negeri bisa bersaing dengan negara produsen lain seperti Cina, India, Malaysia, dan Australia. PT Gunung Garuda Steel misalnya sudah mampu mengekspor boiler drum hingga ke pasar Eropa.

(Baca juga: Impor Gas Terganjal Kesiapan Infrastruktur di Dalam Negeri)

Ia mengatakan tidak ada alasan industri boiler Indonesia tidak mampu bersaing. “Water tube, membran, economizer, heater, semuanya bisa dibikin Indonesia,” katanya.

Reporter: Muhammad Firman
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait