BKPM: Trump dan Pilkada Jakarta Bisa Jadi Kendala Investasi 2017

Kepala BKPM meminta agar konstelasi politik jelang Pilkada Jakarta tidak memecah konsentrasi pemerintah dalam melakukan reformasi ekonomi.
Miftah Ardhian
26 Januari 2017, 10:01
BKPM
KATADATA | Arief Kamaludin

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) telah mengidentifikasi beberapa hal yang akan jadi kendala penyerapan investasi tahun ini. Namun, Kepala BKPM Thomas Lembong  tetap optimis target realisasi investasi yang dipatok sebesar Rp 678,8 triliun dapat tercapai.

Lembong mensinyalir terdapat dua tantangan utama yang akan dihadapi Indonesia dalam merealisasikan target tersebut. Pertama yaitu dari sisi global pasca terpilihnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Lembong menilai, banyak kebijakan Trump yang akan mengagetkan bagi kalangan tertentu. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia diharapkan dapat mengambil langkah cepat untuk bisa terus menarik investasi sebanyak-banyaknya tahun ini.

"Kita harus ekstra cekatan karena perubahan dunia berlangsung cepat, terutama saat masuknya administrasi Trump," ujar Lembong di Kantor Pusat BKPM, Jakarta, Rabu (25/1) kemarin.

(Baca juga: Realisasi Investasi Tahun Lalu Melambat, Cuma Tumbuh 12 Persen)

Untuk terus menjaga pertumbuhan ekonomi, Lembong menjelaskan, akan memanfaatkan 'Trump effect' ini untuk menggenjot ekspor produk Indonesia. Apalagi harga-harga di sektor komoditas sudah cukup membaik.

Penggenjotan ekspor ini bukan tanpa alasan, Lembong menjelaskan, mata uang dolar Amerika  diprediksi akan mengalami penguatan seiring dengan kepemimpinan Trump. Karenanya, produk Indonesia akan terlihat murah di pasaran dunia, yang menyebabkan banyak negara akan tertarik membelinya.

Kemudian, secara khusus, pemerintah juga akan terus mengundang banyak investor untuk menanamkan modalnya di sektor pariwisata. Alasannya, hal tersebut dapat memberbaiki infrastruktur kawasan wisata di Indonesia dan menyebabkan kunjungan turis mancanegara semakin besar.

Kedatangan turis asing ini juga sebagai salah satu penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi nasional. "Apalagi proyeksinya, yen Jepang dan won Korea Selatan akan melemah. Hal itu membuat turis ini lebih memilih ke Bali dibanding ke Hawaii," ujar Lembong.

(Baca juga:  BKPM Terima Banyak Keluhan dari Pengusaha Smelter)

Kendala kedua adalah adanya geliat politik Indonesia, terutama Pemilihan Umum kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta. Menurut Lembong, adanya konstelasi politik Pilkada Jakarta ini jangan sampai memecah konsentrasi pemerintah dalam melakukan reformasi ekonomi, terutama untuk menarik investasi. Meski, sejauh ini, isu tenaga kerja asing dan anti Cina ini belum berpengaruh besar terhadap sentimen investor. 

Bahkan, demonstrasi 411 dan 212 pun masih bisa ditanggulangi dan belum berdampak signifikan bagi iklim investasi Indonesia. "Tapi tetap perlu kita waspadai dampak pada politik domestik ke fokus pemerintah, lalu secara sekunder akan berpengaruh terhadap sentimen investor," ujar Lembong. 

Reporter: Miftah Ardhian
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait