Daftar 6 Istilah Baru Terkait Covid-19 dan Penjelasannya

Kini tak ada lagi istilah ODP, PDP dan OTG dalam penanganan Covid-19.
Pingit Aria
15 Juli 2020, 08:01
Seorang Tanpa Gejala (OTG) yang telah sembuh dari Covid-19 keluar dari bilik disinfektan saat acara pelepasan di gedung Mal Pelayanan Publik kawasan lingkar timur Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (7/7/2020).
ANTARA FOTO/Umarul Faruq/foc.
Seorang Tanpa Gejala (OTG) yang telah sembuh dari Covid-19 keluar dari bilik disinfektan saat acara pelepasan di gedung Mal Pelayanan Publik kawasan lingkar timur Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (7/7/2020).

Pemerintah kembali mengganti istilah terkait dengan Covid-19. Perubahan istilah ini bukan kali pertama. Sebelumnya, pemerintah juga mengganti istilah ‘new normal’ menjadi ‘kebiasaan baru’.

Melalui Kementerian Kesehatan, pemerintah merevisi empat istilah dalam definisi operasional penangan Covid-19. Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan bahwa istilah yang diganti tersebut meliputi Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan Orang Tanpa Gejala (OTG).

Ke depannya maka istilah tersebut akan diubah menjadi kasus suspek, kasus probable, kemudian definisi kontak erat, kasus konfirmasi, pelaku perjalanan, discarded, selesai isolasi dan kematian.

Adapun menurut Yuri, perubahan tersebut telah diatur dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan Tentang Pedoman Pencegahan Dan Pengendalian Disease 19 atau COVID-19 dengan nomor KMK HK 01.07/menkes/413/2020.

"Ini adalah revisi kelima yang kemudian mencabut KMK 247 tentang revisi keempat," kata Yuri di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Selasa (14/7).

(Baca: Kemenkes Ubah Definisi Pasien dan Kematian Akibat Corona di Indonesia)

Yuri yang juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI juga menjelaskan bahwa perbaikan tersebut sesuai pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Berikut adalah data terakhir penambahan kasus positif (terkonfirmasi) Covid-19 di Indonesia:

Yuri tak menyangkal bahwa perbaikan tersebut akan berpengaruh terhadap sistem pelaporan. Namun, secara prinsip, Yuri menjelaskan tidak ada perubahan di dalam kaitan identifikasi kasus.

"Tetap dengan menggunakan basis penegakan diagnosa pemeriksaan antigen dengan Real Time PCR atau menggunakan TCM. Sekali lagi, ini adalah berbasis pada pemeriksaan antigen, bukan melakukan pemeriksaan antibodi," kata Yuri.

Berikut adalah daftar istilah baru yang terkait dengan Covid-19 dan penjelasannya:

1. Kasus Suspek

Secara garis besar, definisi kasus suspek menyinggung tiga kriteria.

Pertama, kasus infeksi saluran pernapasan yang akut, di mana di dalam riwayat penyakitnya dalam 14 hari sebelum sakit, orang yang bersangkutan berasal atau tinggal di daerah yang sudah terjadi local transmission atau penularan lokal.

Kedua, dalam 14 hari terakhir pernah kontak dengan kasus yang sudah terkonfirmasi positif, atau kontak dengan kasus probable. Kontak dalam hal ini adalah kontak dekat, dalam jarak kurang dari 1 meter tanpa pelindung dengan waktu lebih dari setengah jam.

Ketiga orang dengan infeksi saluran pernapasan/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

"Artinya, saat kita curiga bahwa ini adalah Covid-19, maka kita masukkan ini di dalam kelompok suspek," kata Yuri.

(Baca: Imbas Pandemi Corona, 60% Masyarakat Tunda Membeli Rumah)

Apabila melihat pada revisi keempat maka, semua kasus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) adalah kasus suspek. Suspek juga mencakup kelompok Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang memiliki keluhan infeksi saluran pernapasan, dan pernah kontak dengan kasus terkonfirmasi positif.

2. Kasus Probable

Definisi kasus probable adalah apabila penderita dengan infeksi saluran pernapasan berat, atau kemudian meninggal dengan hasil uji klinis yang meyakinkan hal itu adalah Covid-19, namun belum terkonfirmasi.

Uji klinis itu misalnya didapat dari hasil rontgen paru atau hasil pemeriksaan laboratorium darah. Namun, pasien belum terkonfirmasi dari hasil pemeriksaan RT-PCR. “Maka, ini kita masukkan di dalam kasus probable," kata Yuri.

Dengan kata lain, kasus probable ini adalah kasus yang klinis diyakini Covid-19 dalam kondisi atau keadaan berat, namun belum dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosa melalui RT-PCR.

(Baca: Diproduksi Awal 2021, Siapa Saja Penerima Vaksin Corona Prioritas?)

3. Kasus Konfirmasi

Seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi virus Covid-19 yang dibuktikan dengan pemeriksaan lab RT-PCR. Kasus konfirmasi dibagi 2 yakni:

- Simptomatik atau konfirmasi dengan gejala
- Asimptomatik atau konfirmasi tanpa gejala

Berikutnya: kontak erat, pelaku perjalanan dan discarded... 

Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait