Bisnis Terdampak Pandemi, Jumlah Pegawai Taksi Express Susut 69%

Selain PHK, PT Express Transindo Utama Tbk juga memangkas gaji karyawan hingga 40% akibat pandemi corona.
Image title
16 Agustus 2020, 11:58
Taksi Express menunggu penumpang di pinggir jalan di Jakarta (04/12). PT Express Transindo Utama (Express Group) milik perusahaan investasi Grup Rajawali menetapkan harga penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) Rp 560 per lembar. Jumlah
Donang Wahyu|Katadata
Taksi Express menunggu penumpang di pinggir jalan di Jakarta (04/12). PT Express Transindo Utama (Express Group) milik perusahaan investasi Grup Rajawali menetapkan harga penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) Rp 560 per lembar. Jumlah saham yang dilepas 1,051 lembar, perseroan diperkirakan mendapatkan dana segar Rp 588 miliar.

Pandemi Covid-19 berdampak kepada hampir semua sektor bisnis, termasuk transportasi. Salah satunya adalah operator taksi PT Express Transindo Utama Tbk. Jumlah pegawai emiten TAXI ini susut dari 471 orang pada Desember 2020 menjadi 143 orang pada Juli 2020.

Artinya, sebanyak 328 orang atau 69,6% total jumlah pegawainya mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) atau pemutusan kontrak. Corporate Secretary PT Express Transindo Utama Tbk Yuniana menyatakan, penurunan jumlah karyawan sejalan dengan pembenahan atau restrukturisasi internal Perseroan yang dilakukan melalui konsolidasi operasi baik di kantor pusat maupun pool.

Semuanya terjadi karena kondisi bisnis yang menurun akibat pandemi Covid-19. “Sejumlah 143 karyawan Perseroan terkena dampak selain dari PHK yaitu pemotongan gaji karyawan sebesar 40% dari total gaji per bulan, yang diperkirakan akan berlangsung hingga periode yang belum dapat ditentukan saat ini,” kata Yuniana melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, dikutip Minggu (16/8).

Perumahan karyawan di sektor transportasi tidak hanya dialami oleh Taksi Express. Sebab, pandemi corona memukul sektor transportasi di seluruh dunia. Berikut datanya:

Advertisement

Yuniana menjelaskan, pandemi corona menyebabkan sejumlah opersional TAXI ini terhenti diberbagai daerah imbas adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB. Misalnya, pembatasan operasional pada taksi reguler dan taksi premium baik di Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jadetabek) maupun luar kota.

Tak hanya itu, layanan penyewaan kendaraan dan limusin di Jakarta dan Bali pun sempat disetop. Serta pembatasan operasional pada layanan penyewaan bus di Jadetabek.

“Penghentian dan/atau pembatasan operasional di atas terutama disebabkan oleh penurunan permintaan atas layanan transportasi umum dan juga adanya pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan perpanjangan PSBB Transisi hingga Agustus 2020,” katanya.

Alhasil, Yuniana menambahkan, perseroan memprediksi bakal ada penurunan pendapatan antara 51% hingga 75% pada tahun ini dibandingkan tahun lalu imbas pandemi corona.

Adapun, strategi TAXI untuk menurunkan biaya operasional yakni melakukan penyesuaian jumlah karyawan dan penutupan sejumlah pool yang tidak aktif.

Dari sisi kinerja keuangan, PT Express Transindo Utama Tbk tercatat membukukan kerugian sebesar Rp 43,44 miliar sepanjang semester I 2020, turun 62,47% dibandingkan rugi yang dialami perseroan pada periode yang sama tahun lalu. Pada semester I 2019 perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp 115,78 miliar.

Pada paruh pertama tahun ini, perusahaan yang dikenal dengan merek taksi Express ini mengantongi pendapatan sebesar Rp 19,41 miliar. Jumlah tersebut anjlok hingga 62,47% dibandingkan dengan semester I 2019 yang mencapai Rp 77,18 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang belum diaudit, pendapatan dari bisnis taksi tercatat sebesar Rp 13,68 miliar pada semester I 2020. Angka ini anjlok hingga 75,57% dibandingkan dengan semester I 2019 yang sebesar Rp 56,03 miliar.

Dari bisnis sewa kendaraan, Express Transindo Utama hanya mengantongi pendapatan sebesar Rp 3,17 miliar pada semester I 2020. Capaian ini anjlok hingga 79,56% dibandingkan dengan semester I 2019, di mana perseroan mampu menghasilkan pendapatan Rp 15,51 miliar dari bisnis sewa kendaraan.

Meski begitu, beban pokok pendapatan mampu diturunkan hingga 56,62% menjadi Rp 160,42 miliar pada semester I 2020. Pada periode yang sama tahun lalu, Express Transindo Utama menanggung beban pokok pendapatan sebesar Rp 160,42 miliar. Beban pokok pendapatan bisa turun drastis karena beban dari penyusutan armada dan peralatan pada semester I 2020 turun 47,24% menjadi Rp 46,37 miliar.

Selain itu, beban gaji dan tunjangan turun 54,66% Rp 12,5 miliar. Pada paruh pertama tahun ini Express Transindo Utama juga mampu menurunkan beban usaha dan administrasi sebesar 63,95% menjadi Rp 6,81 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, perseroan menanggung beban sebesar Rp 18,89 miliar pada pos ini.

Sepanjang semester I 2020 perseroan melakukan beberapa langkah efisiensi karena operasional terdampak pandemi corona. Salah satu langkah yang diambil adalah menyesuaikan jumlah karyawan dan penutup sejumlah pool taksi yang sudah tidak aktif lagi.

Berkat langkah efisiensi inilah beban Express Transindo Utama berhasil ditekan sepanjang semester I 2020. Hal ini berdampak langsung terhadap kinerja, meski secara keseluruhan perseroan masih membukukan rugi bersih.

Reporter: Muchammad Egi Fadliansyah
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait