Pidato Perdana Jokowi di PBB: Vaksin Game Changer Melawan Covid-19

Dalam pidatonya di sidang umum PBB, Jokowi menekankan pentingnya kerja sama antarnegara dalam menghadapi Covid-19. “No one is safe until everyone is,” katanya.
Pingit Aria
23 September 2020, 11:42
Pidato virtual Jokowi dalam Sidang Tahunan PBB, Rabu (23/9).
Kementerian Luar Negeri
Pidato virtual Jokowi dalam Sidang Tahunan PBB, Rabu (23/9).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak seluruh negara bersatu padu dalam menghadapi Covid-19. Dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang digelar secara virtual, Rabu (23/9), Jokowi meminta semua pihak menggunakan pendekatan yang saling menguntungkan di tengah pandemi global.

Lebih lanjut, Presiden mengaku prihatin terhadap masih terjadinya situasi kemiskinan, kelaparan, penghormatan kedaulatan dan integritas wilayah masih ada di berbagai belahan dunia saat pandemi Covid-19 sekarang ini.

“Kita tahu dampak pandemi ini sangat luar biasa, baik dari sisi kesehatan maupun sosial ekonomi. Kita juga paham, virus ini tidak mengenal batas negara, no one is safe until everyone is,” kata Presiden.

Menurutnya, kerja sama dalam penanganan Covid-19 harus kita perkuat, baik dari sisi kesehatan maupun dampak sosial ekonominya. “Vaksin akan menjadi game changer dalam perang melawan pandemi. kita harus bekerja sama untuk memastikan bahwa semua negara mendapatkan akses setara terhadap vaksin yang aman dan dengan harga terjangkau,” katanya.

Hasil survei perusahaan riset Ipsos menunjukkan sebanyak 74% responden yang tersebar di 27 negara akan menggunakan vaksin Covid-19 jika telah tersedia. Berikut grafiknya di Databoks:

Untuk jangka panjang, Presiden sampaikan tata kelola ketahanan kesehatan dunia harus lebih diperkuat. Ia menambahkan bahaa ketahanan kesehatan dunia yang berbasis pada ketahanan kesehatan nasional akan menjadi penentu masa depan dunia.

“Dari sisi ekonomi, reaktivasi kegiatan ekonomi secara bertahap harus mulai dilakukan dengan melakukan koreksi terhadap kelemahan-kelemahan global supply chain yang ada saat ini,” tandas Presiden.

Aktivasi ekonomi, menurut Presiden, harus memprioritaskan kesehatan warga. Menurutnya, dunia yang sehat, dunia yang produktif harus menjadi prioritas.

“Semua itu dapat tercapai jika semua bekerja sama, bekerja sama, dan bekerja sama. Mari kita memperkuat komitmen dan konsisten menjalankan komitmen untuk selalu bekerja sama,” kata Presiden. 

Pada kesempatan itu, Presiden juga menyampaikan bahwa tahun ini Indonesia juga merayakan kemerdekaan yang ke-75 tahun. Ia bertekad, Indonesia terus berkontribusi bagi perdamaian dunia, sesuai amanat konstitusi.

“Indonesia akan terus memainkan peran sebagai bridgebuilder, sebagai bagian dari solusi. Secara konsisten komitmen ini terus dijalankan Indonesia, termasuk saat Indonesia duduk sebagai anggota Dewan Keamanan PBB,” imbuh Presiden.

Spirit kerja sama, menurut Presiden, akan selalu dikedepankan Indonesia, spirit yang menguntungkan semua pihak tanpa meninggalkan satu negara pun. Ia berprinsip, “No one, no country should be left behind”.

Persamaan derajat inilah, lanjut Presiden, yang ditekankan oleh Bapak Bangsa Indonesia, Soekarno, Bung Karno, saat Konferensi Asia-Afrika di Bandung Tahun 1955 yang menghasilkan Dasasila Bandung.

“Hingga kini, prinsip Dasasila Bandung masih sangat relevan, termasuk penyelesaian perselisihan secara damai, pemajuan kerja sama, dan penghormatan terhadap hukum internasional,” katanya.

Menurut Presiden, Palestina adalah satu-satunya negara yang hadir di Konferensi Bandung yang sampai sekarang belum menikmati kemerdekaannya. “Indonesia terus konsisten memberikan dukungan bagi Palestina untuk mendapatkan hak-haknya,” ungkap Presiden.

Di kawasan negara-negara ASEAN lainnya, Presiden menyampaikan Indonesia terus menjaga Asia Tenggara sebagai kawasan yang damai, stabil, dan sejahtera.

“Pada hari jadinya yang ke-53, 8 Agustus 2020 yang lalu, ASEAN kembali menegaskan komitmennya untuk terus menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan. Spirit kerja sama dan perdamaian inilah yang kemudian didorong Indonesia ke kawasan yang lebih luas, kawasan Indo-Pasifik, melalui ASEAN Outlook on the Indo-Pasific,” ungkap Presiden.

PBB Harus Berbenah

Selain beberapa poin di atas, Jokowi juga menyatakan bahwa PBB harus senantiasa berbenah diri, melakukan reformasi, revitalisasi, dan efisiensi. PBB harus dapat membuktikan bahwa multilateralism delivers, termasuk pada saat terjadinya krisis.

“PBB harus lebih responsif dan efektif dalam menyelesaikan berbagai tantangan global. Dan kita semua memiliki tanggung jawab untuk terus memperkuat PBB, agar PBB tetap relevan dan semakin kontributif, sejalan dengan tantangan zaman,” kata Presiden.

PBB, menurut Jokowi, bukanlah sekadar sebuah gedung di Kota New York tapi sebuah cita-cita dan komitmen bersama seluruh bangsa untuk mencapai perdamaian dunia dan kesejahteraan bagi generasi penerus. Indonesia memiliki keyakinan yang tidak tergoyahkan terhadap PBB dan multilateralisme.

“Multilateralisme adalah satu-satunya jalan yang dapat memberikan kesetaraan,” ujarnya.

Selain itu, kerja sama global harus diperkuat. “Kita paham bahwa dalam hubungan antarnegara, dalam hubungan internasional, setiap negara selalu memperjuangkan kepentingan nasionalnya,” tuturnya.

Namun, mantan gubernur DKI Jakarta ini juga mengingatkan agar jangan lupa bahwa semua memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi menjadi bagian dari solusi bagi perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan dunia.

“Di sinilah dituntut peran PBB untuk memperkokoh collective global leadership. Dunia membutuhkan spirit kolaborasi dan kepemimpinan global yang lebih kuat untuk mewujudkan dunia yang lebih baik,” tuturnya.

Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait