Jokowi Tinjau Food Estate di Kalteng, Pemupukan Dilakukan dengan Drone

Jokowi berharap food estate yang berada di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah dapat menghasilkan padi, buah-buahan hingga ikan.
Image title
8 Oktober 2020, 13:34
Presiden Joko Widodo meninjau lahan yang akan dijadikan "Food Estate" atau lumbung pangan baru di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Kamis (9/7/2020). Pemerintah menyiapkan lumbung pangan nasional untuk mengantisipasi krisis pangan dunia.
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.
Presiden Joko Widodo meninjau lahan yang akan dijadikan "Food Estate" atau lumbung pangan baru di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Kamis (9/7/2020). Pemerintah menyiapkan lumbung pangan nasional untuk mengantisipasi krisis pangan dunia.

Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke lumbung pangan atau food estate di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Jokowi pun berharap, lumbung pangan tersebut dapat menghasilkan komoditas yang terdiversifikasi, yaitu mulai dari padi, buah-buahan, hingga ikan.

"Kita harapkan hasilnya bukan hanya padi, tapi ada jeruk dan kelapa, plus bawang merah," kata Jokowi di lumbung pangan Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Kamis (8/10).

Ia pun telah menyaksikan adanya kombinasi komoditas. Sisi pinggir lumbung pangan yang berada di Kecamatan Pandih Batu telah ditanami jeruk, bawang merah, dan kelapa.

Kemudian, irigasi lumbung pangan tersebut digunakan untuk budidaya ikan keramba. Tak hanya itu, ada pula itik di lumbung pangan tersebut.

Advertisement

Mantan Walikota Solo itu mengatakan, model bisnis dalam skala kecil ini akan dilihat perkembangannya selama tiga hingga empat bulan ke depan. Bila berhasil, model bisnis tersebut akan ditiru di wilayah lainnya dengan lahan seluas 1.000 hektare (ha).

Saat ini, proses penggarapan lumbung pangan dilakukan dengan alat modern. Sebagai contoh, pemupukan dilakukan menggunakan drone, sementara pembajakan sawah memakai traktor apung dengan cakupan lahan hingga 2 hektare per hari.

Sebelumnya, pesawat kepresidenan Indonesia-1 yang membawa Presiden dan rombongan tiba di Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangka Raya, sekitar pukul 09.10 WIB. Dari Bandara Tjilik Riwut, Presiden langsung melanjutkan perjalanan dengan menggunakan helikopter Super Puma TNI AU menuju Kabupaten Pulang Pisau.

Dalam perjalanan menggunakan helikopter menuju Palangka Raya, Presiden sekaligus akan melakukan pemantauan dari udara lokasi lumbung pangan singkong di Kabupaten Gunung Mas.

"Ini hamparan yang sangat luas sehingga dibutuhkan mekanisasi alat modern sehingga kecepatan itu betul-betul ada," ujar dia.

Jokowi menambahkan, Pulang Pisau dan Kapuas memiliki kondisi yang baik untuk penanaman lumbung pangan. Sebab, wilayah tersebut memiliki hamparan lahan yang datar, air yang melimpah, serta tanah yang subur.

Lumbung Pangan 30 Ribu Hektare

Sebagaimana diketahui, lahan lumbung pangan Kalimantan Tengah yang digarap pada tahun ini seluas 30 ribu ha, dengan rincian 10 ribu ha di Pulang Pisau dan 20 ribu ha di Kapuas. Adapun, target produktivitas mencapai 5 ton per ha.

Sebelumnya, pemerintah memastikan pengembangan lumbung pangan tahap pertama ini tidak dilakukan di lahan gambut, melainkan di atas lahan rawa mineral yang sudah menjadi sawah sehingga risiko terjadinya kebakaran kecil.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Kementerian Pertanian (BBSDLP Kementan) Husnain mengatakan, seluruh aktivitas off farm atau pasca-produksi akan dilakukan oleh PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Sementara Kementan akan turut terlibat dalam meningkatkan nilai tambah produk setelah masa panen.

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud mengatakan pihaknya tengah menyiapkan penyusunan kajian master plan dan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) untuk usulan kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pangan.

"Selain kami, masing-masing kementerian juga telah menyusun rancangan terkait lumbung pangan nasional ini," kata Musdhalifah.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) misalnya, telah melakukan rehabilitasi irigasi hingga penyiapan dokumen Amdal. Hal ini agar lahan seluas 30.000 ha bisa menjadi bagian yang direplikasi untuk mencapai 148.000 ha.

Reporter: Rizky Alika
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait