Prabowo Temui Menhan Austria, Incar 15 Jet Eurofighter

Rencana Prabowo membeli 15 Jet Eurofighter itu menuai kritik dari Austria maupun Indonesia.
Image title
Oleh Rizky Alika
20 Oktober 2020, 17:22
Pesawat tempur Eurofighter Typhoon
Eurofighter Documentation
Pesawat tempur Eurofighter Typhoon

Menteri Pertahanan (Menhan) Letjen (Purn) Prabowo Subianto menemui Menhan Austria Klaudia Tanner di Kantor Kementerian Pertahanan Austria, Wina pada Selasa (20/10) pagi. Pertemuan tersebut untuk membahas potensi jual beli 15 jet Eurofighter Typhoon.

Pesawat yang sudah tidak digunakan oleh Angkatan Udara Austria itu rupanya diminati oleh pemerintah Indonesia.

Media terkemuka Austria, Der Standard melaporkan, pertemuan tersebut berlangsung selama satu jam tanpa jabat tangan di hadapan kamera. Hal itu bukan untuk menghindari kontak fisik demi mencegah penularan Covid-19.

Seorang pejabat di Kementerian Pertahanan Austria menyatakan bahwa pertemuan dingin itu karena Prabowo masih dianggap memegang peran sentral di militer era kedikatoran Presiden Suharto.

Prabowo pun dikabarkan tengah menjalani tur Eropa serta tertarik dengan jenis pesawat lain, yaitu Rafale (Prancis) dan Gripen (Swedia). Berikut adalah Databoks yang menggambarkan anggaran pengadaan Alutsista untuk matra darat, laut dan udara TNI dari 2015-2020:

Sebelumnya, sejumlah kritik dilayangkan kepada pemerintah Austria. Juru bicara pertahanan Partai NEOS (Das Neue Österreich und Liberales Forum) Douglas Hoyos mengatakan, menjual Eurofighter ke Indonesia bukan solusi atas tuduhan korupsi dalam pembelian jet tersebut.

Selain itu, lanjut dia, perlu dipastikan terlebih dahulu apakah Indonesia merupakan mitra negosiasi yang tepat lantaran masalah hak asasi manusia.

Juru bicara pertahanan Partai Kebebasan Austria (FPO), Reinhard Bösch menilai, potensi kesepakatan antara kedua negara sangat rendah. Sebab, Austria membutuhkan persetujuan dari empat negara produsen Eurofighter, yaitu Jerman, Inggris Raya, Italia, dan Spanyol. Tak hanya itu, Austria juga memerlukan restu dari AS dan Airbus.

Juru bicara pertahanan Partai Hijau David Stögmüller mengatakan, Kemenhan Austria perlu mempertimbangkan penjualan pesawat tempur itu ke Indonesia. "Harus diklarifikasi apakah tidak ada negara lain yang tertarik dengan Eurofighter dan tidak ada masalah seperti Indonesia," ujar dia.

Selain itu, Presiden Austria Alexander Van der Bellen pun meminta Tanner untuk mencermati permintaan Prabowo. "Merupakan tugas menteri pertahanan untuk memeriksa permintaan itu dengan cermat serta menarik kesimpulan yang sesuai," katanya.

Kritik di Indonesia

Di Indonesia, kritik datang dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Imparsial yang menilai rencana Prabowo berpotensi melanggar Undang-undang (UU) Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Hal ini lantaran tidak terjadinya proses transfer teknologi untuk mengembangkan industri pertahanan dalam negeri.

Wakil Direktur Imparsial, Gufron Mabruri mengatakan, tidak terjadinya transfer teknologi lantaran pesawat itu dibeli dalam kondisi bekas pakai dan Austria bukanlah produsen pesawat Eurofighter. "Bagaiamana kita bisa membangun kemandirian pertahanan sementara kita hobinya membeli barang-barang bekas bukan dari produsennya," kata Gufron dalam diskusi daring di Jakarta, Senin (27/7).

Menurut Ghufron, upaya membeli sistem pertahanan (alutsista) bekas bukanlah hal baru di Indonesia. Namun langkah ini berpotensi mengulangi kesalahan yang sama di pemerintahan sebelumnya seperti pengadaan barang dengan kualitas yang di bawah standar dan tanpa dilengkapi persenjataan yang memadai.

Tak hanya itu, pembelian alutsista bekas juga berpotensi membuat biaya perawatan membengkak seiring dengan jam terbangnya yang sudah tinggi. Kondisi ini dinilai berbahanya bagi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam kondisi sebenarnya dan bakal menurunkan mental bertempur.

Reporter: Rizky Alika
Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait