Protokol Kesehatan, Jurus Putar Roda Ekonomi UMKM Kala Pandemi

Waktu delapan bulan dianggap cukup untuk beradaptasi menghadapi Covid-19.
Pingit Aria
26 Oktober 2020, 19:01
Aktivitas jual beli di Pasar Pagi Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2020). Pemerintah Kota Salatiga menata para pedagang pasar pagi tersebut dengan menerapkan "physical distancing" atau jaga jarak satu meter antarpedagang sebagai upaya pencegahan penyeb
ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/aww.
Aktivitas jual beli di Pasar Pagi Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2020). Pemerintah Kota Salatiga menata para pedagang pasar pagi tersebut dengan menerapkan "physical distancing" atau jaga jarak satu meter antarpedagang sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19.

Pemerintah mengimbau kepada seluruh pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan. Dengan demikian, aktivitas ekonomi yang dijalankan tidak mendorong penambahan jumlah kasus positif Covid-19.

"Sekarang yang kita perlukan adalah melakukan kegiatan ekonomi tersebut, jangan sampai menimbulkan kasus," kata Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Senin (26/10).

Ia mengatakan pandemi Covid-19 merupakan bencana non-alam yang mendera tidak hanya masyarakat Indonesia, tetapi juga masyarakat dunia. Oleh karena itu, setiap orang diharapkan bisa beradaptasi.

Delapan bulan sejak kasus pertama ditemukan, menurutnya, merupakan waktu yang cukup lama bagi pemerintah dan masyarakat untuk bisa menyesuaikan diri dan mengatur strategi untuk menghadapi pandemi Covid-19.

Untuk itu, Wiku menilai bahwa penerapan protokol kesehatan harus benar-benar dilaksanakan dengan disiplin, sehingga masyarakat maupun pelaku UMKM tetap dapat menjalankan aktivitas mereka tanpa khawatir tertular Covid-19. "Nah, mari kita latihan beradaptasi melakukan itu secara bertahap, tapi secara disiplin," katanya.

PENERAPAN JAGA JARAK DI PASAR PAGI SALATIGA
PENERAPAN JAGA JARAK DI PASAR PAGI SALATIGA (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/aww.)

 

Ia mencontohkan salah satu aktivitas ekonomi di pasar. Wiku mengatakan bahwa pasar merupakan tempat bagi masyarakat untuk membeli kebutuhan mereka sehari-hari. Dengan Gerakan 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak dan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, potensi penularan Covid-19 bisa ditekan.

Langkah itu lebih efektif mencegah penularan jika dilakukan secara kolektif. "Jadi adaptasinya bukan adaptasi individu, melakukan 3M, protokol kesehatan, tetapi juga adaptasi dalam menjalankan kegiatan ekonominya," kata Wiku.

Wiku menunjukkan bahwa beberapa jurnal internasional menyatakan bahwa mencuci tangan dengan sabun dapat menurunkan risiko penularan sebesar 35%. Sedangkan memakai masker kain dapat menurunkan risiko penularan sebesar 45%, dan masker bedah dapat menurunkan risiko penularan hingga 70%. Yang paling utama, menjaga jarak minimal 1 meter dapat menurunkan risiko penularan sampai dengan 85%.

Sementara itu, kasus positif Covid-19 di Indonesia bertambah 3.222 orang pada hari ini, Senin (26/10). Angka tersebut menurun dari kisaran 4.000 per hari jumlah spesimen yang diperiksa sebanyak 24.413, dari yang biasanya mencapai lebih dari 30 ribu spesimen.

Hingga hari ini, jumlah kumulatif kasus positif Covid-19 mencapai 392.934 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 317.672 orang dinyatakan sembuh dan 13.411 orang meninggal dunia. Data tersebut dihimpun Kementerian Kesehatan hingga pukul 12.00 WIB.

Pasien sembuh bertambah 3.908 orang hari ini, sedangkan pasien yang dinyatakan meninggal 112 orang. Sementara, kasus suspek per hari ini menjadi 170.163 orang.

Reporter: Antara
Editor: Pingit Aria

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait