Vaksin Pfizer Efektif, Pemerintah Buka Peluang Kerja Sama

Pemerintah harus memperhitungkan masalah teknis, sebab vaksin Pfizer harus disimpan pada suhu minus 70 derajat celsius.
Pingit Aria
12 November 2020, 17:59
Seorang pekerja menyiapkan pengemasan obat-obatan padat.
ANTARA
Seorang pekerja menyiapkan pengemasan obat-obatan padat.

Kepala Staf Presiden Moeldoko mengungkapkan pemerintah terbuka untuk bekerja sama dalam pengadaan vaksin Covid-19 dengan perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, Pfizer dan mitra mereka dari Jerman, BioNTech. Sebelumnya, Pfizer menyatakan bahwa vaksin buatan mereka 90% efektif menangkal virus corona.

"Tidak menutup kemungkinan, tapi juga ada persoalan teknis yang dari sisi perlakuan terhadap vaksin itu," kata Moeldoko di kantornya di Jakarta, Kamis.

Sebelumnya diberitakan uji klinis vaksin Covid-19 buatan Pfizer dan BioNTech diklaim dapat mencegah infeksi Covid-19 hingga 90%. Bagaimanapun, vaksin Pfizer dan BioNTech masih harus dikaji oleh kelompok pakar independen dan disetujui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Di Indonesia, belum ada temuan seberapa ampuh vaksin Sinovac dan Sinopharm yang dipesan dari perusahaan asal Tiongkok. Sedangkan, uji klinis dijadwalkan selesai pada April 2021.

Dibanding vaksin buatan Tiongkok, ada pekerjaan besar untuk mendistribusikan vaksin Pfizer dan BioNTech di Tanah Air. Sebab, vaksin dengan basis RNA (ribonucleic acid) tersebut harus disimpan pada suhu minus 70 derajat celsius, tidak ideal untuk negara kepulauan tropis seperti Indonesia.

“Untuk daerah-daerah seperti kita ini sepertinya akan menghadapi kesulitan distribusi, persoalan teknisnya di situ," kata Moeldoko.

Sebagai gambaran, vaksin Sinovac dapat didistribusikan dalam suhu 2-8 derajat celsius, hampir sama untuk hampir semua jenis vaksin lain di Indonesia, kecuali polio yang dapat bertahan hingga pada suhu 20 derajat Celsius. Artinya, prosedur tersebut bukan hal baru.

Berikut adalah Databoks yang menggambarkan rencana penyuntikan vaksin Covid-19 oleh pemerintah:

Epidemiolog indonesia dari Griffith University Australia, Dicky Budiman pun meminta pemerintah tak buru-buru membeli vaksin dari Pfizer setelah klaim mengenai efektivitasnya. Menurutnya, semua pihak masih harus menunggu data yang dimuat dalam jurnal ilmiah mengenai respons imun, keamanan dan tantangan logistik vaksin ini.

"Walaupun berita baik kita sambut positif, tapi harus tetap kritis. Vaksin adalah produk kesehatan yang perlu keamanan ekstra," ujarnya.

Menurutnya, ketika Pfizer mengklaim bahwa vaksinnya lebih dari 90 persen efektif, harus diketahui juga bahwa yang dimaksud itu baru hanya penurunan 90% kasus simptomatik, bukan infeksi. Apalagi, data yang dipublikasikan saat ini merupakan temuan awal.

Sebelumnya, pemerintah sudah meneken kesepakatan untuk pengadaan 143 juta dosis konsentrat vaksin yang dimulai November 2020 dengan Sinovac, kemudian Sinopharm dan CanSino masing-masing 65 juta dan 15 juta hingga 20 juta konsentrat vaksin.

Selain dengan Tiongkok, Indonesia menjalin kerja sama vaksin dengan perusahaan teknologi G-24 asal Uni Emirat Arab (UAE) pertengahan Agustus dengan memasok 10 juta dosis vaksin melalui kerja sama dengan PT Kimia Farma.

Kemudian masih ada 100 juta dosis vaksin Covid-19 yang diproduksi AstraZeneca diharapkan dapat dilakukan pengiriman pertama pada kuartal kedua 2021.

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait