Mendag: Gerai Maritim Mampu Turunkan Disparitas Harga Pangan

Melalui ‘Gerai Maritim’ pemeintah memberikan subsidi biaya antar pelabuhan (port to port) hingga 50% per kargo.
Image title
Oleh Cindy Mutia Annur
18 November 2020, 20:09
Kapal Logistik Nusantara 4 dari Jakarta melaksanakan bongkar muat kontainer di dermaga Pelabuhan Pelni Selat Lampa, Pulau Bunguran, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Jumat (13/11/2020). Pengoperasian kapal logistik tersebut dilakukan untuk memaksimalkan p
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.
Kapal Logistik Nusantara 4 dari Jakarta melaksanakan bongkar muat kontainer di dermaga Pelabuhan Pelni Selat Lampa, Pulau Bunguran, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Jumat (13/11/2020). Pengoperasian kapal logistik tersebut dilakukan untuk memaksimalkan program Tol Laut dari pemerintah untuk melayani distribusi logistik ke pelosok negeri, termasuk di daerah tertinggal, terpencil, terdepan, dan daerah perbatasan (T3P) seperti Natuna.

Sebagai negara kepulauan dengan infrastruktur yang belum memadai, distribusi barang dan jasa menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia. Mahalnya biaya logistik menimbulkan disparitas harga yang tinggi di wilayah-wilayah terluar yang sulit dijangkau.

Di antara upaya pemerintah untuk mengurai masalah tersebut adalah melalui pemanfaatan tol laut dan program 'Gerai Maritim'. Berdasarkan pantauan Kementerian Perdagangan, terdapat 50 daerah yang telah merasakan manfaatnya.

"Ada penurunan harga barang setelah dilalui oleh Gerai Maritim." Kata Menteri Perdagangan Agus Suparmanto dalam acara Jakarta Food Security Summit atau JFSS 2020, Rabu (18/11).

Gerai Maritim, kata Agus, merupakan upaya untuk mendistribusikan barang, khususnya barang kebutuhan pokok dan barang penting ke daerah Terdepan, Terpencil dan Tertinggal serta Perbatasan (3TP) dengan tujuan menurunkan disparitas harga.  

Ia menjelaskan, lewat program ini pemerintah memberikan subsidi biaya antar pelabuhan (port to port). "Rata-rata (biaya subsidi mencapai) 40% sampai 50% dari biaya kargo per kontainer," ujar dia. 

Berikut adalah Databoks yang menggambarkan tingginya biaya logistik Indonesia dibanding negara lain di Asia:

Agus melanjutkan, untuk mengoptimalkan Gerai Maritim, khususnya pemanfaatan kapasitas kapal saat muatan balik maka pemerintah juga melakukan konsolidasi bisnis melalui business matching antara produsen di daerah dengan melibatkan industri yang memerlukan pasokan bahan baku.

Ia mengatakan bahwa kebijakan ini pun mampu menampung berbagai produk unggulan daerah serta mengoptimalisasi muatan balik pemerintah serta pembangunan Depo Gerai Maritim. Data kementerian mencatat, tahun ini sudah ada 67 daerah yang dilalui Tol Laut Gerai Maritim, di mana Depo Gerai Maritim dibangun di 14 kabupaten. 

Agus menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan disparitas harga bahan pokok cukup tinggi. Di antaranya bencana alam, sentra produksi dan distribusi yang tidak merata, serta bervariasinya biaya logistik di daerah.

Maka dari itu, menurut dia pemerintah tidak akan tinggal diam untuk meningkatkan distribusi dan mengurangi biaya logistik di daerah di seluruh Indonesia. "Terkait hal tersebut, langkah yang kami highlight adalah program Gerai Maritim," ujar Agus. 

Sementara itu, Founder dan CEO Tokopedia William Tanuwijaya mengatakan, mayoritas petani di Indonesia berada di mata rantai paling bawah sehingga menerima pendapatan yang kurang optimal dalam rantai distribusi pangan. Hal tersebut disebabkan oleh kondisi geografis dan minimnya fasilitas infrastruktur di Tanah Air.

Kabar baiknya, kendala tersebut bisa teratasi dengan penggunaan teknologi. “Teknologi, khususnya digital, bisa menjadi solusi bagi para petani,” kata dia.

Reporter: Cindy Mutia Annur
Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait