Darah Tinggi Jadi Faktor Tertundanya Vaksinasi Tenaga Kesehatan

Vaksinasi Covid-19 harus dilakukan kepada masyarakat berusia 18-60 tahun tanpa komorbid.
Image title
26 Januari 2021, 18:02
Seorang tenaga kesehatan menerima suntikan vaksin COVID-19 Sinovac di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Selasa (26/1/2021). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan sebanyak 179.000 orang tenaga keseha
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Seorang tenaga kesehatan menerima suntikan vaksin COVID-19 Sinovac di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Selasa (26/1/2021). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan sebanyak 179.000 orang tenaga kesehatan telah melakukan vaksinasi Sinovac hingga hari Senin (26/1/2021) untuk mengejar target penyelesaian vaksin pada akhir tahun 2021.

Program vaksinasi virus corona pada tahap awal untuk tenaga kesehatan mengalami sejumlah kendala. Selain masalah distribusi, kondisi fisik tenaga kesehatan yang hendak disuntik vaksin juga menjadi tantangan tersendiri.

Pada pekan pertama vaksinasi, setidaknya 11% tenaga kesehatan gagal disuntik vaksin karena darah tinggi. Juru Bicara Vaksin Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, vaksinasi ke tenaga kesehatan yang hipertensi bakal diundur.

Sebagaimana diketahui, vaksinasi kepada 1,48 juta tenaga kesehatan dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama vaksinasi dilakukan kepada 598.483 tenaga kesehatan pada Januari. Sementara, vaksinasi tahap II kepada 888.282 tenaga kesehatan berlangsung pada Februari.

"Vaksinasi (untuk penderita hipertensi) ditunda pada tahap berikutnya. Tidak harus Februari tapi sampai penyakit komorbid terkontrol," kata Nadia kepada Katadata, Selasa (26/1).

Adapun, tenaga kesehatan yang mengalami darah tinggi itu akan diminta untuk berobat terlebih dahulu agar tekanan darahnya terkontrol. Selain itu, tenaga kesehatan itu juga diminta mengubah gaya hidup disertai dengan olahraga.

Penundaan vaksin kepada penderita hipertensi dilakukan untuk mematuhi rekomendasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).

Berikut adalah Databoks pembelian vaksin oleh pemerintah Indonesia: 

Berdasarkan rekomendasi PAPDI, pemberian vaksin Sinovac dikecualikan bagi beberapa kelompok. Salah satunya orang dengan penyakit kronis seperti penyakit gangguan jantung yang berat, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, diabetes, penyakit ginjal dan hati, tumor, dan lainnya yang bisa mengganggu imunisasi. Namun, hipeertensi terkontrol dengan batasan <140/90 mmHg dengan atau tanpa obat masih dikategorikan layak menerima vaksin.

Menurut situs Kementerian Kesehatan, jumlah penerima vaksin hingga 25 Januari sebanyak 161.959 orang. Adapun, jumlah penerima vaksin yang telah melakukan registrasi ulang berjumlah 1,45 juta orang.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku pusing lantaran ada 11% tenaga kesehatan yang ditolak vaksinasi virus corona karena darah tinggi. Menurutnya, hal ini mencerminkan orang Indonesia tidak sehat.

"Aku jadi stres juga tuh karena pas ukur tensi, tekanan darah dia (petugas kesehatan) tinggi. Entah dia deg-degan karena mau disuntik atau karena apa," kata Budi pada webinar Piliran Rakyat Media Network Suara Cimahi (PRMN SuCi), Rabu (20/1) lalu.

Reporter: Rizky Alika
Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait