Bertambah 43 Ribu, 1,06 Juta Tenaga Kesehatan Telah Divaksin Covid-19

Vaksinasi untuk masyarakat umum akan dilakukan dengan pendekatan per klaster atau wilayah.
Pingit Aria
13 Februari 2021, 18:44
Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 pada tenaga kesehatan berusia lanjut di Rumah Sakit Moehammad Hoesin (RSMH) Palembang, Sumatra Selatan, Selasa (9/2/2021). Pelayanan vaksi untuk tenaga kesehatan bersua diatas 60 tahun dimulai pasca dikeluarkannya izin
ANTARA FOTO/Feny Selly/rwa.
Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 pada tenaga kesehatan berusia lanjut di Rumah Sakit Moehammad Hoesin (RSMH) Palembang, Sumatra Selatan, Selasa (9/2/2021). Pelayanan vaksi untuk tenaga kesehatan bersua diatas 60 tahun dimulai pasca dikeluarkannya izin oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tentang penggunaan vaksin Covid-19 untuk lansia.

Sebanyak 1.060.326 tenaga kesehatan di 34 provinsi di Indonesia telah disuntik vaksin Covid-19 hingga Sabtu, 13 Februari 2021. Jumlah itu bertambah 43.140 dibandingkan hari sebelumnya.

Menurut data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, dari total 1.060.326 tenaga kesehatan yang disuntikkan dosis pertama vaksin, 415.486 orang di antaranya juga telah menerima dosis kedua.

Sasaran vaksinasi bagi tenaga kesehatan di Tanah Air yang ditargetkan menerima vaksin Covid-19 sebanyak 1.468.764 orang.

Pemerintah menargetkan akan melakukan vaksinasi Covid-19 terhadap 181.554.465 penduduk Indonesia atau sekitar 70% dari total populasi. Hal itu dilakukan untuk mencapai kekebalan kelompok atau "herd immunity".

Proses vaksinasi tahap pertama menyasar tenaga kesehatan dan akan disusul vaksinasi terhadap petugas layanan publik.

Berikut Databoks cakupan vaksinasi Covid-19 di Indonesia, dibandingkan negara lain di Asia: 

Vaksinasi Menurut Klaster

Juru bicara vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan pelaksanaan vaksinasi per klaster bagi masyarakat umum ditujukan untuk meningkatkan efektivitas sebuah vaksin.

"Jangan sampai vaksin sudah disebar luas, tapi ternyata efek yang kita harapkan, yakni menurunkan angka sakit, kematian dan menciptakan kekebalan komunal malah tidak tercapai," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Sabtu.

Sebagai contoh, bila vaksinasi hanya dilakukan sekitar 10% kepada sebuah daerah dengan jumlah penduduk yang padat, maka tidak akan efektif untuk mencapai kekebalan kelompok. Oleh sebab itu, pemerintah mengubah strategi sasaran vaksinasi dengan menentukan atau memfokuskan klaster mana yang perlu terlebih dahulu mendapatkan vaksin.

Berdasarkan peta jalan, vaksinasi bagi masyarakat umum rencananya akan dimulai pada April 2021. Nantinya, Kementerian Kesehatan bersama pemerintah daerah berkoordinasi terkait klaster mana yang paling mendesak untuk mendapatkan vaksin.

Siti mengatakan, pelaksanaan vaksinasi secara klaster berarti pemerintah berupaya menyelesaikan vaksinasi secara populasi. Hal ini dinilainya lebih efektif dari pada memberikan dosis vaksin kepada masyarakat namun tidak mencapai target yang diharapkan. "Pendekatannya per wilayah, jadi satu wilayah kita bereskan," ujar dia.

Siti Nadia mengatakan vaksinasi per klaster juga atas dasar pertimbangan ketersediaan vaksin di Tanah Air.

Terkait sasaran vaksinasi kepada 181,5 juta masyarakat di Tanah Air, pada awalnya ditargetkan selesai pada Maret 2022. Namun, Presiden meminta sasaran vaksinasi tersebut bisa dirampungkan selama satu tahun saja.

Sementara program vaksinasi berjalan, masyarakat juga diimbau untuk tetap menjalankan protokol Kesehatan. Karena, kunci utama memutus mata rantai penyebaran virus corona adalah Gerakan 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait