Harga Minyak Naik ke Level Tertinggi dalam Setahun Terakhir

Kenaikan harga minyak ditopang oleh harapan stimulus yang akan digelontorkan oleh Presiden Joe Biden dan vaksinasi Covid-19.
Pingit Aria
13 Februari 2021, 17:36
Petugas beraktifitas di sekitar Rig (alat pengebor) elektrik D-1500E di Daerah operasi pengeboran sumur JST-A2 Pertamina EP Asset 3, Desa kalentambo, Pusakanagara, Subang, Jawa Barat, Selasa (4/2/2020). Pertamina EP menargetkan produksi minyak pada tahun
ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar
Petugas beraktifitas di sekitar Rig (alat pengebor) elektrik D-1500E di Daerah operasi pengeboran sumur JST-A2 Pertamina EP Asset 3, Desa kalentambo, Pusakanagara, Subang, Jawa Barat, Selasa (4/2/2020). Pertamina EP menargetkan produksi minyak pada tahun 2020 sebesar 85.000 barel per hari (BOPD) dan gas 932 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Harga minyak mentah dunia naik lebih dari 2% pada akhir perdagangan Jumat (12/2), waktu AS. Harga minyak berhasil menyentuh level tertingginya dalam satu tahun terakhir setelah sempat merosot di era pandemi Covid-19.

Kenaikan harga minyak ditopang oleh harapan stimulus yang akan digelontorkan oleh Presiden Joe Biden untuk mendorong roda ekonomi Negeri Paman Sam. Harga minyak juga terdorong permintaan bahan bakar di tengah pengetatan pasokan akibat pemangkasan produksi oleh negara-negara penghasil utama.

Mengutip Antara, Sabtu (13/12), harga minyak mentah berjangka Brent pengiriman April naik US$ 1,29 atau 2,1% jadi US$ 62,43 per barel. Ini level tertinggi kedua setelah mencapai US$ 62,83 per barel sejak 22 Januari 2020.

Sementara, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret meningkat US$ 1,23 atau 2,1% menjadi US$ 59,47 per barel. Ini juga merupakan level tertinggi kedua usai puncaknya US$59,82 per barel, sejak 9 Januari 2020 lalu.

"Harapan stimulus AS dan kemajuan vaksin corona kemungkinan akan mempertahankan selera pasar terhadap aset-aset berisiko dan pada akhirnya meningkatkan permintaan ke pasar minyak," kata Presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois, Jim Ritterbusch.

Simak Databoks berikut: 

Diketahui, harga minyak telah meningkat selama beberapa pekan terakhir, terutama setelah pengurangan produksi minyak dari OPEC+. Analis Capital Economics menyebut, kebijakan ini membuat stok minyak di pasaran, terutama AS, merosot.

"Kami mengantisipasi persedian akan turun lebih lanjut tahun ini karena permintaan bahan bakar transportasi meningkat seiring dengan pelonggaran pembatasan perjalanan terkait virus corona," demikian dikutip dari keterangannya.

Bagaimanapun, Badan Energi Internasional (IEA) menyebut pasokan minyak saat ini masih melebihi permintaan global. Meski, kesuksesan vaksinasi Covid-19 diharapkan bisa mendukung pemulihan permintaan. "Laporan IEA melukiskan gambaran yang lebih pesimis ketimbang perkiraan pelaku pasar," tulis Commerzbank.

Data permintaan dari importir minyak terbesar dunia juga memberi gambaran suram. Jumlah orang yang melakukan perjalanan di Tiongkok pada liburan Imlek anjlok 70% dari dua tahun sebelumnya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait