Krisis Sapi di Australia, Harga Daging Terus Naik Jelang Ramadan

Harga daging sapi diperkirakan akan semakin tinggi seiring naiknya permintaan saat Ramadan hingga Lebaran.
Image title
5 April 2021, 13:51
Penjual daging melayani pembeli di Pasar Induk Rau Serang, Banten, Kamis (1/4/2021). Sejak dua hari lalu harga daging sapi di Serang naik dari Rp110 ribu menjadi Rp120 ribu per kilogram akibat pasokan berkurang.
ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/hp.
Penjual daging melayani pembeli di Pasar Induk Rau Serang, Banten, Kamis (1/4/2021). Sejak dua hari lalu harga daging sapi di Serang naik dari Rp110 ribu menjadi Rp120 ribu per kilogram akibat pasokan berkurang.

Harga daging sapi mengalami kenaikan di sejumlah pasar tradisional menjelang Ramadan. Salah satu penyebabnya, Australia yang merupakan Pemasok daging Indonesia mengalami krisis sapi.

Data dalam situs infopangan.go.id, secara nasional harga daging sapi kualitas 1 hari ini mencapai Rp 123.250 dari normalnya di kisaran Rp 100.000 per kilogram. Sementara harga daging sapi kualitas 2 sebesar Rp 113.850.

Jika sekarang saja harganya sudah naik, bagaimana nanti pada Ramadan dan Lebaran, saat permintaan daging meningkat? Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Syailendra memprediksi harga daging sapi masih mungkin naik.

"Terkait harga, kami pernah berdiskusi dengan Pak Asnawi (Ketua Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pedagang Daging Indonesia/APDI), mohon bisa Rp 135.000 per kilogram," kata Syailendra dalam webinar HIPMI, pekan lalu.

Impor masih harus dilakukan karena produksi daging sapi di dalam negeri  cenderung menurun. Simak Databoks berikut: 

Krisis sapi di Australia menjadi salah satu penyebab naiknya harga daging sapi di Indonesia. Dikutip dari ABC News, harga daging sapi yang siap dikapalkan dari Pelabuhan Darwin kini mencapai AU$ 4,3 atau sekitar Rp 47.500 per kilogram. Angka itu naik hingga 65% dibandingkan April tahun lalu.

Penyebab tingginya harga daging di Australia adalah kekeringan panjang yang sempat menyebabkan kebakaran hutan pada tahun lalu. Akibatnya, banyak peternakan terganggu.

Jumlah sapi hidup di Australia kini sekitar 28 juta ekor, angka terendah sejak 1990. Australia yang merupakan eksportir sapi terbesar kedua di dunia setelah Brasil pun terancam tergeser kedudukannya oleh Amerika Serikat dan India.

“Kami harus meningkatkan angka produksi agar tidak kehilangan pangsa pasar ekspor,” kata Matt Dalgleish, Manager Riset Komoditas di Thomas Elder Markets, dikutip Bloomberg.

Masalahnya, upaya reproduksi itu perlu waktu lebih lama karena ada banyak sapi betina yang dipotong untuk memenuhi kebutuhan industri.

Pemerintah pun berupaya mencari alternatif impor. Salah satunya, dengan mendatangkan daging kerbau dari India.

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Menteri Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan rencana impor empat komoditas bahan pangan pokok untuk menjaga ketersediaannya di masyarakat menjelang Ramadan dan hari raya Idul Fitri. Keempatnya yaitu bawang putih, daging sapi/kerbau, gula, dan kedelai.

“Dari 12 komoditas pangan pokok, bawang putih, daging sapi/kerbau, gula, dan kedelai menjadi perhatian khusus dari kami,” kata Mentan Syahrul pada rapat kerja dengan Komisi IV DPR bersama dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, terkait persiapan dan ketersediaan pangan menghadapi Ramadan dan hari besar keagamaan, beberapa waktu lalu.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Pingit Aria
Video Pilihan

Artikel Terkait