Penggumpalan Darah Akibat Rokok Lebih Tinggi dari Vaksin AstraZeneca

Risiko penggumpalan darah akibat vaksin AstraZeneca hanya 4 kejadian dari 1 juta orang yang disuntik.
Image title
18 Juni 2021, 18:22
vaksin astrazeneca, vaksin penggumpalan darah, efek vaksin
ANTARA FOTO/Siswowidodo/foc.
Petugas menyiapkan vaksin COVID-19 AstraZeneca saat vaksinasi bagi warga lanjut usia (lansia) dan pedagang pasar di balai Kelurahan Nambangan Lor, Kota Madiun, Jawa Timur, Rabu (9/6/2021).

Pemerintah memastikan vaksin Oxford-AstraZeneca aman untuk digunakan. Juru Bicara Vaksin Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, sebuah penelitian menunjukkan risiko penggumpalan darah setelah divaksin AstraZeneca hanya 4:1 juta.

"Jadi setelah suntik 1 juta orang, baru dapat 4 orang yang mengalami penggumpalan darah," kata Nadia dalam Katadata Forum Virtual Series Amankah Vaksin AstraZeneca untuk Gen-Z dan Milenial?, Jumat (18/06).

Menurutnya, risiko itu jauh lebih rendah dibandingkan perokok aktif dan pengguna pil KB. Risiko penggumpalan darah pada orang yang merokok mencapai 2 ribu kejadian per 1 juta penduduk. Sementara, pengguna pil KB memiliki risiko penggumpalan darah 500 kejadian per 1 juta orang.

Advertisement

Hal itu menunjukkan, risiko kematian akibat penggumpalan darah akibat vaksin AstraZeneca jauh lebih rendah dibandingkan kematian akibat Covid-19 itu sendiri. "Manfaat vaksin jauh lebih besar," ujar dia.

Meski begitu, ia tetap mengakui ada efek setelah vaksinasi. Namun, efek samping itu bisa dicegah apabila ditangani dengan segera.

Selama ini, masih ada sejumlah orang yang terlambat melaporkan efek samping yang dialami setelah vaksinasi. Nadia pun mengingatkan, orang yang mengalami Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) perlu segera mengonsumsi obat sesuai dengan gejala yang dialami, seperti penurun demam hingga pereda sakit kepala. "Kalau masih tidak tahan, langsung ke fasilitas kesehatan," ujar dia.

Nadia pun menekankan bahwa vaksin AstraZeneca aman digunakan.  Sejauh ini, sudah ada 171 negara yang menggunakan vaksin asal Inggris tersebut. 

Sementara itu, kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Simak Databoks berikut: 

Selain itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) hingga Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tetap memantau penggunaan vaksin tersebut. "Kalau risiko lebih besar dari manfaat, pasti BPOM evaluasi dan kami mengubah kebijakan," katanya. 

Adapun, penggunaan vaksin AstraZeneca saat ini tengah dipercepat di DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung Raya, Kudus, dan Bangkalan. Sebab, daerah tersebut tengah memiliki risiko penularan Covid-19 yang tinggi.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Retno L. P. Marsudi menyatakan saat ini Indonesia menggunakan tiga jenis vaksin, yaitu Sinovac, AstraZeneca, dan Sinopharm. “Ketiga jenis vaksin tersebut, semuanya telah memperoleh Emergency Use Listing atau EUL dari WHO,” ujarnya.

Hal ini, lanjutnya, menunjukkan bahwa vaksin yang dipakai di Indonesia telah memenuhi persyaratan internasional dalam hal kualitas, keamanan dan efektivitasnya untuk digunakan pada masa darurat kesehatan.

Sementara itu, meski vaksinasi Covid-19 telah berjalan, masyarakat diimbau untuk tetap menjalankan protokol Kesehatan. Sebab, Gerakan 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun terbukti mencegah penularan virus corona.

Reporter: Rizky Alika
Editor: Pingit Aria

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait