Kasus Covid-19 Kembali Naik, Thailand Berlakukan Pembatasan di Bangkok

Pemerintah Thailand menghindari penggunaan kata lockdown karena tidak ingin dianggap menghambat bisnis yang telah lebih dari setahun terpukul pandemi.
Image title
28 Juni 2021, 11:31
Athit Perawongmetha Seorang dokter melepas peralatan perlindungan pribadinya (APD) setelah merawat pasien yang menderita penyakit virus corona (COVID-19) di Unit Perawatan Intensif (ICU) di Rumah Sakit Memorial King Chulalongkorn di Bangkok, Thailan
ANTARA FOTO/REUTERS/Athit Perawongmetha/WSJ/sa.
Athit Perawongmetha Seorang dokter melepas peralatan perlindungan pribadinya (APD) setelah merawat pasien yang menderita penyakit virus corona (COVID-19) di Unit Perawatan Intensif (ICU) di Rumah Sakit Memorial King Chulalongkorn di Bangkok, Thailand, Sela(11/5/2021). Gambar diambil pada (11/5/2021).

Thailand mengumumkan aturan pembatasan baru pada Minggu (27/6), yang berpusat di Bangkok. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengatasi pandemi Covid-19 yang kembali memburuk di negara tersebut.

Dilansir dari Reuters, menurut sebuah dokumen yang diterbitkan dalam lembaran kerajaan, langkah-langkah baru yang akan diterapkan selama 30 hari mulai Senin (28/6). Kegiatan yang dilarang termasuk untuk makan di restoran di Bangkok dan lima provinsi sekitarnya, yakni Nonthaburi, Pathum Thani, Samut Praka, Samut Sakhon dan Nakhon Pathom.

Selain itu, pusat perbelanjaan di Bangkok dan lima provinsi sekitarnya harus tutup pada pukul 21.00 waktu setempat. Pesta dan perayaan atau kegiatan yang melibatkan lebih dari 20 orang juga dilarang.

Selain itu, lokasi konstruksi dan mess pekerja di enam area akan ditutup. Perintah itu menyusul munculnya lebih banyak klaster di mess pekerja konstruksi di ibu kota, di mana ada 575 lokasi yang menampung sekitar 81.000 pekerja.

Advertisement

Sejak Mei, sebanyak 37 klaster telah ditemukan di lokasi-lokasi kamp pekerja di Bangkok. Pihak berwenang akan mendirikan pos pemeriksaan di Bangkok dan lima provinsi sekitarnya untuk membatasi perjalanan dan relokasi pekerja konstruksi. Selain itu, akan ada pos pemeriksaan di empat provinsi selatan Thailand atau yang dekat Malaysia.

Simak Databoks berikut: 

Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha mengatakan, pada Jumat (25/6) bahwa dia ingin menghindari kata lockdown. Ia pun tidak ingin dianggap menghambat bisnis dan kegiatan tertentu demi menekan laju penularan.

Dilansir dari Straits Times pada Senin (28/6)kebijakan pembatasan baru ini terjadi jelang peluncuran bebas karantina untuk para turis yang telah divaksinasi di pariwisata populer Phuket. Aturan tersebut akan berlaku pada 1 Juli 2021 mendatang.

Layanan 'Phuket Sandbox' itu disebut sebagai upaya pemerintah menghidupkan kembali industri pariwisata penting dan sektor terkait, seperti pelayanan, restoran dan transportasi di Thailand.

Prayuth mengatakan, pemerintah Thailand sedang mempercepat laju vaksinasi, agar pemerintah tidak harus mengambil langkah lockdown yang disebutnya akan menghambat pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

Mengutip Our World in Data, Thailand saat ini sudah memvaksin 9,2% dari jumlah penduduknya, dan 3,7% di antaranya sudah mendapat vaksin dosis lengkap. Pada Minggu (27/6), Thailand melaporkan 3.995 infeksi baru dalam 24 jam terakhir. Dengan demikian, kasus kumulatif sejak pandemi mencapai 244.447 kasus. Adapun, total kematian mencapai 1.900 dengan penambahan 42 kematian baru.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait