Startup Fintech atau Travel Berpeluang jadi Unicorn Kelima Indonesia

Volume transaksi beberapa startup penyedia jasa pembayaran digital dan agen tiket online dinilai berpeluang melahirkan unicorn.
Desy Setyowati
19 Februari 2019, 18:55
OVO
OVO
Sistem pembayaran OVO telah menjangkau 9.000 mitra UKM (24/8).

Setelah Gojek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak, startup unicorn kelima diprediksi bakal lahir di Indonesia tahun ini. Startup financial technology (fintech) dan penyedia jasa perjalanan (online travel agent/OTA) dinilai paling berpeluang menjadi unicorn.

Sebab, nilai transaksi melalui platform fintech, khususnya bidang pembayaran sangat besar. "Syarat untuk menjadi unicorn itu nilai dan frekuensi transaksi besar, serta jangkauan konsumen luas," ujar Ketua Asosiasi E- Commerce (idEA) Ignatius Untung di Jakarta, Selasa (19/2).

Fintech pembayaran yang menurutnya paling mendekati valuasi US$ 1 miliar adalah PT Dompet Anak Bangsa (Go-Pay); PT Visionet Internasional (OVO); aplikasi besutan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), TCash; dan aplikasi uang elektronik besutan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek) dan Ant Financial (Alipay), DANA.

Namun, Go-Pay termasuk dalam ekosistem Gojek yang sudah menjadi unicorn. Sementara itu, Direktur OVO Johnny Widodo menyebut bahwa perusahaannya sudah menjadi unicorn. Walaupun, pernyataan itu kemudian ditepis oleh Direktur OVO lainnya, Harianto Gunawan.

Advertisement

(Baca: Sanggah Klaim Prabowo, JK: Investasi Unicorn Ciptakan Lapangan Kerja)

Lalu, TCash saat ini dalam proses penggabungan dengan fintech pembayaran besutan bank milik negara, untuk menjadi LinkAja. "Yang besar itu OVO dan Go-Pay. Lalu, TCash dan DANA jaraknya tidak ketinggalan," kata Ignatius.

Adapun Go-Pay sudah menggandeng 300 ribu mitra, yang 40% di antaranya merupakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). OVO menyebut sudah memiliki 500 ribu mitra, yang 230 ribu di antaranya merupakan UMKM.

Lalu, salah satu OTA yakni Traveloka sudah menjadi unicorn. Traveloka telah mempekerjakan lebih dari 500 engineer di tujuh negara, yakni Indonesia, India, Thailand, Malaysia, Singapore, Vietnam, dan Filipina. Traveloka juga sudah menggandeng lebih dari 100 maskapai penerbangan, serta 85 mitra bus dan travel di Indonesia.

Ignatius menilai, bisnis ini mengelola transaksi yang cukup besar. "Sektor pertiketan volumenya besar. Kami lihat ada pemain yang meningkat. Saya melihat, dua tahun ke depan akan ada 2-3 unicorn baru," kata dia.

(Baca: Asosiasi Tepis Kekhawatiran Prabowo Soal Unicorn Dikuasai Asing)

Sementara di bidang marketplace, menurutnya agak sulit untuk menjadi unicorn. Sebab, pemainnya sudah sangat banyak sehingga butuh dana yang besar untuk menjadi unicorn. "Tantangannya (untuk jadi unicorn) adalah penetrasi besar dan menemukan produk baru," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara memproyeksikan ada tambahan unicorn dari dua sektor baru yakni pendidikan dan kesehatan. Sebab, kedua sektor itu punya peluang besar sebab ada gelontoran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di sana.

 

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait