Kominfo Siapkan Rp 75 Miliar untuk Dukung Pemilu 2019

DPR meminta Kominfo agar mengoptimalkan program untuk mengantisipasi hoaks dan konten negatif di media sosial.
Desy Setyowati
18 Januari 2019, 12:07
ilustrasi Berita Hoax/Palsu
Katadata

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menggunakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 75 miliar untuk mendukung Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Salah satunya, digunakan untuk menangkal informasi palsu atau hoaks.

PNBP itu diperoleh dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Rp 153,5 miliar dan Ditjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika (PPI) Rp 30,9 miliar.

"Sebanyak Rp 75 miliar dialihkan ke Ditjen Informasi Komunikasi Publik (IKP) untuk mendukung Pemilu 2019," kata Menteri Kominfo Rudiantara di Gedung DPR di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (16/1).

Setidaknya ada empat langkah Kementerian Kominfo untuk mendukung Pemilu 2019. Pertama, meningkatkan kesadaran dan pendidikan politik masyarakat muda pada Januari-Februari 2019. Kedua, mengajak publik untuk berpartisipasi aktif dalam pemilu, selama Februari-April 2019. 

Advertisement

(Baca: Jokowi Tegaskan Tak Punya Konflik Kepentingan dan Beban Masa Lalu)

Ketiga, mendorong masyarakat supaya menggunakan haknya terkait pemilu pada 17 April 2019. Keempat, turut menjaga kebhinnekaan pasca pemilu selama April-Oktober 2019. "Kami bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu)," ujarnya.

Namun, Wakil Ketua Komisi I DPR Satya Widya Yudha meminta agar Kementerian Kominfo mengoptimalkan program untuk mengantisipasi hoaks dan konten negatif di media sosial. "Hal ini supaya tidak memicu keresahan di masyarakat," kata dia.

Apalagi, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu menyampaikan, bahwa di awal tahun ini sudah ada 10 hoaks terkait Pemilu. Adapun salah satunya adalah hoaks tujuh kontainer berisi surat suara yang sudah dicoblos.

Sepanjang 2018, Kementerian Kominfo sudah menangani 196,8 ribu konten negatif. Paling banyak terjadi di Facebook dan Instagram yakni 9.508 konten. Lalu, di Twitter sebanyak 6.563 konten serta Google dan Youtube 1.980 konten.

(Baca: Perang Cuitan di Twitter, #RakyatSudahMuak Jadi Perhatian Warganet )

Secara keseluruhan, sejak 2015 hingga 2018, sebanyak 984,4 ribu konten sudah ditangani. Konten negatif itu terdiri dari Twitter 531,3 ribu; Facebook dan Instagram 11,7 ribu; serta, Google dan Youtube 3.287 konten.

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait