WhatsApp Tutup Ratusan Ribu Akun Jelang Pemilu di Brasil

WhatApp dituduh sebagai media penyebaran hoaks politik.
Pingit Aria
22 Oktober 2018, 16:39
WhatsApp
PXHERE.COM
Ilustrasi WhatsApp

Whatsapp menutup ratusan ribu akun penyebar spam dan hoaks politik menjelang Pemilu di Brasil. Dengan sistem enkripsi yang diterapkan, WhatsApp kesulitan mengontrol peredaran pesan antara pengguna pada platform-nya.

“Kami menggunakan teknologi untuk mendeteksi spam dan mengidentifikasi akun-akun dengan perilaku yang abnormal agar mereka tak lagi bisa disalahgunakan untuk menyebarkan berita palsu,” kata perwakilan WhatsApp kepada Bloomberg, 20 Oktober 2018 lalu.

Pemilu Brasil akan digelar pada 28 Ooktober 2018, di mana politisi sayap kanan Jair Bolsonaro akan menghadapi perwakilan dari Partai Buruh, Fernando Haddad. Sebagaimana dikutip Reuters, Minggu (21/10), Haddad menuding kubu Bolsonaro, telah membanjiri WhatsApp dengan sederetan berita palsu yang membuat pemilih resah. Tentu hal ini dibantah oleh kubu Bolsonaro.

Di Brasil, WhatsApp memiliki lebih dari 120 juta pengguna. Sementara, jumlah penduduk di sana mencapai 210 juta jiwa.

Advertisement

Tak hanya itu, Brasil juga menjadi salah satu pasar penting bagi perusahaan induk WhatsApp, yakni Facebook. Maka, maraknya fake news dan hoaks di platform tersebut jadi perhatian serius.

(Baca juga: Path, Google+ hingga Friendster Tumbang, Tak Ada Yang Saingi Facebook)

Pada putaran pertama pemilu, 7 Oktober lalu, media sosial berperan besar dalam menentukan suara. Sebab, bagi Bolsonaro yang hanya memiliki sedikit akses ke kampanye dan iklan TV, media sosial jadi jawaban untuk membantunya memenangkan 46% suara.

Perusahaan polling Datafolha menemukan, dua pertiga dari pemilih Brasil menggunakan WhatsApp. Pendukung Bolsonaro cenderung lebih mengikuti berita politik di WhatsApp dengan persentase 61%. Sementara pendukung Haddad yang mengikuti berita politik lewat WhatsApp hanya 38%.

Di WhatsApp, ratusan orang bisa masuk dalam grup obrolan. Di sana, mereka bisa saling bertukar informasi, dari teks, foto, hingga video. Sayangnya, otoritas Pemilu Brasil tak bisa mengontrol jenis kampanye di dalam obrolan WhatsApp yang terenkripsi.

Dari berita palsu yang beredar, banyak yang menggambarkan Haddad sebagai seorang komunis dan berpotensi mengubah Brasil menjadi negara komunis seperti Kuba. Sebaliknya, ada juga yang menyebarkan isu bahwa jika Haddad menang, akan lebih banyak anak-anak yang mengarah ke homoseksual, hingga berbagai informasi palsu lainnya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait