Go-Jek Dikabarkan Hadir di Singapura Akhir Bulan Ini

Untuk masuk Singapura yang melarang ojek, Go-Jek berencana menggandeng operator taksi ComfortDelGro.
Desy Setyowati
4 Oktober 2018, 08:54
Gojek
Arief Kamaludin|Katadata
Foto replika pendiri dan CEO Go-Jek Indonesia, Nadiem Makarim, di salah satu stand pamer Gojek.

Perusahaan penyedia layanan on-demand, Go-Jek dikabarkan hadir di Singapura pada bulan ini. Saat ini, Go-Jek masih melanjutkan lobi dengan ComfortDelGro, operator taksi terbesar di Singapura yang sempat berkolaborasi dengan Uber.

Kerja sama dengan ComfortDelGro, jika disepakati, bisa menjadi jalan pembuka bagi Go-Jek untuk memasuki pasar Singapura. Sebab, pemerintah Singapura melarang kendaraan roda dua sebagai transportasi umum.

"Mungkin juga (Go-Jek akan) meluncurkan layanan berbagi tumpangan dengan kendaraan roda empat untuk menyaingi Grab," demikian kata sumber TechCrunch, Rabu (3/10).

Pasar layanan on-demand di Singapura memang tak sebesar Indonesia, Thailand, Vietnam, maupun Filipina. Namun, karena kantor pusat Grab berada di sana, maka Singapura menjadi penting pula bagi Go-Jek. "Singapura, pasar yang jauh lebih kecil tetapi sangat simbolis," demikian dikutip.

Advertisement

(Baca juga: Persaingan Go-Jek dan Grab Melebar ke Bisnis Konten dan Investasi)

Adapun Grab yang didirikan di Malaysia memang memindahkan kantor pusatnya ke Singapura. Kini, valuasi Grab yang telah beroperasi di delapan Negara ditaksir mencapai US$ 11 miliar, sementara Go-Jek baru US$ 5 miliar.

Go-Jek sendiri dikabarkan tengah menjajaki pendanaan baru senilai US$ 2 miliar atau sekitar Rp 29,6 triliun. Tambahan pendanaan ini untuk menopang rencana ekspansi Go-Jek ke empat negara yakni Vietnam, Thailand, Filipina, dan Singapura.

Investor lama Go-Jek, yakni Tencent Holdings Ltd., Temasek Holdings Pte, dan Warburg Pincus dikabarkan bakal kembali masuk ke putaran pendanaan baru ini. "Rencananya putaran pendanaan akan dilakukan dalam beberapa minggu," demikian dikutip dari Bloomberg, beberapa waktu lalu (16/9).

Managing Director Monk’s Hill Ventures Kuo-Yi Lim menilai, langkah ini merupakan upaya Go-Jek menjegal Grab di pasar Asia Tenggara. Apalagi, Go-Jek memang menargetkan tambahan modal sebesat US$ 3 miliar atau Rp 44,4 triliun sepanjang 2018. "Ada perlombaan yang sedang berlangsung dalam penggalangan modal dua seteru ini," ujarnya.

(Baca juga: Go-Jek Gaet 3 Fintech Baru guna Perkuat Segmen Kredit)

Ia berpandangan, persaingan di antara Go-Jek dan Grab bukan lagi hanya memperluas pasar. Melainkan, keduanya mulai fokus mengembangkan beragam layanan sehingga menjadi aplikasi yang dibutuhkan setiap hari seperti berbelanja, pembayaran, hingga fasilitas kredit.

Sinyal pencarian tambahan modal baru itu pun disampaikan oleh Presiden Go-Jek Andre Soelistyo. "Kami sedang membangun kekuatan bisnis yang benar-benar ingin membuat perubahan di Indonesia dan ekspansi di Asia Tenggara," ujar dia dalam panel Milken Institute Asia Summit, akhir pekan lalu.

(Baca juga: Grab Siapkan Rp 3 Triliun untuk Investasi ke Startup)

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait