Pemerintah Tunda Kewajiban E-Commerce Jual 80% Barang Lokal

Sebagai gantinya, Kementerian Perdagangan dan para pengusaha e-commerce akan membuat platform khusus untuk jual-beli online produk IKM.
Desy Setyowati
22 Februari 2018, 17:57
Ilustrasi Harbolnas 2016
Arief Kamaludin|Katadata

Wacana pemerintah untuk mewajibkan e-commerce jual 80% produk lokal tak akan terwujud dalam waktu dekat. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyadari bahwa masih banyak hal yang harus dipersiapkan.

Enggar menyatakan, pemerintah tidak ingin membuat Industri Kecil dan Menengah (IKM) kewalahan untuk memenuhi permintaan konsumen lantaran adanya target tersebut. "Nanti shock, dari 10% jadi 50% saja itu shock. Enggak bisa kami buat ketentuan yang menganggetkan dan mengganggu,” kata Enggar saat konferensi pers di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (22/2).

Enggar menyatakan, pemerintah tetap akan mendorong e-commerce untuk menjual produk lokal. Namun, kebijakan itu tak akan dipaksakan, sehingga mengganggu keberlangsungan bisnis mereka.

“Nanti kami sepakati tahapannya, kurun waktu berapa lama. Tapi dimulai dari kepedulian marketplace semua dulu (untuk menjual produk lokal)," kata dia.

Advertisement

(Baca juga: Pemodal Asing E-Commerce Dikhawatirkan Dongkrak Impor)

Selain itu, Kementerian Perdagangan dan perusahaan-perusahaan e-commerce akan membuat platform jual beli khusus untuk Industri Kecil dan Menengah (IKM). Platform itu akan memuat fungsi edukasi dan pemasaran.

"Mungkin di Semester I kami akan garap serius, karena bagaimanapun IKM sangat perlu dibantu untuk ini," ujar Ketua Bidang Edukasi Retail Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Mohamad Rosihan pada kesempatan yang sama.

Dalam fungsi edukasi, Kemendag dan e-commerce bakal menyediakan artikel seputar perdagangan online. Di sana, IKM dapat mempelajari berbagai hal, seperti membuat foto dan keterangan produk yang dapat lebih menarik pembeli .

(Baca juga:  Mendag Tuding Blibli.com Jual 90% Produk Asing)

Sementara, Head of Online Marketing Lazada Indonesia Haikal Bekti Anggoro menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada definisi mengenai produk lokal dan impor pada platform jual beli online. Sebab, ada produk impor yang dikemas ulang di dalam negeri, sehingga memberi nilai tambah bagi pelaku usaha lokal. "Kami masih bahas mengenai definisi produk lokal," tutur Haikal.

Reporter: Desy Setyowati, Pingit Aria
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait