Indonesia Bisa Jadi Negara Ekonomi Terbesar ke-4 Dunia pada 2050

Industri kreatif perlu didorong untuk meningkatkan nilai tambah dalam suatu produk.
Pingit Aria
5 Desember 2017, 19:20
Chatib Basri
Bekraf
Chatib Basri dalam persiapan World Conference on Creative Economy (WCCE) 2018 di Bandung, Selasa (5/12).

Pertumbuhan yang stabil dinilai dapat membuat Indonesia menempati posisi ke-4 negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2050 nanti. Jika itu terjadi, mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menyebut, posisi Indonesia hanya akan ada di bawah Tiongkok, India dan Amerika Serikat.

Chatib menyatakan, pada 2016 Indonesia masih menempati peringkat ekonomi ke-8 di dunia. Namun, proyeksinya atas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan cenderung meningkat setiap tahun didukung oleh kenaikan kelas menengah di Indonesia.

Ia menyebut, ada 38 juta kelas menengah baru yang lahir antara tahun 2002 hingga 2016. Di mana, pertumbuhan ekonomi mereka meningkat sekitar 10% tiap tahun. “Ini berarti menyumbang sekitar 20% pertumbuhan seluruh populasi yang ada saat ini,” kata Chatib dalam persiapan World Conference on Creative Economy (WCCE) 2018 di Bandung, Selasa (5/12).

(Baca juga: Alibaba Group Siapkan Ekosistem E-Commerce Antarnegara)

Tingginya pertumbuhan kelas menengah, menurut Chatib, akan berdampak bagi pola konsumsi masyarakat secara menyeluruh. Sebab, mereka mampu dan bersedia membayar lebih tinggi untuk produk yang diinginkan, bukan sekedar dibutuhkan.

Dampaknya, industri kreatif akan memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi nantinya. “Sebab, industri kreatif lah yang yang dapat menciptakan nilai tambah dalam suatu produk,” ujarnya.

Sementara, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara melihat sektor jasa akan memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Sektor jasa ini akan maju jika didukung oleh infrastruktur pendukung teknologi informasi yang bagus dan luas.

(Baca: Bahas Ekonomi Kreatif, Bekraf Undang Jack Ma hingga Jeff Bezos ke Bali)

“Dengan makin meningkatnya sektor jasa maka kebutuhan data juga meningkat, oleh karena itu Indonesia sedang membangun Palapa Ring yang akan menghubungkan seluruh kota dan desa di Indonesia,” ujarnya.

Saat ini, dari 13 ribu kepulauan yang ada di Indonesia, jaringan data yang terkoneksi baru mencapai 28 kota dari 58 kota besar di Indonesia. Sementara, kebutuhan data semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Sejak tahun 2005 hingga 2014 terjadi lonjakan penggunaan arus data hingga mencapai 45 kali lipat. “Pada tahun 2005 pemakaian 4.7 terabits per second (Tbps, red) sedangkan pada tahun 2014 meningkat menjadi 211,3 Tbps,” kata Rudiantara.

Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait