Bos Gojek: Transaksi GoFood Kalahkan Pemesanan Makanan Online India

Nadiem Makarim mengklaim volume transaksi GoFood lebih besar dari gabungan empat penyedia jasa sejenis di India.
Dimas Jarot Bayu
27 Oktober 2017, 14:34
Gojek dan 3 Bank
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Menteri Komunikasi dan Telekomunikasi Rudiantara (tengah bersama Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D Hadad (kanan) dan CEO GO-JEK Nadiem Makarim (kiri) berbincang usai menyaksikan penandatanganan kerjasama perluasan akses layanan perb

Chief Executive Officer (CEO) Go-Jek Nadiem Makariem menilai potensi bisnis pesan-antar kuliner berbasis elektronik di Indonesia cukup besar. Menurutnya, saat ini volume pemesanan makanan online di Indonesia sudah mengalahkan India dan akan menyusul Tiongkok yang jumlah penduduknya jauh lebih besar.

Nadiem menyebut, ada empat pemain besar di bisnis pemesanan makanan online di India yang jumlah penduduknya 1,3 miliar jiwa. “Empat pemain food delivery itu jika digabungkan, volumenya tidak sampai ke transaksi harian Go-Food," kata Nadiem di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (26/10).

Go-Food merupakan fitur pesan-antar kuliner yang ada dalam aplikasi Go-Jek. Melalui fitur ini, pengguna dapat memesan makanan atau minuman dari ribuan warung hingga restoran yang bermitra dengan Go-Jek. Dengan tarif tertentu yang juga dapat dibayar nontunai dengan Go-Pay, mitra pengemudi Go-Jek kemudian akan mengantarkan pesanan langsung ke alamat pemesan.

Nadiem juga mengklaim angka transaksi Go-Food hampir menyamai dengan rata-rata jasa pesan-antar kuliner di Tiongkok. Padahal, lanjut Nadiem, jumlah penduduk dan  Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih berada di bawah Negeri Tirai Bambu.

Menurut Nadiem, kondisi ini menandakan potensi pasar, baik di sektor makanan maupun industri digital yang cukup besar. Salah satu penyebabnya, kata dia, karena banyak masyarakat Indonesia yang gemar makan. "Bukan karena Go-Food hebat banget, tapi konsumen Indonesia yang suka makan," kata Nadiem.

Menurutnya, ada pergeseran preferensi masyarakat dari pembelian barang menjadi pengalaman. "Orang beli makanan karena experience, ingin cobain, ingin kumpul, makan, nonton film," kata dia.

Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait