Bangun 10 SPBU Baru, Shell Kaji Pemasangan Dispenser Gas

Pembangunan satu SPBU baru membutuhkan dana sekitar Rp 10-13 miliar, belum termasuk pembebasan lahan.
Miftah Ardhian
Oleh Miftah Ardhian
28 Agustus 2017, 16:55
SPBU Shell Cikini
Arief Kamaludin | Katadata
SPBU Shell Cikini

PT Shell Indonesia tengah mengkaji rencana pemasangan fasilitas dispenser gas di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang dimilikinya. Selain itu, Shell juga berencana untuk menambah jumlah SPBU nya sebanyak maksimal 10 unit hingga akhir tahun ini.

"Kami lakukan assesment terhadap infrastruktur kami yang terhubung dengan jaringan gas," ujar Wahyu saat acara temu media di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Senin (28/8).

Direktur Ritel PT Shell Indonesia dan Cluster GM Ritel Indonesia, Singapura, Hongkong, Wahyu Indrawanto tengah berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait kewajiban pemasangan dispenser gas di SPBU di wilayah tertentu. Begitu pula dengan jumlah kebutuhan domestik akan bahan bakar gas tersebut.

(Baca juga:  Shell Siap Sediakan BBM Euro 4 di Indonesia)

Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 25 Tahun 2017. Di mana pada Pasal 21 menyebutkan SPBU yang berada di daerah tertentu wajib menyediakan sarana pengisian Compressed natural gas (CNG) minimal satu dispenser. 

Adapun, Shell memiliki 80 SPBU yang tersebar di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Bandung, dan Sumatera Utara.

Sejalan dengan proses tersebut, Shell juga berencana untuk menambah jumlah SPBU nya di wilayah Indonesia. Targetnya, perusahaan migas ini akan menambah  8-10 SPBU hingga akhir tahun 2017 ini.

"Bulan Agustus ini ada dua yang kami buka, pertama di Pondok Cabe Kota Tangerang Selatan dan di dekat Puri Indah, Jakarta Barat," ujar Wahyu.

(Baca: Kilang Balongan Berhasil Produksi BBM Euro 4)

Menurut Wahyu, rata-rata nilai investasi yang dikeluarkan untuk membangun fasilitas pengisian bahan bakar ini berbeda-beda tergantung dari lias tanah dan luas bangunan yang akan dibangun. Selain itu, jumlah dispenser juga akan mempengatuhi nilai investasi. Namun, dirinya memperkirakan satu SPBU baru membutuhkan biaya Rp 10-13 miliar, belum termasuk pembelian atau penyewaan tanah.

Shell sendiri dalam melakulan ekspansi SPBU ini memiliki dua skema yang diterapkan. Pertama, dengan program kemitraan Dealer Owned Dealer Operate (DODO) di mana mitra membangun dan mengoperasikan SPBU dengan standar layanan Shell.

Kedua, Company Owned Dealer Operated (CODO) yakni Shell yang membeli atau menyewa lahan, membangun SPBU, tetapi mitra nya yang mengoperasikan sebagai retailer. "Tetapi akan dipastikan dari sisi konsumen tidak akan melihat perbedannya," ujar Wahyu.

(Baca: Temui Kalla, Pengusaha Otomotif Bahas Mobil Listrik dan Euro 4)

Wahyu menjelaskan, alasan Shell terus melakukan ekspansi di bisnis hilir ini karena melihat potensi Indonesia yang masih membutuhkan bahan bakar khususnya BBM guna menjadi energi primernya.

Wahyu melihat, penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta lebih menjadi potensi tersendiri dalam penggunaan BBM yang diproyeksikan akan semkain bertambah. "Indonesia sebagai negara besar masih sangat banyak peluangnya," ujarnya.

Reporter: Miftah Ardhian
Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait