Stabilitas Ekonomi Terjaga, BI dan OJK Dorong Optimisme Hadapi 2019

Beberapa indikator, seperti pertumbuhan ekonomi, kinerja perbankan, hingga bursa pada 2018 lalu dinilai positif.
Desy Setyowati
2 Januari 2019, 13:55
Kemeriahan Rangkaian Annual Meeting IMF-WB 2018
Arief Kamaludin | KATADATA
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) bersama Gubernur BI Perry Warjiyo berbincang usai konferensi pers mengenai Annual Meeting IMF-World Bank 2018 di Nusa Dua, Bali, 8 Oktober 2018.

Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim stabilitas ekonomi dan sektor keuangan sepanjang 2018 terjaga baik. Untuk itu, keduanya berkomitmen melanjutkan sinergi menghadapi tahun baru 2019, yang bertepatan dengan pengelenggaraan Pemilu.

Salah satu indikator positifnya stabilitas ekonomi pada tahun lalu adalah pertumbuhan ekonomi yang diproyeksi mencapai 5,2%. Angka tersebut lebih tinggi ketimbang 2017 yang hanya 5,07%. "Kuncinya, sinergi dan optimisme," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo saat silaturahmi dengan OJK di kantornya, Jakarta, Rabu (2/1).

Oleh sebab itu, menurutnya sinergi ini mesti dilanjutkan supaya stabilitas ekonomi tetap terjaga di 2019 atau bahkan lebih baik. "Saya ajak BI dan jajaran OJK mau perkuat sinergi dan optimisme untuk menyongsong 2019 dan tahun-tahun berikutnya dengan kinerja ekonomi yang lebih baik," ujarnya.

(Baca: Perdagangan Perdana Bursa Saham 2019, IHSG Dibuka Naik 0,18%)

Advertisement

Sebelumnya, Perry menyebutkan bahwa rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan mencapai 22,9% pada Oktober 2018 dan rasio likuiditas atau aset likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 19,2% pada Oktober 2018. Lalu, rasio kredit bermasalah (Non Peforming Loan/NPL) sebesar 2,6% gross dan 1,2% nett.

Senada dengannya, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyebut, stabilitas sistem keuangan selama 2018 positif. Misalnya, pertumbuhan kredit perbankan sudah mencapai 13,1% per Oktober 2018. Padahal, pertumbuhan kredit hanya sekitar 8% pada periode sama di 2017.

Pagi ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dibuka menguat ke level 6.200. Ia optimistis IHSG bisa melaju di level 6.500 hingga 7.000 pada 2019. "Di pasar modal, kami katakan boleh angka 20% kenaikan baik (jumlah) emiten maupun dalam nominal," kata Wimboh.

(Baca: Proyeksi Ekonomi 2019: Optimisme Pemerintah vs Pesimisme Lembaga Dunia)

Sepakat dengan Perry, menurut dia stabilitas ekonomi dan sistem keuangan yang terjaga adalah hasil dari sinergi BI dengan OJK. "Kami sinergi dengan BI, Kementerian Keuangan, dan para pengusaha sehingga kami harus tancap gas di pekan pertama 2019," ujar dia. "Sinergi ini pada 2018 kemarin kami bisa berhubungan baik."

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait