Jokowi : Ekonomi Indonesia Sehat, Tapi Belum Bisa Lari Kencang

Jokowi ingin menggenjot investasi dan ekspor di berbagai bidang.
Ameidyo Daud Nasution
5 Januari 2018, 16:21
jokowi
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Presiden Joko Widodo bersiap memimpin rapat terbatas tentang perkembangan implementasi program pengentasan kemiskinan di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (25/7). Presiden menekankan untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di masyarakat dan pelaksan

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki analoginya sendiri menyikapi kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Menurut Jokowi, apabila diibaratkan manusia, ekonomi Indonesia seperti orang yang sehat namun tidak bisa bekerja secara optimal.

Hal tersebut dikatakan Jokowi saat pembukaan rapat terbatas di Istana Merdeka, Jumat (5/1). Ibarat tubuh manusia, menurut Jokowi, Indonesia tidak punya gejala kolesterol dan darah tinggi, jantung serta paru-paru pun normal. “Jadi kalau tidak bisa lari cepat, masalahnya harus dicari,” kata dia.

Beberapa hal yang sebenarnya dianggap bagus, menurut Jokowi, antara lain peringkat kemudahan berusaha, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), inflasi yang rendah, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ibarat dokter yang menyatakan pasiennya cukup sehat, lembaga pemeringkat internasional pun memberikan penilaian kepada Indonesia. Peringkat kemudahan berusaha atau Ease of Doing Bussiness (EoDB) pada 2014, menurut Jokowi masih 120, namun kini Indonesia sudah naik ke ranking 72. “Jangan sampai kita kehilangan momentum,” kata Jokowi.

Advertisement

Pria asal Solo ini pun meminta jajarannya fokus konsentasi kepada investasi serta ekspor. Beberapa bidang yang disasar antara lain industri, Energi dan Sumber Daya Mineral, kesehatan, pendidikan, pertahanan, pertanian, dan perikanan.

"Semua harus satu garis agar masalah di lapangan dapat dihadapi dengan baik," ujarnya.

Rapat tersebut juga dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Tom Lembong, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

(Baca: Ekonom Menilai Target Pajak Tumbuh 24% di 2018 Ketinggian)

Lalu ada Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Menteri Luar Negeri Retno P. Marsudi, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, hingga Kepala Staf Presiden Teten Masduki.

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait