Saham dan Laba Naik Drastis, BEI Bekukan Saham Produsen Alumina

Laba PT Alaksa Industrindo naik drastis dari Rp 66 juta pada semester I 2016 menjadi Rp 17,9 miliar tahun ini.
Miftah Ardhian
31 Agustus 2017, 17:23
Bursa Efek Indonesia
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

 

Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan suspensi terhadap saham PT Alaksa Industrindo sejak pertengahan Agustus 2017 lalu akibat pergerakan sahamnya yang terus naik. Namun, perusahaan dengan kode emiten ALKA ini merasa tidak mengetahui secara pasti penyebab pergerakan sahamnya tersebut.
 
Presiden Direktur Alakasa Peng Tjoan menjelaskan, pihaknya menyelenggarakan Public Expose insidentil ini atas perintah BEI karena sahamnya yang mengalami suspensi. Namun, dirinya tidak mengetahui secara pasti penyebab kenaikan harga saham ALKA yang dinilai tidak wajar.

"Tidak ada faktor material perseroan yang belum dimasukan ke laporan keuangan dan tidak ada fakta fundamental lainnya yang bisa mempengaruhi. Setelah suspend pun saham kami masih bertahan," ujar Peng saat public expose di gedung BEI, Jakarta, Kamis (31/8).
(Baca juga:  Ketimbang Utang, BUMN Diminta Sekuritisasi Aset untuk Cari Dana)
Meskipun demikian, dirinya menduga, naiknya harga saham ALKA ini akibat kinerja keuangan perusahaan yang naik signifikan. Tercatat, huingga Juni 2017, laba bersih periode berjalan ALKA mencapai Rp 17,9 miliar. Angka itu naik tinggi jika dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp 66 juta.

Kenaikan laba bersih ini ditopang oleh penjualan bisnis perusahaan yang tercatat mencapai Rp 687,7 miliar. Jumlah tersebut juga naik jika dibandingkan semester I-2016 sebesar Rp 601,7 miliar. Peng menjelaskan, kenaikan penjualan ini akibat permintaan yang naik dari penjualan alumina dan juga perluasan pasar.

Peng menjelaskan, permintaan akan alumina mengalami kenaikan karena adanya proteksi penjualan dari Tiongkok, sehingga, suplai di pasaran tidak berlebih. ALKA pun memanfaatkan kesempatan ini untuk menjual alumina di pasar spot, karena permintaan yang cukup tinggi.

"Permintaan naik hampir dua kali lipat, karena dari pasar spot ini cukup besar," ujar Peng.
(Baca juga: Diluncurkan Jokowi, Peminat Sekuritisasi Tol Jagorawi Membeludak)
Kemudian, ALKA pun menjalankan beberapa strategi bisnis lainnya. Pertama, meningkatkan pangsa pasar lokal maupun ekspor. Salah satunya adalah melebarkan pasar ke negara Timur Tengah. kedua, meningkatkan efisiensi terhadap biaya produksi. Ketiga, mencari terobosan-terobosan baru terhadap produk-produk yang dihasilkan. Keempat, mencari peluang-peluang usaha alternatif.

Namun, Peng mengatakan, kenaikan penjualan yang berpengaruh terhadap laba bersih di semester I-2017 ini akibat permintaan di pasar spot. Dengan demikian, hal tersebut merupakan dampak jangka pendek. Sehingga, ke depannya, naik turunnya penjualan ALKA sangat berpengaruh dari permintaan di pasar spot tersebut.

"Harapannya permintaan bisa lebih baik, jadi laba kalau dikali dua saja sampai akhir tahun menjadi Rp 34 miliar," ujarnya.
(Baca juga:  Setelah Jasa Marga, PLN Akan Sekuritisasi Pembangkit Pada September)
Harga saham ALKA mengalami suspensi karena dinilai bergerak tidak wajar. Pada perdagangan tanggal 15 Agustus saham perusahaan tersebut tercatat senilai Rp 182. Namun, setelah itu, harganya terus mengalami kenaikan pada tanggal 22 Agustus 2017 yang mencapai Rp 474.

Sempat mengalami penurunan setelahnya, tetapi justru kembali melonjak signifikan di tanggal 29 Agustus 2017 dengan nilai Rp 530. Pada perdagangan hari ini, saham ALKA diperdagangkan di level Rp 500.

Reporter: Miftah Ardhian
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait