Lewat 'Jenius', Nasabah BTPN Bisa Buka Deposito Lewat Ponsel

Melalui 'Jenius', masyarakat bisa membuka rekening deposito BTPN dengan minimal dana Rp 10 juta.
Miftah Ardhian
Oleh Miftah Ardhian
30 Agustus 2017, 18:41
ekonomi digital
ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) sedang melakukan transformasi digital untuk memberikan kemudahan bagi para nasabahnya dalam melakukan transaksi perbankan. Salah satunya dengan meluncurkan sebuah platform berbentuk aplikasi dengan nama 'Jenius'.

Direktur Kepatuhan BTPN Anika Faisal menjelaskan, pola kehidupan masyarakat telah berubah. Masyarakat kini menuntut layanan yang serba simpel, cepat, tetapi tetap aman. Untuk menyesuaikan perubahan tersebut, BTPN pun memutuskan untuk meluncurkan produk perbankan digital.

Anika menyebut, platform 'Jenius' menyasar segmen consuming class-nya. Aplikasi ini merupakan inovasi digital banking untuk segmen kelompok masyarakat urban dan cenderung melek teknologi.

(Baca juga: DBS Luncurkan Digibank di Indonesia, Targetkan 3,5 Juta Nasabah)

Melalui platform ini, masyarakat dapat membuka rekening bank tanpa perlu datang ke kantor cabang, tanpa mengisi dokumen di atas kertas (paperless), dan menikmati layanan perbankan melalui aplikasi. "Jenius ini bukan sekedar mobile banking. Ini digital bank di mana bisa melakukan banking anywhere, anyplace, and anytime," ujar Anika kepada media, di Penang Bistro, Jakarta, Rabu (30/8).

Beberapa layanan 'Jenius' memang ada di fasilitas mobile banking lain seperti transfer dana, cek saldo, dan pembayaran. Namun, yang juga menjadi pembeda selain pembukaan rekening lewat aplikasi, yaitu bisa merencanakan perjalanan dengan dana yang otomatis akan ditarik setiap bulannya. Namun, dana tersebut nantinya juga bisa dipindahkan dengan fleksibel sesuai dengan kebutuhan.

Selanjutnya, BTPN juga meluncurkan program pembukaan deposito tanpa harus datang ke kantor cabang. Melalui 'Jenius', masyarakat bisa membuka rekening deposito dengan minimal dana Rp 10 juta. Adapun, bunga yang ditawarkan sebesar 6,25 persen per tahunnya.

 (Baca juga: Keluarkan Investasi Besar, Bank Berlomba Buat Layanan Digital)

Dengan kata lain, Bank BTPN ingin memasukan sebuah bank ke dalam perangkat mobile. "Karena ceruk di 'Jenius' yang bisa kami menangkan adalah yang bisa memenuhi semua keperluan end user. Jadi, kami terus mengkaji untuk menambah fitur-fitur baru, karena main di pasar ini tidak bisa statis," ujar Anika. Tercatat hingga saat ini sudah terdapat ratusan ribu orang yang menggunakan platform tersebut.

Selain itu, untuk menyasar masyarakat menengah bawah yang selama ini belum tersentuh layanan perbankan, Bank BTPN pada Maret 2015 sebenarnya juga sudah meluncurkan program BTPN Wow!. Program ini merupakan layanan perbankan bagi mass market yang juga memanfaatkan teknologi telepon genggam dan didukung jasa agen sebagai perpanjangan tangan bank kepada nasabah di seluruh pelosok Indonesia.

Anika mengakui, bahwa program ini masih terbatas di wilayah yang padat penduduknya. Karena, jika penduduk tersebar secara berjauhan, maka, agen yang ada tidak akan banyak berguna. Sebab, masyarakat tersebut tidak akan datang ke tempat agen yang jauh dari lokasi rumahnya, hanya untuk menabung sebesar Rp 5 ribu saja.

"Kendala memang lebih kepada menemukan agennya. Makanya, pengembangan fitur dan agen kami jalankan terus. Salah satunya partnership kami dengan Telkomsel," ujarnya. Sejauh ini, agen BTPN Wow! telah mencapai sekitar 190 ribu dengan nasabah sebanyak 3,8 juta orang.

Dengan digitalisasi ini, bukan berati Bank BTPN akan meninggalkan 'image' nya sebagai bank pensiunan. Namun, dengan menuju ke arah fully digital ini, Bank BTPN akan semakin menambah ceruk pasarnya. Agar digitalisasi ini berjalan baik, Anika mengatakan, bank BTPN akan terus mengeduksi nasabahnya terutama para pensiunan dalam menggunakan aplikasi, ATM, pemberian catatan, serta gimmick lainnya.

Alhasil, satu tahun ke depan ditargetkan proses digitalisasi ini sudah matang dan terus berkembang ke depannya. Karena, menjadi digital banking disebut Anita perlu terus melakukan inovasi. "Tujuannya kami ingin jadi the best mass market powered by digital," ujar Anika.

Reporter: Miftah Ardhian
Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait