Tekan NPL di Bawah 3%, OJK Incar Bank dengan Pengelolaan Buruk

OJK akan mengidentifikasi bank-bank dengan pengelolaan buruk untuk diawasi lebih ketat.
Miftah Ardhian
21 Juli 2017, 12:27
OJK
Katadata | Arief Kamaludin

Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) 2017-2022 pasang target untuk menekan angka kredit seret  (non performing loan/NPL). OJK pun akan 'mengincar' bank dengan pengelolaan yang buruk untuk menjadi prioritas supervisi.

Anggota DK OJK sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Heru Kristiyana mengatakan, OJK menargetkan NPL masing-masing perbankan pada akhir tahun ini bisa ditekan hingga di bawah 3%. Sementara, rata-rata NPL perbankan  saat ini di kisaran 3,07%.

Meskipun demikian, dirinya mengaku ada beberapa bank yang mungkin saja perlu restrukturisasi terlebih dulu. Sehingga pengawasan akan difokuskan untuk masing-masing perbankan, bukan industrinya secara keseluruhan.

(Baca juga:  Berhemat, Bos Baru OJK Cabut Fasilitas Mewah dan Pangkas Jabatan)

" Kalau industri sepertinya masih oke. Individualnya akan kami benahi (hingga) di bawah 3%," ujar Heru di Gedung Radius Prawiro, Kompleks Bank Indonesia (BI), Jakarta, Kamis malam (20/7).

Ia akan melakukan pemetaan ulang masing-masing bank yang ada untuk mengetahui permasalahan rill yang dihadapi bank-bank tersebut. Dugaannya, ada dua permasalahan, yakni pengelolaan internal (governance) atau masalah secara makro terkait penurunan harga komoditas.

Untuk itu, langkah awal yang akan dilakukan adalah mengidentifikasi bank-bank dengan pengelolaan yang tidak cukup baik untuk bisa diawasi lebih ketat. Sedangkan, untuk bank yang mengalami NPL tinggi akibat kondisi makro ekonomi tetap akan diberikan relaksasi restrukturisasi, seperti program DK OJK sebelumnya.

(Baca juga: Usai Dilantik MA, Dewan Komisioner OJK Jalankan Dua Langkah Awal)

Sejauh ini belum ada wacana pemberian sanksi. "Kalau itu memang masalah di luar governance boleh lah kami kasih (relaksasi restrukturisasi). Jadi Selektif. Kalau masalah governance tidak kami kasih lah," ujarnya.

Strategi dalam penurunan NPL ini pun mirip dengan apa yang akan diterapkan Heru untuk memacu kredit perbankan. Heru menjelaskan, masih akan melakukan pemetaan masing-masing bank yang ada untuk melihat Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dimiliki bank tersebut. Apabila likuiditas mencukupi, maka, Heru akan mendorong bank tersebut untuk memacu penyaluran kreditnya.

Namun, apabila likuiditas ketat, maka OJK tidak akan mendorong penyaluran kredit bank tersebut. Apalagi, diketahui pengelolaan internalnya tidak berjalan dengan baik. "Kalau pertumbuhan dana bagus tentu kredit akan kami dorong. kredit kan berjalan lurus dengan kapasitas dan likuiditas bank," ujarnya.

(Baca juga: Bos Baru OJK Ingin Selamatkan AJB Bumiputera Secara 'Diam-Diam')

Meskipun demikian, heru mengatakan, masih belum akan merevisi target pertumbuhan kredit tahun ini yang berada di kisaran 10-12%. Yang jelas, dirinya akan berfokus menyehatkan kondisi masing-masing perbankan agar kinerjanya turut terkatrol.

Reporter: Miftah Ardhian
Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait