Tersengat Tarif Listrik, Inflasi Februari 2017 Sebesar 0,23 Persen

Sementara penurunan beberapa jenis harga bahan pokok seperti beras dan telur menyumbang deflasi pada bulan lalu.
Image title
1 Maret 2017, 12:40
listrik
ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma
Warga memeriksa meteran listrik prabayar di Rumah Susun Benhil, Jakarta, Kamis (19/1/2017)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,23 persen pada Februari 2017. Penyumbang inflasi terbesar adalah kenaikan tarif listrik untuk rumah tangga dengan daya 900 Volt Ampere. 

Perkembangan inflasi Februari 2017 ini lebih rendah dibanding bulan Januari 2017 yang tercatat sebesar 0,97 persen. Begitu juga jika dibandingkan dengan Februari 2015 yang sebesar 0,35 persen, namun lebih tinggi dibandingkan inflasi Februari 2016 sebesar 0,09 persen.

“Ini capaian yang cukup bagus,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (1/3)

Dari 82 kota yang disurvei, 62 kota mengalami inflasi dan 20 kota mengalami deflasi. Di mana, inflasi tertinggi terjadi di Manado sebesar 1,16 persen dan terendah terjadi di Ternate sebesar 0,03 persen. Sebaliknya, deflasi tertinggi terjadi di Jambi sebesar 1,40 persen dan terendah terjadi di Bungo sebesar 0,02 persen.

(Baca juga: BI Catat Inflasi Pekan Ketiga Februari Capai 0,3 Persen)

“Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran,” ujarnya.

Ia menyebut, kenaikan harga pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,39 persen. Sementara pada kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar terjadi kenaikan 0,75 persen. “Kelompok ini andilnya terhadap inflasi sebesar 0,17 persen. Inflasi ini disebabkan oleh penyesuaian tarif listrik untuk yang dayanya 900 Volt Ampere ,” kata Suhariyanto.

Lebih lanjut, kenaikan harga pada kelompok sandang sebesar 0,52 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,26 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,08 persen; dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,15 persen.

(Baca juga:  Belanja Pemerintah Seret, BI: Ekonomi Kuartal I di Bawah 5,05 Persen)

“Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, yaitu kelompok bahan makanan sebesar 0,31 persen,” kata Suhariyanto. 

Di antara bahan pangan yang mengalami penurunan harga adalah cabai merah, beras, telur ayam, kol dan tomat. Sementara beberapa bahan pangan lain masih menunjukkan kenaikan harga yakni cabai rawit, ikan dan minyak goreng.

Dengan demikian, tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Februari) 2017 sebesar 1,21 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Februari 2017 terhadap Februari 2016) tercatat sebesar 3,83 persen. 

(Baca juga: BBM Satu Harga Sukses, Jokowi Belum Dapat Jurus Samakan Harga Semen)

Reporter: Muhammad Firman
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait