Darmin: Pertumbuhan Ekonomi Meleset Akibat Pemotongan Anggaran

Tahun ini pemerintah masih akan fokus mengontrol inflasi.
Ameidyo Daud Nasution
6 Februari 2017, 16:31
Darmin Nasution
Arief Kamaludin|KATADATA

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui target pertumbuhan pada tahun 2016 meleset dari perkiraannya. Hari ini Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan 2016 mencapai 5,02 persen, di bawah perkiraan Darmin yang mencapai 5,1 persen.

Darmin pun menyalahkan belanja pemerintah pada kuartal IV 2016 yang lebih rendah dari periode yang sama 2015. Apalagi disebutnya sempat ada pemotongan anggaran pemerintah yang disebutnya berkontribusi mengerem laju pertumbuhan ekonomi.

"Memang penerimaan kita waktu itu memang tidak begitu baik makanya dilakukan pemotongan anggaran," kata Darmin di kantor Indonesia National Single Window, Jakarta, Kamis (6/2).

(Baca juga: Belanja Pemerintah Rendah, Pertumbuhan Ekonomi 2016 di Bawah Target)

Dari data BPS, terlihat laju pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) menurut pengeluaran dari belanja pemerintah kuartal IV lalu turun 4,09 persen. Padahal untuk pertumbuhan komponen lain seperti investasi serta konsumsi relatif tumbuh.

Bagaimanapun, Darmin masih beranggapan pertumbuhan ekonomi tahun lalu dapat dikatakan baik ketimbang 2015. "Paling tidak sasaran penurunannya masih oke," katanya.

Sementara untuk ekspor dan impor, Darmin melihat ada gejala peningkatan pada beberapa bulan akhir 2016. Ia juga percaya bahwa tren itu akan berlanjut di 2017 ini.

“Melihat tendensinya sih walaupun mungkin angkanya tidak bergerak cepat ke atas, kalau dilihat beberapa bulan terakhir berkelanjutan kok,” tuturnya.

(Baca juga:  KSSK Pantau Tiga Faktor Domestik Pengganggu Stabilitas Keuangan)

Adapun untuk tantangan pada tahun ini, Darmin menyebut inflasi yang tetap harus dijaga. Apalagi pemerintah menurutnya masih berfokus kepada konsumsi masyarakat sebagai motor pertumbuhan ekonomi layaknya di banyak negara berkembang. "Kita akan banyak sibuk di urusan inflasi," katanya.

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,94 persen secara tahunan (year on year/yoy) di Kuartal IV 2016. Realisasi ini terkontraksi 1,77 persen dibanding kuartal sebelumnya. Dengan begitu, secara keseluruhan ekonomi tahun lalu tumbuh 5,02 persen.

Senada dengan Darmin, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan bahwa salah satu penyebab rendahnya pertumbuhan ekonomi karena belanja pemerintah yang lebih rendah dibanding Kuartal IV-2015. Realisasi belanja pemerintah sebesar Rp 549 triliun atau 26,36 persen dari pagu, lebih rendah dibanding periode sama 2015 yang mencapai Rp 537,75 triliun.

(Baca juga:  Industri Makanan dan Minuman Ditargetkan Tumbuh Stabil 8-9 Persen)

Pada Kuartal IV-2016, BPS mencatat pertumbuhan konsumsi pemerintah terkontraksi 4,05 persen. Penurunan ini lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya yang hanya mius 2,97 persen. Maka secara keseluruhan tahun, konsumsi pemerintah turun 0,15 persen dibanding 2015.

Yang mendorong pertumbuhan yakni pertumbuhan konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) yang tumbuh 6,72 persen. Realisasi ini lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya 6,65 persen. Sepanjang tahun tumbuh 6,62 persen. “Pendorongnya ini karena pemilihan kepala daerah (Pilkada),” kata Suhariyanto.

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait