Infrastruktur yang Baik Akan Memberi Nilai Tambah bagi Petani

Sektor pertanian tak kebal dari dampak Covid-19. Kondisi diperkirakan pulih pada pertengahan tahun depan.
Pingit Aria
13 Desember 2020, 10:00
Sandy Setiawan Lewi
Katadata/Joshua Siringo ringo
Direktur Utama PT Sumber Energi Pangan Sandy Setiawan Lewi

Pertanian kerap disebut sebagai sektor usaha yang kebal krisis Covid-19. Bagaimana tidak, pada kuartal II 2020, saat pertumbuhan ekonomi Indonesia negatif 5,32%, sektor pertanian masih tumbuh positif 2,19% yoy, bahkan mencapai 16,24% secara kuartalan.

Begitu juga pada kuartal III 2020, saat ekonomi Indonesia masih terkontraksi -3,49%, sektor pertanian masih tumbuh positif 2,15% yoy. Bagaimanapun, itu tak berarti sektor pertanian bebas dari masalah.

Petani di berbagai daerah masih menghadapi berbagai tantangan, dari mulai kesulitan modal, hingga akses pasar. Melihat kondisi ini, kalangan pengusaha kemudian memunculkan inisiatif berupa inclusive closed loop. Program ini membuat petani mendapat akses modal ke lembaga keuangan, mendapat bantuan pengadaan bibit dan pupuk oleh pemerintah, dan hasil panen terserap untuk kebutuhan industri.

Beberapa perusahaan terlibat dalam program ini, di antaranya PT Sumber Energi Pangan yang merupakan bagian dari Grup Triputra. Melalui anak usahanya, PT Seger Agro Nusantara, perusahaan menyerap jagung petani dari berbagai daerah untuk memenuhi kebutuhan besar industri pakan ternak. “Hampir semua produsen pakan ternak membeli jagung dari kami,” kata Direktur Utama PT Sumber Energi Pangan Sandy Setiawan Lewi, Kamis (11/12).

Dalam wawancara dengan Pingit Aria dari Katadata.co.id, Sandy  didampingi oleh Direktur Utama PT Seger Agro Nusantara Santoso Leksono Widodo. Keduanya menjalaskan berbagai tantangan yang dihadapi industri pertanian, khususnya yang terkait pangan, serta potensi pemulihannya pascapandemi.

PT Sumber Energi Pangan merupakan bagian dari Grup Triputra yang spesifik menangani komoditas pangan. Seperti apa skema dan model bisnisnya?

Betul, sebagian besar saham PT Sumber Energi Pangan merupakan milik Grup Triputra, tetapi ada juga bagian dari keluarga Pak Benny Subianto yang sekarang dikelola oleh putrinya, Ibu Arini Subianto.

Kami memiliki tiga bisnis utama, yang pertama adalah beras premium, merek Raja Platinum dan Raja Ultima. Kemudian ada jagung dan kami juga baru masuk di bisnis kopi, baik untuk pasar lokal dan ekspor.

Databoks: Luas lahan dan produktivitas jagung nasional:

Bagaimana proses keterlibatan PT Sumber Energi Pangan dalam menjalankan sistem inclusive closed loop untuk komoditas jagung di Sumbawa?

Proses ini sejak kami masuk ke PT Seger Agro Nusantara, beberapa tahun lalu. PT Seger Agro Nusantara sendiri sudah hampir 30 tahun menjadi offtaker jagung, juga beras dan kedelai.

Inclusive close loop merupakan kerangka ekosistem yang dibangun dunia usaha dan pemerintah. Tujuannya meningkatkan produksi. Triputra dan PT Seger Agro Nusantara ini memiliki visi yang sama. Selain bisnis, ada dua hal yang sedang kami lakukan, yakni membantu pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan dan memajukan kesejahteraan petani.

Untuk mencapai kedua hal tersebut, yang utama adalah bagaimana meningkatkan produktivitas petani, salah satunya melalui inclusive closed loop. Jadi PT Seger Agro Nusantara tidak hanya menjadi offtaker yakni membeli dari petani, menjual ke pihak lain, dan selesai.

Sekarang kami membantu para petani yang menjadi mitra untuk meningkatkan produktivitas mereka. Dalam hal ini kami berperan membangun kerja sama dengan berbagai pihak. Misalnya, pemerintah daerah memberikan penyuluhan, kemudian pemerintah pusat menyalurkan bibit, ada subsidi pupuk, ada mekanisasi alat Pertanian hingga pembangunan irigasi. Ada juga perbankan yang menyediakan akses modal.

Mengapa memilih Sumbawa?

Santoso: Awalnya usaha kami di Jember, tetapi kemudian lahan Pertanian di Jawa semakin sempit. Pada 2003 kami mendengar bahwa beberapa daerah di luar Jawa juga memproduksi jagung.

Tim kami mengecek ke lapangan dan mendapatkan cerita mengenai petani di Nusa Tenggara Barat dan Nusa tenggara Timur menanam jagung, tetapi kesulitan menjualnya. Selain itu, mereka juga belum memiliki alat produksi yang memadai. Setelah melakukan survei selama tiga tahun, pada 2006 kami putuskan membangun fasilitas logistik di Sumbawa, kapasitasnya sekitar 50-60 ribu ton.

Bagaimana respons masyarakat?

Antusiasme petani di luar dugaan kami, terutama petani transmigran. Mereka yang berada di beberapa titik di sumbawa membuat organisasi untuk menyampaikan kebutuhan-kebutuhan mereka. Kami pun mulai menjadi fasilitator untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan alat produksi.

Dulu mereka bertani dengan sangat sederhana. Untuk membuat bibit misalnya, hasil panen jagung digantung saja di dapur sampai kering, kemudian ditanam kembali. Produksinya mungkin hanya 2-3 ton per hektare. Setelah diganti dengan bibit unggul, mereka bisa menghasilkan 6-8 ton per hektare, tergantung kondisi tanah. Hari ini Sumbawa jadi salah satu sentra produksi jagung nasional selain Gorontalo dan Makassar.

Apa mungkin sistem ini dikembangkan ke daerah lain?

Kami memang sedang mencoba mengembangkan ke daerah lain, terutama di wilayah Indonesia timur. Kami mencari daerah yang produktivitasnya masih rendah, lalu petaninya juga masih perlu dibantu. Selain di Sumbawa, PT Seger Agro Nusantara telah memiliki fasilitas warehouse di Dompu, Makassar, Gresik dan Cepu.

Berikut adalah Databoks sebaran produksi jagung Nasional:

Bagaimana gambaran industri hilirnya, ke mana jagung tersebut dijual?

Permintaan jagung nasional terutama berasal dari industri pakan ternak. Hampir semua produsen pakan ternak membeli jagung dari kami.

Bagaimana dampak pandemi Covid-19 terhadap industri ini?

Untuk jagung, produksi pada semester I itu lebih tinggi dibanding semester II. Sedangkan kita tahu pada awal pandemi sempat terjadi penurunan permintaan. Turunnya daya beli masyarakat membuat harga ayam di pasaran jatuh. Ini secara tidak langsung berdampak juga bagi industri pakan ternak. Namun pada semester II sudah mulai ada pertumbuhan.

Apakah merosotnya permintaan itu juga yang membuat PT Seger Agro Nusantara mengekspor jagung ke Filipina?

Santoso: Musim panen jagung memang biasa dimulai pada Maret-April. Ini yang kami antisipasi. Saat hasil panen semakin banyak, didistribusi harus semakin cepat. Kalau tidak, gudangnya penuh dan kami tidak bisa lagi menyerap hasil panen petani.

Saat permintaan jagung di dalam negeri turun, kami pun menjajaki peluang ekspor. Puji Tuhan, kami mendapat pesanan dari pembeli reguler yang sebelumnya juga pernah membeli dari kami. Kami melakukan ekspor itu dari Mei sampai September.

Ekspor Jagung
Ekspor Jagung (Istimewa)

 

Berarti sekarang demand dalam negeri sudah pulih?

Belum pulih sepenuhnya, tapi sudah mulai kembali ke normal. Proyeksinya tahun ini memang masih sekitar 10% lebih rendah dari tahun lalu, tetapi saat ini sudah jauh lebih baik dibanding awal pandemi  ini. Pada April-Mei industri sangat terpukul.

Kemungkinan kapan kondisi akan sepenuhnya pulih kembali?

Itu pertanyaan yang sulit. Semua tergantung seberapa efektif vaksin. Katakanlah rencana vaksinasi berjalan lancar, saya kira semester II tahun depan sudah normal, bahkan bisa saja kuartal kedua.

Presiden Joko Widodo menginisiasi proyek Food Estate di Kalimantan Tengah dan Sumatera Utara. Bagaimana menurut Anda mengenai inisiatif untuk menjaga kedaulatan pangan ini?

Ini inisiatif yang baik. Pemerintah melihat bagaimana kebutuhan pangan akan meningkat dan menyiapkan food estate supaya ada lahan baru untuk menanam supaya produksi meningkat.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pemilihan lokasi dan persiapan bibit unggul. Saya rasa sudah disiapkan oleh pemerintah.

Sekarang kita bicara infrastruktur. Tadi Anda sempat menyinggung soal irigasi, bagaimana dengan kebutuhan infrastruktur yang terkait dengan logistik dan perhubungan untuk mendukung pertanian?

Memang masih banyak yang perlu dibenahi. Di Indonesia Timur misalnya, ada beberapa lokasi lahan pertanian yang sulit diakses dari pasar. Jadi jalan darat ini perlu diperhatikan, selain juga akses lintas pulau. Pada jagung misalnya, lahan pertaniannya tersebar di berbagai pulau, tapi 60-70% industri pakan ternak itu ada di Jawa.

Bila infrastrukturnya jelek, harga jagung di tingkat petani bisa sangat tertekan karena biaya pengirimannya mahal. Sebaliknya, infrastruktur yang baik akan memberi nilai tambah bagi petani.

Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait