Menperin: Sumbangan Pajak Industri Manufaktur Tumbuh 16,63%

Industri manufaktur merupakan sektor usaha penyumbang terbesar pajak.
Michael Reily
Oleh Michael Reily
30 Oktober 2017, 12:38
Pekerja otomotif
Katadata

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan industri berperan penting dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Tidak hanya sebagai penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB), industri manufaktur mampu memberikan kontribusi tertinggi sebagai penyetor pajak.

Airlangga mengklaim berbagai paket kebijakan ekonomi yang diterbitkan pemerintah bertujuan untuk kemudahan menjalankan bisnis bagi pelaku usaha. "Kinerja industri pengolahan nasional masih positif," kata Airlangga dalam keterangan resmi, Senin (30/10).

Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, realisasi penerimaan pajak dari sektor industri hingga triwulan ketiga 2017 mencapai Rp 224,95 triliun atau tumbuh 16,63% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Capaian tersebut di atas sumbangan sektor perdagangan Rp 134,74 triliun, keuangan Rp 104,92 triliun, konstruksi Rp 35,40 triliun, informasi komunikasi Rp 32,19 triliun, pertambangan Rp 31,66 triliun, dan sektor lainnya Rp 156,19 triliun.

Oleh karena itu, Airlangga bakal berupaya fokus menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi para investor di dalam negeri. Ia mengungkapkan pembangunan sektor industri membutuhkan komitmen kuat dari seluruh pemangku kepentingan mulai hulu hingga hilir.

"Aktivitas industri konsisten membawa multiplier effect yang signifikan bagi perekonomian Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, tercatat selama 10 tahun terakhir, penerimaan negara dari cukai semakin meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren sejak 2007 total penerimaan cukai sebesar Rp 44,68 triliun dan melonjak hingga Rp 145,53 triliun pada 2016. Industri rokok merupakan salah satu sumber utama pemasukan kas negara melalui cukai.

Rata-rata proporsi penerimaan cukai tembakau terhadap cukai negara mencapai 95%. Pada 2007, penerimaan negara dari cukai tembakau sebesar Rp 43,54 triliun atau 97,45% terhadap keseluruhan penerimaan cukai. Tahun lalu, penerimaan cukai tembakau sebanyak Rp 137,94 triliun atau 96,11% dari total penerimaan cukai.

Industri manufaktur berkontribusi terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar 20,26% pada triwulan kedua 2017. Indonesia menduduki peringkat keempat negara dengan kontribusi industri manufaktur tertinggi setelah Korea Selatan dengan sumbangan 29%, Tiongkok (27%), dan Jerman (23%).

“Program hilirisasi industri berbasis agro dan tambang mineral telah menghasilkan berbagai produk hilir antara lain turunan kelapa sawit, besi baja, dan ponsel pintar,” ujar Airlangga, beberapa waktu lalu.

Reporter: Michael Reily

Video Pilihan

Artikel Terkait