Insiden Hotel Yamato, Aksi Legendaris Perobekan Bendera Belanda

Insiden Hotel Yamato merupakan aksi warga Surabaya yang merobek bendera Belanda menjadi bendera merah putih pada 19 September 1945. Peristiwa ini merupakan pemicu aksi Pertempuran Surabaya.
Image title
25 Agustus 2021, 10:45
Rekonstruksi perobekan bendera di hotel Majapahit (14/9/2017). Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengadakan teatrikal mengenai insiden Hotel Yamato.
Humas Pemkot Surabaya
Rekonstruksi perobekan bendera di hotel Majapahit (14/9/2017), pada zaman dahulu Hotel Yamato.

Surabaya terkenal dengan sebutan “Kota Pahlawan”. Berbagai peristiwa bersejarah terjadi di kota ini. Pertempuran Surabaya merupakan puncak aksi nasionalisme melawan penjajah.

Pertempuran tersebut berlangsung dari 27 Oktober 1945 hingga 20 November 1945. Sebelum pertempuran berkobar, serangkaian aksi dilakukan oleh warga Surabaya untuk menyatakan bahwa Indonesia sudah merdeka.

Perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato merupakan aksi simbolis untuk menyatakan kemerdekaan dan melawan penindasan oleh penjajah. Insiden tersebut memiliki kronologi yang cukup panjang, dimulai dari kekalahan Jepang dalam Perang Dunia Kedua.

Kekalahan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya

Perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia melalui proses panjang dan sulit. Sebelum merdeka, Indonesia berada dalam pemerintahan Jepang. Kemudian pada 6 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima. Tiga hari kemudian, pada 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di Nagasaki.

Dalam buku Sejarah ledakan bom atom Nagasaki oleh Pusat Data dan Analisa TEMPO, dampak bom atom tersebut mengakibatkan ratusan ribu penduduk Jepang meninggal dunia dan ratusan ribu lainnya mengalami cacat.

Pada tanggal 14 Agustus 1945 (waktu Amerika Serikat) atau 15 Agustus 1945 (waktu Jepang), Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu dan mengakui Deklarasi Postdam. Berdasarkan Deklarasi Postdam tersebut, Jepang memiliki kewajiban untuk menjaga status Quo di daerah Indonesia.

M. C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 menjelaskan bahwa pada 2 September 1945, Mac Arthur sebagai perwakilan dari pasukan sekutu bersama perwakilan dari pemerintah Jepang melaksanakan upacara dan menandatangani dokumen penyerahan.

Upacara penyerahan dilaksanakan di atas kapal perang Amerika Missouri yang berlabuh di teluk Tokyo. Dengan ditandatanganinya dokumen penyerahan tersebut, maka secara resmi perang Pasifik/Perang Asia Timur Raya/Perang Dunia Kedua telah berakhir.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Saat peristiwa pengeboman Nagasaki pada 9 Agustus 1945, Soekarno, Moh, Hatta, dan  Radjiman Widyodiningrat diundang ke Dath, Vietnam untuk bertemu  dengan Jenderal Terauchi. Kemudian mereka kembali ke Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1945 saat Jepang menyerah.

Dengan kalahnya Jepang, Indonesia berada pada posisi vacuum of power (kekosongan kekuasaan). Pada tanggal 16 Agustus 1945, pukul 04.00 dini hari, Soekarno dan  Moh. Hatta dibawa pemuda ke Rengasdengklok agar keduanya tidak terpengaruh oleh Jepang.

Soekarno dan Hatta kembali lagi  ke Jakarta pada pukul 23.00 WIB. Pada tanggal 17 Agustus 1945, pukul 02.00 dini hari, Soekarno  memimpin rapat PPKI di rumah Laksamana Tadashi Maeda untuk  merumuskan teks proklamasi.

Pukul 10.00 WIB, Soekarno bersama Moh. Hatta membacakan teks Proklamasi di kediaman Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Pegangsaan Timur No.56, Jakarta.

Kedatangan Belanda Pasca-kemerdekaan Indonesia

Dalam buku Peran TNI-AU pada masa pemerintah darurat Republik Indonesia tahun 1948-1949 yang diterbitkan oleh Subdisjarah, pemerintah Belanda dan Inggris telah menyelenggarakan perundingan-perundingan di London dan Kandy. Perundingan itu menghasilkan apa yang kemudian dikenal sebagai London Civil Affairs Agreement.

Perjanjian tersebut diresmikan pada tanggal 24 Agustus 1945 berisi kesepakatan bahwa Belanda dapat kembali menjajah Indonesia. Berdasarkan kesepakatan dengan Inggris tersebut, Belanda mengirim H.J. Van Mook untuk kembali menegakkan kekuasaan di Indonesia.

Pada tanggal 18 September 1945, Belanda mengirim Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) yang yang dipimpin W.V.Ch Ploegman. Mereka tiba bersama pasukan Sekutu (Inggris) dan Palang Merah Internasional (Intercross) dari Jakarta ke Surabaya.

Terjadinya Insiden Hotel Yamato

Presiden Soekarno mengumumkan pada tanggal 31 Agustus 1945 bahwa mulai tanggal 1 September 1945, bendera merah putih harus dikibarkan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Surabaya.

Asmadi dalam buku Pelajar Pejuang menjelaskan bahwa pasca kemerdekaan dan kekalahan Jepang, tentara Sekutu memberikan status Quo kepada Jepang dan diberi tugas untuk memelihara ketertiban umum dan keamanan di Indonesia sampai tentara Sekutu tiba untuk mengambil alih kekuasaan di Indonesia.

Pada tanggal 19 September 1945, AFNEI datang ke Surabaya untuk mengurus tentara Jepang dan tawanan perang Belanda. Mereka menggunakan Hotel Yamato sebagai markas. Menurut R.S. Achmad dalam buku Surabaya Bergolak, penyambutan Belanda secara resmi dilakukan oleh Jepang. Penyambutan tersebut menunjukkan bahwa Jepang tidak mengakui pemerintahan Republik Indonesia di Surabaya.

Belanda juga datang tanpa berkomunikasi dengan pemerintahan Republik Indonesia semakin memperburuk citra Belanda di mata masyarakat. Masyarakat Surabaya menganggap Belanda bertindak kurang ajar karena tidak menghubungi pihak Indonesia saat mereka tiba di Surabaya.

Begitu penyambutan selesai dilaksanakan, Mr. Ploegman dari pasukan Belanda mengibarkan bendera merah putih biru di atas tiang bendera Hotel Yamato. Warga Surabaya yang melihat hal tersebut menjadi marah. Muncul kerumunan massa di sekitar Hotel Yamato.

Berdasarkan buku Seratus Hari di Surabaya yang Menggemparkan Indonesia karya Ruslan Abdulgani, masyarakat Surabaya langsung mengepung Hotel Yamato dan menuntut agar bendera Belanda diturunkan. Namun, tuntutan tersebut tidak didengar oleh pihak Belanda.

Masyarakat yang marah menerobos masuk dan terjadi perkelahian. Terdapat banyak korban yang terluka. Bahkan, beberapa pejuang Indonesia turut gugur dan Mr. Ploegman yang mengibarkan bendera Belanda turut tewas.

Kekuatan warga Surabaya mampu menguasai Hotel Yamato dan mencapai tiang bendera. Sampai di tiang, bendera Belanda tersebut diturunkan oleh pemuda-pemuda yang menaiki atap hotel dan bagian birunya disobek sehingga menjadi merah putih dan dikibarkan kembali.

Insiden Hotel Yamato tersebut merupakan titik pemicu terjadinya Pertempuran Surabaya. Pada tanggal 27 Oktober 1945 terjadi pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris.

Editor: Redaksi
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait