Program Rekonstruksi Pasca-Corona: Tidak Ada Jalan Kembali

Titik tolak untuk program rekonstruksi pasca-corona harus menempatkan kesadaran sosial dan lingkungan alat utama untuk semua pengambilan keputusan.
Image title
Oleh Muhammad Yunus
11 Juni 2020, 11:00
Muhammad Yunus
Ilustrator: Joshua Siringo Ringo | Katadata
Sejumlah warga membawa karung berisi sampah plastik untuk ditukarkan dengan beras dalam aksi sosial di Bank Sampah Luwu Mas, Desa Sayan, Gianyar, Bali, Selasa (9/6/2020). Penukaran sampah plastik dengan beras tersebut untuk membantu meringankan perekonomian warga yang terdampak COVID-19 sekaligus gerakan kebersihan lingkungan dari sampah plastik.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Meskipun dampak negatif dari pandemi corona sangat luas, ada kesempatan yang sangat besar yang masih dapat diraih.

Saat ini seluruh dunia harus menjawab pertanyaan besar, dan ini bukan tentang menggerakkan kembali roda perekonomian. Untungnya kita tahu jawabannya.

Kami telah mengumpulkan pengalaman berharga dalam mengelola proses pemulihan. Pertanyaan besar yang harus kita jawab adalah: Apakah kita membawa dunia kembali ke posisi sebelum virus corona datang? Atau kita merombak ulang tatanan dunia? Keputusan sepenuhnya ada di tangan kita.

Tidak diragukan lagi bahwa dunia sudah telanjur buruk, bahkan sebelum virus corona. Sebelum pandemi Covid-19 menyerang, seluruh dunia berteriak mengenai semua hal mengerikan yang akan terjadi.

Bumi seakan menghitung hari atas ketidaklayakan keberadaan manusia karena bencana iklim; bagaimana kita berada di bawah ancaman serius pengangguran besar-besaran yang diciptakan oleh kecerdasan buatan; bagaimana kekayaan hanya dinikmati segelintir orang.

Kami saling mengingatkan bahwa dekade ini adalah kesempatan terakhir. Setelah dekade ini, semua upaya kita hanya akan membawa hasil kecil dan tidak cukup untuk menyelamatkan planet kita.

(Baca: Bank Dunia: Resesi Ekonomi akibat Corona Terburuk Sejak Perang Dunia 2)

Haruskah kita kembali ke dunia seperti itu? Pilihannya tergantung kita.

Virus corona tiba-tiba mengubah dunia. Wabah ini telah membuka kemungkinan yang tidak pernah ada sebelumnya. Tiba-tiba kita berada dalam tabula rasa. Kita bisa pergi ke arah mana pun yang kita inginkan. Sungguh kebebasan memilih yang luar biasa!

Sebelum kita memulai kembali perekonomian, kita harus menyepakati ekonomi seperti apa yang kita inginkan. Yang pertama dan paling penting adalah kita harus sepakat bahwa ekonomi adalah sarana yang memudahkan kita mencapai tujuan yang ditetapkan. Seharusnya ekonomi tidak berperilaku seperti jebakan maut yang dirancang oleh Tuhan untuk menghukum kita.

Kita tidak boleh lupa bahwa ekonomi adalah alat yang kita buat sendiri. Kita harus terus merancang dan mendesain ulangnya sampai kita tiba di level kebahagiaan kolektif tertinggi.

Jika suatu saat kita merasa bahwa hal itu tidak membawa kita ke tempat yang diinginkan, kita segera tahu bahwa ada sesuatu yang salah dengan perangkat keras atau perangkat perekonomian yang sedang digunakan. Yang harus kita lakukan adalah memperbaikinya.

Kita tidak dapat memaafkan diri sendiri dengan mengatakan 'maaf kami tidak dapat mencapai tujuan karena perangkat lunak atau perangkat keras yang dimiliki tidak akan membiarkan kami melakukan itu'.

Hal tersebut tidak bisa diterima. Jika ingin menciptakan dunia tanpa emisi karbon, kita membangun perangkat keras dan lunak yang tepat untuk itu. Jika kita menginginkan dunia tanpa pengangguran, kita melakukan hal yang sama.

Jika kita menginginkan tanpa konsentrasi kekayaan, kita lakukan hal yang sama. Ini semua tentang membangun perangkat keras dan lunak yang tepat. Kekuatan ada di dalam diri kita. Ketika manusia menetapkan pikiran untuk menyelesaikan sesuatu, mereka hanya melakukannya. Tidak ada yang mustahil bagi manusia.

Berita paling menarik adalah krisis corona memberi kita peluang yang hampir tak terbatas untuk memulai awal yang baru. Kita dapat mulai mendesain perangkat keras dan lunak kita hampir dari nol.

(Baca: Trump Akhiri Hubungan AS dengan WHO di Tengah Pandemi Corona)

AKTIVITAS PERKANTORAN PEKAN KEDUA MASA PSBB TRANSISI
Perkantoran mulai dibuka di masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi Jakarta. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/hp.)

Rancang Ulang Pasca-Corona Didasari Kesadaran Sosial dan Lingkungan

Satu keputusan global sederhana yang akan sangat membantu kita adalah instruksi yang jelas bahwa kita tidak ingin kembali ke tempat semula. Kita tidak ingin jatuh ke lubang yang sama atas nama pemulihan.

Kita bahkan seharusnya tidak menyebutnya program 'pemulihan'.

Untuk memperjelas tujuan, kita dapat menyebutnya program 'rekonstruksi'. Bisnis akan dibuat sebagai kunci untuk mewujudkannya. Titik tolak untuk program rekonstruksi pasca-corona menjadikan kesadaran sosial dan lingkungan alat utama untuk semua pengambilan keputusan.

Pemerintah harus menjamin bahwa tidak ada sepeserpun yang diberikan tanpa adanya kejelasan manfaat sosial dan lingkungan maksimum kepada masyarakat, dibandingkan dengan semua opsi lain. Semua tindakan yang terkait dengan rekonstruksi harus mengarah pada penciptaan ekonomi yang sadar sosial, ekonomi, dan lingkungan untuk negara, serta bagi dunia.

(Baca: Hubungan AS-Tiongkok Memanas, Korsel Ajak RI Tingkatkan Kerja Sama)

Sekarang Waktunya

Kita memulai dengan paket ‘rekonstruksi’ untuk rencana dan tindakan yang didorong kesadaran sosial. Kita harus merancang rencana kita sekarang ketika kita berada di tengah krisis. Saat krisis akan berakhir, akan ada gejolak ide-ide lama dan contoh-contoh bailout lama untuk mempercepat tindakan mereka.

Akan ada pihak kuat yang menggagalkan inisiatif baru dengan mengatakan ini adalah kebijakan yang belum teruji. (Ketika kami mengusulkan agar Olimpiade dapat dirancang sebagai bisnis sosial, pihak lawan membuat argumen yang sama. Sekarang Olimpiade Paris 2024 dirancang seperti itu dengan meningkatnya kegembiraan di sepanjang jalan). Kita harus bersiap sebelum penyerbuan dimulai. Sekarang adalah waktunya.

Bisnis Sosial

Dalam rencana rekonstruksi komprehensif ini saya mengusulkan pemberian peran sentral pada bentuk bisnis baru yang disebut bisnis sosial. Ini adalah bisnis yang dibuat semata-mata untuk memecahkan masalah tanpa mengambil keuntungan pribadi oleh investor kecuali untuk menutup investasi awal. Setelah investasi awal kembali, semua keuntungan berikutnya akan diputar kembali ke dalam bisnis.

Pemerintah akan memiliki banyak peluang untuk mendorong, memprioritaskan, dan membuka ruang bagi bisnis sosial untuk melakukan tanggung jawab dengan desain ulang besar-besaran. Pada saat yang sama, pemerintah tidak boleh mengharapkan bisnis sosial ada sesuai keinginan mereka.

Pemerintah harus meluncurkan program mereka, seperti merawat orang miskin dan pengangguran melalui program kesejahteraan knvensional, menawarkan layanan kesehatan, menghidupkan kembali semua layanan penting, dan mendukung semua jenis bisnis di mana pilihan bisnis sosial terhambat dijalankan.

(Baca: Amerika Dianggap Sedang Alami Resesi Ekonomi Imbas Corona)

Untuk mempercepat masuknya bisnis sosial, pemerintah dapat menciptakan Dana Modal Ventura Bisnis Sosial secara terpusat dan lokal, mendorong sektor swasta, yayasan, lembaga keuangan, dana investasi untuk mendirikan Dana Modal Ventura Bisnis Sosial, mendorong perusahaan konvensional untuk menjadi bisnis sosial sendiri atau menerima mitra bisnis sosial, korporat, dan semua bisnis dapat didorong untuk memiliki bisnis sosial mereka sendiri atau membuat bisnis sosial patungan dengan mitra bisnis sosial.

Di bawah program pembangunan kembali, pemerintah dapat membiayai bisnis sosial untuk membeli perusahaan, dan bekerja sama dengan perusahaan yang membutuhkan untuk mengubahnya menjadi bisnis sosial. Bank sentral dapat memungkinkan bisnis sosial, seperti halnya bisnis lain, untuk menerima pembiayaan dari lembaga keuangan untuk berinvestasi di pasar saham.

Akan ada banyak peluang yang muncul selama proses pembangunan kembali. Pemerintah harus melibatkan sebanyak mungkin pelaku bisnis sosial.

Editor: Redaksi

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait