Partai Demokrat: Wacana Presiden Tiga Periode Tidak Perlu Lagi Dibahas

Wacana penambahan jabatan presiden juga pernah muncul di era SBY.
Image title
15 September 2021, 20:07
Presiden, SBY
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melambaikan tangan seusai menyampaikan pidato pada Refleksi Pergantian Tahun Partai Demokrat di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Rabu (11/12/2019). Dalam pidatonya SBY menegaskan komitmen untuk mendukung pemerintah agar sukses dalam menjalankan tugasnya meskipun Partai Demokrat berada di luar pemerintahan.

Partai Demokrat meminta wacana presiden tiga periode tidak lagi dibahas dan mendesak pemerintah fokus pada pembenahan ekonomi.

Kepala Komunikasi Strategis Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra mengatakan wacana perpanjangan masa jabatan ini justru akan merusak sandi-sandi demokrasi yang ada.

“Janganlah ini dibahas lagi atau ada upaya-upaya untuk membahas atau menghidupkan kembali tiga periode. Ini akan menjadi masalah besar karena sama saja mengkhianati amanah reformasi. Nanti orang bisa bilang new orba,” kata Herzaky dalam acara webinar petik pelajaran ‘Ngotot 3 periode presiden Guinea digulingkan’, Rabu (15/9).

Zaky menyampaikan saat SBY masih duduk sebagai presiden pada periode kedua, kabar semacam ini juga pernah berhembus.  “2013-2014 banyak sekali suara-suara yang masuk baik dari elit maupun dari rakyat, namun ditolak tegas oleh SBY,” ucap Zaky.

Zaky mengatakan sikap partai Demokrat hingga saat ini masih sama, menentang adanya wacana presiden tiga periode. Ia menegaskan saat ini Pemerintah harus fokus pada pandemi Covid-19.

“Sebaiknya sibukkan pada agenda rakyat. Ini hanya kepentingan elit saja,” kata Zaky.

Dalam kesempatan itu, dia juga membahas mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya perlu pembenahan serius karena pertumbuhan ekonomi di kuartal dua yang cukup pesat tetapi efeknya tidak dirasakan oleh banyak masyarakat.

“Peningkatan kekayaan hanya dirasakan oleh kelompok tertentu atau usaha-usaha besar. Usaha mikro kecil dan menengah ke bawah yang selama ini paling banyak terdampak Covid-29 ternyata tidak mengalami perbaikan ekonomi. Sangat disayangkan,” kata Zaky.

Penyumbang Bahan: Mela Syaharani




News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait