Masuk Musim Tanam, Pusri Pasok Pupuk Urea Untuk Sembilan Provinsi

Saat ini tengah terjadi lonjakan lonjakan permintaan pupuk di pasar global yang dibarengi dengan turunnya pasokan atau suplai.
Image title
21 November 2021, 12:54
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (kanan) didampingi Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Tri Wahyudi (tengah) meninjau gudang penyimpanan pupuk milik PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (28/5/2021). Dalam kunjungannya
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/rwa.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (kanan) didampingi Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Tri Wahyudi (tengah) meninjau gudang penyimpanan pupuk milik PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (28/5/2021).

PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) menyiapkan 173.432 ton pupuk urea untuk sembilan provinsi menjelang musim tanam periode Oktober 2021-Maret 2022.

VP Humas PT Pusri Soerjo Hartono mengatakan sembilan provinsi itu adalah Bangka Belitung, Sumsel, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan sebagian Jawa Timur.

“Total stok Urea yang disiapkan untuk sembilan provinsi itu 173.432 ton dari ketentuan yang ditetapkan 99.566 ton,” kata Soerjo, dilansir dari Antara, Minggu (21/11).

Selain Urea, anak usaha PT Pupuk Indonesia ini juga menyiapkan kebutuhan pupuk NPK untuk dua provinsi yakni Sumsel dan Lampung dengan total stok 24.567 ton dari ketentuan 10.828 ton.

Advertisement

Kebutuhan pupuk bersubsidi telah disalurkan sesuai dengan ketentuan pemerintah yaitu disalurkan kepada petani yang telah terdaftar dan masuk dalam e-RDKK agar mempermudah proses evaluasi dan alokasi oleh Kementerian Pertanian.

Selain bertanggung jawab menyediakan pupuk bersubsidi, guna mengantisipasi lonjakan kebutuhan petani, Pusri juga menyiapkan stok pupuk nonsubsidi dan rangkaian produk inovasi Pusri. Khusus pupuk nonsubsidi, harganya ditentukan oleh mekanisme pasar, khususnya pasar internasional.

Soerjo mengatakan saat ini, di pasar global sedang terjadi lonjakan permintaan pupuk yang dibarengi dengan turunnya pasokan atau suplai di pasar internasional.

Penyebabnya, antara lain, beberapa negara penghasil pupuk menghentikan sementara kegiatan ekspor guna memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Negara-negara itu antara lain China, Rusia dan beberapa negara lain juga mengalami kesulitan pupuk untuk kebutuhan dalam negerinya.

Soerjo menjelaskan kondisi ini diperparah dengan adanya krisis energi yang terjadi di Eropa yang mengakibatkan terjadinya lonjakan harga gas dunia. Ini menyebabkan biaya produksi pupuk juga naik secara signifikan. Akibatnya, banyak pabrik pupuk yang menghentikan produksinya karena biaya produksi terlalu tinggi.

Namun, adanya kekurangan suplai ini membuat harga pupuk di pasar internasional kembali naik, termasuk pupuk urea.

Hal inilah yang memicu terjadinya kenaikan harga pupuk yang signifikan karena permintaan melebihi suplainya, khususnya pupuk jenis DAP dan KCl Harga urea impor saat ini, adalah sekitar Rp 12,7 juta per ton.

 

Mengantisipasi hal tersebut di atas, Pupuk Indonesia Grup, memberlakukan harga pupuk yang masih terjangkau dan tidak terlalu memberatkan petani dan konsumennya.

“Saat ini, harga yang ditetapkan oleh Pupuk Indonesia Grup sekitar 74% persen dari harga pupuk internasional,” kata Soerjo.

Reporter: Rezza Aji Pratama
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait