Nasib Lima Perusahaan Tambang Menggantung Pascaputusan MK

Putusan Mahkamah Konstitusi membuat izin perusahaan tambang tidak lagi dijamin perpanjangannya sehingga memberikan ruang pemerintah untuk mengevaluasi.
Image title
9 Desember 2021, 20:04
Nasib Lima Perusahaan Tambang Menggantung Pascaputusan MK
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/foc.
Alat berat beroperasi di kawasan penambangan batu bara Desa Sumber Batu, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Rabu (8/7/2020).

Nasib perpanjangan kontrak lima perusahaan tambang batu bara saat ini masih menggantung setelah Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan pasal terkait jaminan perpanjangan izin usaha pertambangan khusus (IUPK).

PT Kaltim Prima Coal jadi yang paling mendesak status perizinannya sebab akan habis pada 31 Desember 2021. Selain itu, ada juga PT Multi Harapan Utama (1 April 2022), PT Adaro Indonesia (1 Oktober 2022), PT Kideco Jaya Agung (13 Maret 2023), dan PT Berau Coal (26 April 2025).

Dalam amar putusannya, MK mengganti kata 'dijamin perpanjangan' di pasal 169A ayat (1) UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang Minerba menjadi "dapat diperpanjang".

Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli menilai keputusan MK terkait penghapusan frasa perpanjangan KK dan PKP2B yang berlaku otomatis sebagai sesuatu yang positif.

Advertisement

Menurutnya, frasa "dijamin" tersebut sebenarnya dapat menjadi dua mata pisau yang berbeda. Jika perusahaan pemegang KK dan PKP2B beroperasi dengan baik, kata "dijamin" tersebut tidak akan menimbulkan masalah.

"Tetapi bagaimana jika sebaliknya? Perusahaan ternyata mempunyai track record yang buruk. Maka frasa "dijamin" tersebut justru akan merugikan negara dan masyarakat," kata dia kepada Katadata.co.id Kamis (9/12).

Rizal menyarankan perpanjangan KK dan PKP2B tetap perlu diatur dalam UU sebagai bentuk jaminan investasi di sektor pertambangan demi kepastian hukum. Keputusan MK yang menghapus kata “dijamin” bukan berarti pemegang PKP2B tidak dapat mengajukan perpanjangan kontrak, yang nantinya dikonversi menjadi IUPK operasi produksi.

Ia melanjutkan, dalam putusan MK, perpanjangan PKP2B masih memungkinkan diberikan. Setidaknya dua kali perpanjangan dalam bentuk IUPK sebagai kelanjutan operasi masing-masing paling lama 10 tahun.

"Artinya, apakah izin KK dan PKP2B dari sebuah perusahaan dapat diperpanjang atau tidak, yang menentukan adalah performa dan rekam jejak dari perusahaan tersebut selama beroperasi," katanya.

Bila perusahaan tersebut mempunyai rekam jejak yang bagus, pemerintah tidak punya alasan untuk tidak memperpanjang izin KK dan PKP2B. Sebaliknya, jika rekam jejaknya buruk, pemerintah sudah sepatutnya tidak memberikan izin perpanjangan.

Karena itu menurut Rizal, yang perlu ditekankan justru adalah proses evaluasi dan penilaian atas kinerja KK dan PKP2B yang akan diperpanjang kontraknya. Pemerintah harus membuat standar dan ukuran berdasarkan beberapa variabel.

Sebagai contoh terkait jumlah cadangan, umur tambang, kapasitas produksi, pelaksanaan good mining practice, pengelolaan lingkungan, dan reklamasi. Kemudian mengenai program pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan ekonomi lokal, kontribusi keuangan negara dan daerah serta pemenuhan kewajiban-kewajiban lainnya.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menilai putusan MK tersebut tidak menghilangkan hak perusahaan pemegang PKP2B untuk mendapatkan perpanjangan kontrak. Dia optimistis anggotanya akan mendapatkan kontrak baru. "Mengingat perusahaan-perusahaan anggota kami melaksanakan kewajiban sesuai ketentuan di kontrak," kata dia.

Selain itu, kontribusi perusahaan baik terhadap perekonomian nasional regional serta kontribusi terhadap ketahanan energi juga cukup signifikan. Sehingga hal itu seharusnya menjadi salah satu pertimbangan bagi pemerintah.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menilai kata "dijamin perpanjangan" diganti menjadi "dapat diperpanjang" bagi Pemegang KK dan PKP2B  seharusnya bukan menjadi soal. Mengingat PKP2B yang akan habis masa kontraknya merupakan kumpulan perusahaan tambang raksasa.



Sehingga ia optimistis perusahaan tambang yang akan berakhir masa kontraknya akan mendapatkan izin perpanjangan. "Karena ini kan perusahaan yang padat karya terkait masalah karyawan belum lagi terkait reklamasinya. Ini masih banyak hal yang jadi pertimbangan saya kira ini adalah proses," ujarnya.

Di samping itu, Mamit menilai putusan MK ini sebenarnya juga dapat menjadi peluang bagi BUMN tambang pelat merah untuk terlibat dalam pengelolaan wilayah tambang bekas pemegang KK dan PKP2B. Hal tersebut tinggal tergantung BUMN memberikan penawaran terbaik.

Sementara, Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin belum merespon pesan Katadata.co.id saat dikonfirmasi mengenai kelanjutan dari kontrak tambang batu bara lima perusahan yang akan berakhir. 

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait