Cerita Nilamsari Dua Dekade Membangun Baba Rafi hingga Bisa IPO

Nilamsari Sahadewa memulai kebab Baba Rafi dari usaha kaki lima di Surabaya. Sempat menghadapi prahara pada 2017, Baba Rafi terus bangkit hingga sukses melakukan initial public offering (IPO).
Rezza Aji Pratama
13 Agustus 2022, 11:28
Nilamsari Founder Baba Rafi
Katadata

Perjalanan jatuh bangun Nilamsari Sahadewa membangun merek Baba Rafi akhirnya terbayar ketika PT Sari Kreasi Boga Tbk (SKB Food) resmi melantai di bursa pada 5 Agustus 2022. Emiten anyar berkode RAFI itu melepas 30,31% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga penawaran Rp 126 per lembar saham. 

Baba Rafi sukses besar saat initial public offering (IPO) dengan over subscribe hingga 75 kali. Sebanyak 21.000 investor memesan 12,44 miliar saham RAFI yang setara dengan Rp 1,57 triliun.

Sebelum sukses mencatatkan saham perdana, Baba Rafi harus melewati perjalanan panjang yang berliku. Baba Rafi dibangun oleh pasangan suami istri Nilamsari Sahadewa dan Hendy Setiono di Surabaya sekitar 19 tahun lalu. Bermula dari usaha kaki lima, Baba Rafi berkembang pesat dengan model bisnis waralaba.

Perlahan tapi pasti, outlet-outlet Baba Rafi mulai bermunculan hingga keluar Surabaya. Dari Kalimantan hingga Sulawesi. Dari Jakarta hingga ke luar negeri.

Advertisement

Namun prahara rumah tangga menghantam keduanya di tahun 2017. Pasangan itu memutuskan untuk bercerai ketika Baba Rafi justru sedang di puncak popularitas. “Itu masa-masa yang sangat berat dalam hidup saya,” kata Nilam saat berbincang dengan Katadata.

Nilam dan Hendy lantas memutuskan Baba Rafi tetap menjadi merek yang bisa dipakai keduanya. Mereka menutup perusahaan yang lama, lantas membangun sendiri perusahaan masing-masing untuk menaungi Baba Rafi. Hendy mendirikan PT Baba Rafi Enterprise, sedangkan Nilam membangun SKB Food yang akhirnya melantai bursa.

Di salah satu kafe Baba Rafi di kawasan Bintaro, Nilam merefleksikan perjalanannya selama hampir dua dekade. Kepada Katadata, ia bercerita bagaimana bertahan menghadapi ujian di tahun 2017 itu, juga soal mimpinya membangun UMKM hingga bisa membawa Baba Rafi melantai di pasar modal. 

Berikut petikan wawancaranya:

PT Sari Kreasi Boga Tbk (SKB Food) yang menaungi merek Baba Rafi baru saja IPO, bagaimana Anda merefleksikan belasan tahun perjalanan Anda membangun bisnis?

Baba Rafi adalah perusahaan yang benar-benar saya bangun dari 19 tahun lalu, sekitar 2003. Nama Rafi itu sebetulnya adalah nama anak saya yang pertama. Namanya Rafi Darmawan yang sekarang usianya sudah 19 tahun juga.

Dulu mulai dari usaha gerobak sampai akhirnya berkembang, kami meluncurkan konsep waralaba, lalu buka outlet di Jakarta, sampai ke luar negeri.

Jadi 19 tahun lalu itu modal kami sekitar Rp 4 juta untuk beli gerobak, peralatan, bahan baku, sewa tempat, dan Rp 500.000 sisanya buat bulan berikutnya. 

To be honest, background saya enggak bisa masak. Jadi dulu awalnya jualan burger yang ternyata direspons bagus oleh pasar. Itu pun sebetulnya saya ambil dari suplier, jadi enggak masak dari nol. Kita hanya mix and match sausnya. 

Lama-lama burger ini pesaingnya semakin banyak, sampai akhirnya kita bikin kebab sebagai menu tambahan sebetulnya. Ternyata responnya luar biasa.

Latar belakang saya kebetulan komunikasi, jadi saya tahu bagaimana membawa brand ini jadi viral. Akhirnya dari satu lompatan ke lompatan lain, kami memutuskan untuk memperbesar franchise. Mulai dari Surabaya ke Malang, Kalimantan, Sulawesi, sampai akhirnya 2008 kami buka kantor di Jakarta. 

Setahun kemudian kami buka di Malaysia, lalu merambah ke India saat Covid-19. Jadi betul-betul perjalanan panjang.

Sebagai sebuah brand, Baba rafi sempat mengalami tantangan besar pada 2017. Bisa diceritakan apa yang terjadi saat itu?

Memang saat itu very challenging buat Baba Rafi. Saya harus berpisah dengan partner bisnis yang sekaligus suami [Hendy Setiono]. Jadi secara personal dan bisnis jatuh banget. Itu tahun yang berat untuk saya.

Akhirnya sesuai kesepakatan di pengadilan, kami setuju kalau brand Baba Rafi bisa dipakai berdua. Kemudian, PT Baba Rafi Indonesia harus ditutup dan kami membuka perusahaan masing-masing. Jadi perusahaannya dibelah jadi dua. 

Anda bisa bayangkan membagi satu perusahaan menjadi dua, itu luar biasa sekali tantangannya. Saya membuka PT Sari Kreasi Boga (SKB Food) dan beliau membuat PT Baba Rafi Enterprise. Jadi memang kita sudah menjadi dua entitas yang berbeda.

Dalam pembagian itu, apa saja yang dipisahkan?

Semuanya kami pisah. Mulai dari aset, karyawan, area operasi, bahkan intangible asset seperti media sosial [Facebook dan Instagram] itu betul-betul dibagi. 

Untuk operasional misalnya, mulai dari Aceh sampai Yogyakarta itu bagian saya. Sementara dari Solo hingga Papua itu milik beliau. Wilayah Kalimantan dan outlet di luar negeri kita bagi bersama karena alasan jarak pengiriman biar lebih terjangkau.

Itu masa-masa yang sangat sulit untuk membagi semua aset tersebut. Tapi memang segala sesuatu harus dikerjakan pada saat itu. Itu hampir dua tahun baru benar-benar kelar untuk proses pemisahan perusahaan.

Baba Rafi IPO
Baba Rafi IPO (SKB Food) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anda mengalami masa-masa berat di tahun itu, apa yang membuat Anda bertahan?

To be honest, cobaan hidup saya waktu itu luar biasa berat. Bulan Januari 2017 itu saya memutuskan untuk bercerai, kemudian baru selesai di bulan April. Nah, di bulan Februari, ibu saya divonis menderita leukimia. Ibu saya akhirnya hanya bertahan tiga bulan. 

Jadi benar-benar yang kayak Tuhan itu mencoba saya. Dari pasangan bisnis diambil, pasangan hidup diambil, ibu saya diambil, jabatan saya diambil juga. Saya secara keuangan itu benar-benar hancur juga. 

Tapi at the end of the day, memang cobaan kan kita bisa marah. Tapi namanya hidup kadang rodanya di bawah ya kita hadapi. Sebagai manusia kita harus ikhtiar. Salah satu proses ikhtiar saya adalah melakukannya dengan cara yang berbeda.

Ketika kita jatuh, berdamai dengan diri sendiri adalah hal penting. Kadang kita suka denial dan bilang bahwa we’re ok, we’re ok. Padahal enggak ada salahnya juga kita meminta bantuan. Kalau kita telan sendiri itu juga enggak bagus kan, larinya menghantam diri sendiri. 

Banyak sesi dalam hidup saya, ketika saya minta tolong ke orang, banyak yang membantu. Buat saya itu kayak titik balik kehidupan. Pembelajaran dari 19 tahun terakhir saya rasa adalah sebagai manusia itu kita bukan superman dan kita kalau mau bergerak jauh, harus bergerak bersama. 

Pembelajaran terpenting adalah jangan pernah berhenti apapun keadaannya. Kadang kita enggak harus menyelesaikan masalah, kalau stress ditaruh dulu, ketemu orang. Kalau mampet kita enggak tahu juga, it’s not the end of the day, tapi selama kita ikhtiar pasti akan diberi jalan.  

Setelah pecah kongsi, Anda mulai mendirikan SKB Food?

Jadi sebenarnya SKB Food itu dibangun memang hasil dari resolusi perpisahan kita. Mau tidak mau, ketika saya mendapat [area operasi Baba Rafi] Indonesia Barat, otomatis ini harus dinaungi oleh sebuah entitas legal.

Setelah pecah kongsi, akhirnya saya sadar bisnis bukan sekadar menjalani sendiri. Kalau kita mau cepat, kita mau panjang, bisnis harus berpartner. Jadi selama 2017-2018 kita mencari partner yang cocok. 

Akhirnya Alhamdulilah 2019 kita mulai ada partner yang cocok. Tahun 2020 kita juga mulai bertransformasi karena saya suka dengan idea of being korporatisasi. Menurut saya, bisnis itu tidak hanya boleh bergantung pada owner-nya. Karena kalau terlalu tergantung dengan owner-nya, menurut saya itu bisnis yang masih sangat fragile

Selanjutnya: Strategi bisnis SKB Food

Reporter: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait