Memahami Konsep Hingga Ciri Model Pembelajaran Secara Lengkap

Model pembelajaran menjadi salah satu konsep yang harus dikuasai bagi seorang guru sebelum mengajar kepada anak didiknya agar proses belajar mengajar menjadi lebih baik.
Image title
5 Oktober 2021, 12:51
Memahami Konsep Hingga Ciri Model Pembelajaran Secara Lengkap
Muhammad Zaenudddin|Katadata
Ilustrasi kegiatan belajar dan mengajar di masa pandemi Covid-19

Dalam kerangka pembelajaran ada salah satu bagian yang menduduki hierarki tertinggi yaitu model pembelajaran. Sebagai bagian yang menduduki posisi teratas maka lingkup dari keseluruhan kerangka pembelajaran diharuskan memberikan pemahaman dasar atau filosofis dalam proses belajar mengajar.

Mengutip tulisan penerbit Deepublish, dalam model pembelajaran terdapat strategi yang menjelaskan operasional, alat, atau teknik yang digunakan siswa dalam prosesnya. Dalam strategi pembelajaran ada metode yang menjelaskan langkah-langkah untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tingkatan ini memiliki fungsi untuk menjelaskan hubungan dari kerangka pembelajaran tersebut.

Makna dari model pembelajaran ini sering diartikan sebagai pendekatan pembelajaran. Oleh karenanya dalam pendekatan pembelajaran, di dalamnya terdapat pelbagai rencana dan dilengkapi dengan alur yang digunakan sebagai petunjuk dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Mengingat model pembelajaran adalah dasar untuk strategi dan metode , perlu diketahui pengertian model pembelajaran menurut beberapa ahli untuk mengetahui lebih jauh.

Model Pembelajaran di Mata Para Ahli

Ada berbagai macam pendapat mengenai arti model pembelajaran yang diungkapkan oleh sejumlah ahli, antara lain: 

Arends (1997)

Di mata Arends model pembelajaran memiliki makna pada pendekatan tertentu terhadap instruksi yang terdiri dari tujuan, sintaks (pola urutan atau alur), lingkungan, hingga sistem pengelolaan secara keseluruhannya. Instruksi yang dimaksud adalah segala ketentuan untuk dikerjakan siswa. Menurut Arends, seperangkat instruksi ini perlu memenuhi berbagai komponen agar dapat menjadi kesatuan model pembelajaran yang utuh dan berfungsi dengan baik untuk siswa.

Adi (2000)

Menurut Adi, model pembelajaran diartikan sebagai kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur dalam mengorganisasikan pengalaman pembelajaran. Sehingga penentuan model pembelajaran tidak lepas dari mempertimbangkan tujuan pembelajaran. Kesinambungan model dengan tujuan pembelajaran akan mempermudah dalam penyusunan model pembelajaran secara menyeluruh. 

Fungsi model pembelajaran sebagai pedoman bagi guru dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kegiatan belajar dan mengajar sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu dan model pembelajaran yang digunakan berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan dan kondisi. 

Trianto (2000)

Berbeda dengan dua konsep sebelumnya, Trianto menjabarkan beberapa hal mengenai model pembelajaran. Menurutnya, model pembelajaran adalah perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran di kelas atau dalam tutorial. Pengertian ini hampir senada dengan Adi, namun Trianto lebih menjabarkan pada komponen-komponen dalam model pembelajaran. Komponen-komponen tersebut di antaranya tujuan pembelajaran, langkah-langkah, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.

Ciri-ciri Model Pembelajaran

Mengutip buku Pentingnya Kompetensi Guru dalam Kegiatan Pembelajaran dalam Perspektif Islam yang terbit di tahun 2016, dijelaskan mengenai ciri-ciri model pembelajaran yang baik. Ciri model pembelajaran yang baik, melingkupi beberapa hal seperti pemberian arahan atau indikator kepada guru dalam penyusunannya.

Berikut ciri-ciri dari model pembelajaran yang baik dan benar:

1. Rasional dan Berasaskan Pikiran Logis

Studi tentang model pembelajaran terus berkembang dan didasari harapan lebih baik ke depannya. Upaya perbaikan dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh siswa. Konsep model pembelajaran selalu dinamis karena mendapat pengembangan dari para peneliti-peneliti sebelumnya.

2. Memberi perhatian pada landasan pemikiran yang berbasis pada apa dan bagaimana kondisi siswa belajar

Memahami kondisi siswa sangat penting karena model pembelajaran ada diperuntukkan demi kepentingan mereka. Tidak hanya itu, tetapi juga memahami apa yang mereka butuhkan.

3. Sikap Mengajar yang Baik

Poin ini berkaitan dengan strategi dan metode pembelajaran. Tidak hanya menuntut siswa berperilaku tertentu, guru juga perlu berperilaku tertentu yang dapat mendukung model pembelajaran. Hal ini dikarenakan kerja sama yang baik antara guru dan siswa juga merupakan kunci keberhasilan proses pembelajaran.

4. Mendukung Terciptanya Lingkungan belajar yang Baik

Memahami kondisi lingkungan belajar yang sudah ada dan mengusahakan agar menjadi lebih baik merupakan ciri model pembelajaran yang baik. Karena lingkungan yang baik akan sangat mendukung kinerja siswa dalam proses pembelajaran.

Menurut Rofa’ah, keempat poin tersebut berpengaruh terhadap hasil pembelajaran. Sebagaimana yang disebutkan oleh Robert M. Gagné (1999), diperlukan kondisi internal dan eksternal yang baik untuk tercapainya hasil pembelajaran yang diharapkan.

Kondisi internal dipahami sebagai peningkatan memori siswa sebagai hasil belajar terdahulu. Sedangkan kondisi eksternal meliputi aspek atau benda yang dirancang atau ditata dalam suatu pembelajaran. Berdasarkan kondisi internal dan eksternal, guru perlu memperhatikan dan menyusun pembelajaran yang dapat merangsang dan mengaktifkan memori siswa sesuai materi yang diberikan sebelumnya dan dapat menghubungkannya dengan materi terbaru. Setelah melihat kondisi internal dan eksternal tersebut, menghasilkan ekspektasi hasil belajar yang dapat dikelompokkan menjadi lima, yaitu kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, kemampuan motorik, dan perilaku.

Model Pembelajaran Langsung

Pembelajaran langsung diartikan sebagai jenis model pembelajaran yang materinya disusun oleh guru untuk disampaikan secara langsung kepada siswa. Model ini memiliki kaitan dengan metode pembelajaran ekspositori, yaitu penyampaian materi dari guru ke murid dilaksanakan secara langsung melalui ceramah, demonstrasi, dan tanya jawab.

Karakteristik model pembelajaran langsung:

  • Siswa mendapatkan keterampilan secara langsung dan segera mendapatkan pengaruh dari model pembelajaran langsung.
  • Pembelajaran dilakukan dengan berorientasi pada tujuan tertentu.
  • Materi sudah disusun oleh guru.
  • Lingkungan belajar sudah terstruktur dan disusun oleh guru.

Sama seperti model lainnya, model pembelajaran langsung juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena konsep awal penyusunan model pembelajaran, perancangan kerangka pembelajaran didasarkan pada kesesuaiannya dengan kondisi guru dan siswa serta sejalan dengan tujuan yang akan dicapai atau tidak.

Kelebihan model pembelajaran langsung:

  • Guru memiliki wewenang penuh terhadap isi materi yang sudah disiapkannya sehingga lebih mudah dalam mempertahankan fokus siswa.
  • Model ini dapat diterapkan untuk kelas besar dan kecil.
  • Dapat mendorong siswa lebih terbuka untuk mengungkapkan kesulitan secara langsung kepada guru.
  • Efektif untuk pembelajaran tentang materi yang terstruktur dengan waktu terbatas.
  • Efektif untuk mengajarkan konsep dan keterampilan-keterampilan yang eksplisit kepada siswa yang nilai sekolahnya masih rendah.

Kekurangan model pembelajaran langsung:

  • Keterampilan siswa sangat bisa berbeda-beda. Model ini bergantung pada kemampuan siswa mengasimilasi materi melalui kegiatan mendengarkan, mengamati, dan mencatat.
  • Sulit dalam mengatasi perbedaan kemampuan, ketertarikan, dan gaya belajar siswa.
  • Siswa dituntut untuk terlibat secara aktif, sehingga sulit bagi siswa yang lebih tertarik untuk mengembangkan keterampilan sosial dan interpersonal.
  • Guru memiliki peran paling esensial dalam proses pembelajaran. Jika guru menunjukkan sikap tidak kompeten seperti tidak memahami materi atau tidak komunikatif, kemungkinan terburuk adalah siswa tidak mematuhi kelas, kesulitan dalam memahami materi, dan menghambat kegiatan belajar secara menyeluruh.

Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Konsep ini memberikan siswa kesempatan untuk belajar dengan salah satu strategi pembelajaran yaitu penyelidikan dan inkuiri terhadap situasi masalah yang autentik atau terjadi di kehidupan nyata. Model ini mendorong siswa untuk menyelesaikan masalah menggunakan kemampuan nalar dan melatih kemampuan belajar secara independen.

Karakteristik pembelajaran berbasis masalah:

  • Fokus pada keterkaitan antar-disiplin ilmu.
  • Mendorong untuk menganalisis masalah yang selanjutnya dilakukan pengembangan hipotesis, melakukan eksperimen, hingga merumuskan kesimpulan.
  • Mendorong agar hasil pembelajaran adalah karya nyata yang menjelaskan bentuk dari penyelesaian masalah.

Kelebihan model pembelajaran berbasis masalah:

  • Mendorong siswa menyelesaikan masalah yang realistik dan memiliki dampak pada kehidupan nyata
  • Memupuk sifat inkuiri siswa
  • Mendorong kemampuan siswa dalam penyelesaian masalah

Kekurangan model pembelajaran berbasis masalah:

  • Persiapan pembelajaran cenderung kompleks karena belum tentu siswa dan guru bisa memenuhi alat atau instrumen yang diperlukan dalam proses belajar.
  • Hasil pembelajaran bisa menjadi tidak maksimal apabila kesulitan dalam mencari masalah yang relevan untuk siswa
  • Membutuhkan waktu lebih lama dari periode pembelajaran yang sudah ditetapkan.

Model Pembelajaran Kontekstual

Model ini menekankan pada keterkaitan antara materi pelajaran dengan kehidupan nyata. Kompetensi siswa dinilai berdasarkan kemampuan mereka dalam menghubungkannya. Berfokus pada "bagaimana cara’ siswa menggunakan pengetahuan baru mereka, model ini lebih mementingkan strategi belajar daripada hasilnya". Oleh karena berkutat pada kedekatannya dengan kehidupan nyata, umpan balik diperlukan untuk mengembalikan pada karakteristik model pembelajaran kontekstual ini.

Komponen utama model pembelajaran kontekstual:

  • Menggunakan landasan berpikir konstruktivisme yang menekankan pemahaman siswa secara independen berdasarkan pengetahuan terdahulu.
  • Proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis (inkuiri).
  • Pertanyaan pertama yang mendorong jawaban dan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.
  • Menekankan pada sistem belajar secara berkelompok.
  • Ada model yang menjadi acuan bagi pencapaian kompetensi siswa. Guru bukan satu-satunya model, tetapi dapat melibatkan siswa atau didatangkan dari luar.
  • Refleksi yang bisa berupa pertanyaan langsung, jurnal, pesan dan kesan dari siswa, diskusi secara langsung, atau hasil karya.
  • Penilaian nyata dengan mengukur semua aspek pembelajaran yang terdiri dari proses, kinerja, dan hasil pembelajaran siswa.

Ada banyak referensi yang menjabarkan mengenai model pembelajaran dari berbagai sudut pandang ahli, makanya dapat digunakan sebagai pembanding demi menyelaraskan pemahaman dalam proses belajar dan mengajar. 

Editor: Safrezi
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait