ANALISIS DATA

Tiga Langkah Korea Selatan Sukses Menekan Pandemi Corona

Andrea Lidwina

03/04/2020, 10.00 WIB

Ilustrasi: Joshua Siringoringo

WHO memuji cara Korea Selatan menangani virus corona, baik dalam menahan laju penyebarannya maupun perawatan pasien terinfeksi. Rasio sembuhnya pun mencapai 48%, sedangkan tingkat kematiannya hanya 1,5% pada 27 Maret.


Bermula dari satu pasien pada awal Februari, jumlah kasus Covid-19 di Korea Selatan (Korsel) melonjak drastis. Dari rata-rata dua kasus per hari, terjadi tambahan kasus baru hingga 900 orang pada akhir Februari. Ini disebabkan seorang perempuan berusia 61 tahun yang kemudian diidentifikasi sebagai Pasien 31.

Perempuan itu sebelumnya telah mengalami gejala pada awal Februari, dan disarankan untuk beristirahat dan melakukan tes. Namun dia masih menghadiri dua kali ibadah yang diikuti ribuan jamaah di Gereja Shincheonji, Daegu, pada 9 dan 16 Februari. Ia sendiri baru melakukan tes pada 17 Februari dan dinyatakan sebagai Pasien 31 sehari berikutnya.

Korea Centers for Disease Control and Prevention (KCDC) memperkirakan ada 9.200 orang yang mengikuti dua peribadahan tersebut. Sekitar 1.200 orang di antaranya mengaku mengalami gejala mirip flu. Tak ayal dari Pasien 31 lalu terbentuk klaster baru kasus corona, sekaligus yang terbesar dan muncul berentet sejak 20 Februari. Dari 9.137 kasus terkonfirmasi positif pada 25 Maret, sekitar 56 persen (5.080 kasus) terhubung dengan Pasien 31.

Tanpa menunggu waktu, pemerintahan Presiden Moon Jae-in langsung menetapkan kota di sebelah tenggara Daegu sebagai “kawasan bencana khusus”. Kebijakan ini lalu diikuti serangkaian langkah mengatasi penyebaran virus yang menyerang saluran pernafasan tersebut.

Titik terang pun muncul. KCDC mencatat pertambahan kasus pada pekan pertama Maret 2020 turun ke kisaran 500-600 kasus per hari. Kemudian turun lagi ke rentang 100-200 kasus per hari pada pekan berikutnya. Pada 23 Maret 2020, hanya ada 64 kasus baru, sekaligus yang terendah sejak virus corona mewabah di negara itu.

Strategi yang diambil pemerintah Korsel berbeda dengan dengan kebijakan isolasi atau lockdown yang diterapkan sejumlah negara, seperti Tiongkok di Wuhan, Italia, dan Spanyol. Korsel justru mengambil langkah yang melibatkan partisipasi penuh masyarakat. Langkah yang kemudian disarankan agar diterapkan ke sejumlah negara yang kasusnya meningkat tajam.

Langkah Pertama: Pemeriksaan Massal

 

Foto: Yonhap News

Salah satu kunci sukses Korsel menekan tambahan kasus adalah melakukan pemeriksaan secara massal dan gratis. Dengan cara itu, pasien positif Covid-19 bisa lebih cepat terdeteksi dan mendapatkan perawatan, sehingga mencegah penularan ke banyak orang.

Selain di klinik dan rumah sakit, pemerintah menyediakan stasiun pemeriksaan bersistem drive-thru di berbagai kota. Para tenaga kesehatan hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk mengukur suhu tubuh serta melakukan swab hidung dan tenggorokan setiap orang yang datang. Hasil pemeriksaan dikabarkan satu hari setelahnya melalui SMS.

Menurut Wakil Direktur Yeungnam University Medical Center Seo Wan-seok, yang dikutip South China Morning Post, sistem itu bisa mendiagnosis banyak orang dalam waktu singkat, tetapi tetap meminimalisasi penyebaran virus corona.

“Jika pasien pertama positif, pasien kedua bisa terinfeksi karena mereka ada di jarak yang dekat dalam waktu tertentu. Namun, jika mereka berada di mobil masing-masing, tidak ada kemungkinan terinfeksi,” ujarnya.

Dalam sehari, Korea Selatan bisa memeriksa sekitar 15 ribu orang. Hingga 24 Maret 2020, sebanyak 348.600 orang telah menjalani pemeriksaan. Dengan populasi sekitar 51,3 juta jiwa, ada sekitar 6,8 ribu orang yang dites spesimennya per 1 juta populasi.

Langkah Kedua: Social Distancing

 

Foto: ANTARA FOTO/REUTERS/Kim Kyung

Meski pemeriksaan massal berhasil  menurunkan kurva virus corona di Korsel, pemerintah tetap bersiaga jika terjadi gelombang kasus besar yang kedua.  Penyebabnya, ada kasus-kasus baru yang saling berkaitan atau membentuk penyebaran komunitas. Terutama yang muncul di gereja, rumah sakit, perkantoran, serta pusat olahraga.

“Usaha keras menyelidiki klaster Gereja Shincheonji membuat kami belum melihat bagian Korea Selatan lainnya dengan seksama,” kata Spesialis Penyakit Menular Seoul National University Oh Myoung-don, yang dikutip dari Science.

Oleh karena itu, Perdana Menteri Korsel Chung Sye-kyun menetapkan pemberlakuan social distancing selama 15 hari hingga 3 April 2020. Artinya kegiatan di luar rumah dibatasi, kecuali untuk berbelanja bahan makanan atau mengunjungi dokter. Jika bepergian ke luar pun harus menjaga jarak minimal dua meter dari orang lain.

Chung mengatakan, seperti dilansir dari The Korea Herald, langkah ini harus dilakukan oleh semua penduduk. Tujuannya menekan laju penyebaran dan jumlah pasien virus corona hingga di bawah kapasitas fasilitas kesehatan.

Sebelumnya, pemerintah hanya memberikan imbauan agar masyarakat berkesadaran menerapkan social distancing. Namun, langkah ini mulai dilupakan, terutama oleh kelompok usia muda, ketika tren kasus Covid-19 mulai menurun. Alhasil pemerintah pun menerapkan paksaan dengan mengenakan denda dan ancaman pidana bagi yang melanggar kebijakan social distancing.

Langkah Ketiga: Komunikasi yang Terbuka

 

Foto: ANTARA FOTO/REUTERS/Kim Kyung-Hoon/wsj/cf

World Health Organization (WHO) memuji cara Korea Selatan menangani virus corona, baik dalam menahan laju penyebarannya maupun perawatan pasien terinfeksi. Rasio sembuhnya pun mencapai 48, persen, sedangkan tingkat kematiannya hanya 1,5 persen pada 27 Maret.

Pengajar senior virologi di University of Kent Jeremy Rossman berpendapat, kesuksesan itu bergantung pada kerja sama pemerintah dan warga. “Oleh sebab itu, dibutuhkan komunikasi yang efektif dengan mereka,” ujarnya dikutip dari South China Morning Post.

“Semakin transparan, cepat, dan akurat informasi yang tersedia, semakin tinggi kepercayaan penduduk kepada pemerintah. Mereka pun akan bertindak rasional untuk kebaikan bersama,” kata ahli penanganan pernafasan di Chinese University of Hong Kong David Hui Shu-Cheong.

***