Korban Banjir Bengkulu, 10 Orang Meninggal dan 12 Ribu Mengungsi

“Data dampak bencana ini dapat bertambah mengingat belum semua lokasi bencana dapat dijangkau,” kata Kepala Humas BNPB.
Image title
28 April 2019, 14:30
Foto udara kawasan terdampak banjir di perumahan kawasan Balai kota, Bengkulu, Sabtu (27/4/2019). Tingginya intensitas hujan dua hari terakhir serta meluapnya volume sungai Bengkulu mengakibatkan banjir setinggi 100 - 175 cm di sejumlah titik rawan banjir
ANTARA FOTO/David Muharmansyah/pd.
Foto udara kawasan terdampak banjir di perumahan kawasan Balai kota, Bengkulu, Sabtu (27/4/2019). Tingginya intensitas hujan dua hari terakhir serta meluapnya volume sungai Bengkulu mengakibatkan banjir setinggi 100 - 175 cm di sejumlah titik rawan banjir di kota dan kabupaten se-provinsi Bengkulu diantaranya Bengkulu Selatan, Kepahyang, Rejang Lebong, Lebong, Bengkulu Utara, Muko - Muko, dan Seluma.

Hujan deras telah menyebabkan bencana banjir dan longsor di wilayah Bengkulu. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bengkulu mencatat ada 10 orang korban meninggal dunia, 8 orang hilang, dan 12 ribu orang mengungsi.

Selain itu, ada dua orang luka berat, dua orang luka ringan, dan 13 ribu jiwa terdampak bencana. Adapun kerusakan fisik meliputi 184 rumah rusak, empat unit fasilitas pendidikan, 40 titik infrastruktur rusak (jalan, jembatan, oprit, gorong-gorong) yang tersebar di sembilan kabupaten/kota, dan sembilan lokasi sarana prasarana perikanan dan kelautan yang tersebar di lima kabupaten/kota. 

“Data dampak bencana ini dapat bertambah mengingat belum semua lokasi bencana dapat dijangkau,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Bencana Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis, Minggu (28/4).

(Baca: Terdampak Banjir, Pertamina Alihkan Pasokan BBM di Bengkulu)

Advertisement

Banjir disebabkan hujan yang terus terjadi sejak Jumat (26/4) sore hingga Sabtu (27/4) pagi. Akibatnya, air di sungai-sungai meluap dan longsor terjadi di banyak tempat. Bencana banjir dan longsor terjadi di 9 kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu yaitu Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Tengah, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Lebong, Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Selatan, dan Kabupaten Kaur.

Saat ini, banjir di sebagian wilayah sudah surut, tapi beberapa wilayah lain masih menggenangi permukiman. Dampak bencana susulan yang mungkin timbul adalah munculnya penyakit kulit dikarenakan minimnya air bersih, dan gangguan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Longsor dan banjir dapat berpotensi kembali terjadi jika curah hujan tinggi.

Gubernur Bengkulu Rohodin Mersyah telah memerintahkan seluruh jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Bengkulu untuk membantu penanganan darurat bencana. Dia juga melaporkan dampak bencana kepada Kepala BNPB Doni Monardo. 

Sementara BNPB telah mengirimkan Tim Reaksi Cepat untuk mendampingi BPBD dan memberikan bantuan dana siap pakai untuk operasional penanganan darurat. Kepala daerah yang wilayahnya terdampak bencana diimbau segera menetapkan status darurat untuk mempercepat penanganan.

(Baca: Korban Banjir Jakarta, Sebanyak 2.942 Warga Harus Mengungsi)

Posko Induk di BPBD Provinsi Bengkulu telah didirikan di Ruang Pusdalops dan mendirikan posko pengungsian di 12 titik lokasi. Penyelamatan, pencarian, dan evakuasi korban dilakukan dengan menggunakan perahu karet. Selain itu, dapur umum didirikan dan melaksanakan pendistribusian makanan. 

Pengerahan tenaga dari berbagai pihak juga dilakukan melalui aparat Pemda, POLDA, TNI/Polri, Lanal, BASARNAS, Tagana, ACT, PKPU, MDMC, mahasiswa, Perkumpulan Organisasi Tionghoa Bengkulu, dan organisasi lainnya. 

Perbaikan darurat dilakukan, khususnya jalur transportasi dan distribusi bantuan. Untuk mengatasi longsor yang menutup badan jalan, pemerintah setempat telah melakukan pembersihan material menggunakan alat berat. Untuk jalan dan jembatan yang putus,  telah dilakukan survei, pendataan, dan pengamanan dengan memasang rambu peringatan di jalan.

Sulitnya menjangkau lokasi titik banjir dan longsor menjadi kendala yang dihadapi dalam penanganan darurat. Sebab, seluruh akses ke lokasi kejadian terputus total. Koordinasi dan komunikasi ke kabupaten atau kota cukup sulit dilakukan karena aliran listrik banyak yang terputus. Pendistribusian logistik juga terhambat.

Titik lokasi bencana banjir dan longsor sangat banyak sedangkan jarak antar titik banjir dan longsor berjauhan. “Ini menyulitkan bantuan untuk mencapai semua lokasi,” ujar Sutopo.  Terbatasnya anggaran juga menyulitkan operasional penanganan bencana. 

Kebutuhan mendesak saat ini adalah tenda pengungsian, perahu karet,  selimut, makanan siap saji, air bersih, family kid, peralatan bayi, lampu darurat, peralatan rumah tangga untuk membersihkan lumpur dan lingkungan, sanitasi, dan tenaga relawan.

BPBD masih melakukan pendataan dampak bencana dan penanganan bencana. Masyarakat pun diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan di tengah potensi hujan berintensitas tinggi di wilayah Indonesia.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait