Bappenas Khawatir Perang Dagang Mengancam Ekonomi Daerah

"Karena ada proteksi dan tarif yang mempengaruhi ekspor," kata Bambang
Ameidyo Daud Nasution
10 Juli 2018, 16:49
Bambang Bappenas
Arief Kamaludin | Katadata

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengkhawatirkan dampak dari perang dagang yang terjadi saat ini. Dirinya merisaukan ekonomi di daerah penghasil komoditas akan terganggu lantaran persaingan yang ketat antarnegara.

Bambang juga memprediksi dampak paling besar dari fenomena ini akan terjadi pada sektor manufaktur seperti tekstil. Pulau Jawa juga diramal akan menjadi wilayah terdampak perang dagang paling besar. "Karena ada proteksi dan tarif yang mempengaruhi ekspor," kata Bambang di Jakarta, Selasa (10/7).

Dia berharap negosiasi yang dilakukan Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Amerika Serikat akan terus berjalan hingga menghasilkan kesepakatan yang terbaik. Pemerintah juga akan mendorong peningkatan daya saing produk dan ekonomi untuk mengantisipasi proteksionisme yang menimpa barang Indonesia.

"Kalau daya saing bagus, maka apabila dihalangi suatu negara pun barang kita bisa mengalir ke negara lain," ujar dia. (Baca: Perang Dagang Berpotensi Memukul Ekspor Komoditas Andalan)

Advertisement

Hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kembali memanas pada akhir pekan lalu setelah negeri tirai bambu itu memberi tarif tarif balasan untuk produk AS senilai US$ 34 miliar. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara meminta pemerintah waspada karena efek perang dagang dikhawatirkan bisa melebar ke sejumlah negara, termasuk Indonesia. 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga turut merespons ancaman tersebut dengan mengambil sejumlah langkah kebijakan. Salah satu upaya yang akan dilakukan pemerintah adalah dengan memberikan fasilitas bea masuk dan bea keluar. 

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto juga mengatakan bahwa untuk memacu ekspor furnitur, pemberian subsidi sertifikat SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu) bagi komoditas dasar kayu. Airlangga juga mengatakan pihaknya sedang mengkaji kemampuan industri nasional untuk dapat meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri dalam produksinya.

Jokowi juga meminta kajian penggunaan biodiesel sebesar 30 persen dari saat ini 20 persen. Hal ini akan meningkatkan penggunaan bahan bakar nabati sebesar 500 ribu ton per tahun. Kemudian memaksimalkan industri pariwisata dengan pengembangan bandara serta maskapai penerbangan murah (low cost carier/LCC).

"Karena pariwisata salah satu sektor yang bisa cepat digenjot," kata Airlangga. (Baca: Antisipasi Perang Dagang, Jokowi Siapkan Insentif Bagi Industri)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait