Luhut Pastikan Pembiayaan PLTA Kayan Tak Hanya untuk Tiongkok

"Semua terbuka asal punya uang dan bunga murah," kata Luhut
Ameidyo Daud Nasution
5 Juni 2018, 20:15
Luhut Binsar Pandjaitan
Arief Kamaludin|KATADATA
Menko Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan

Pemerintah membuka kesempatan bagi investor negara manapun dalam mengembangkan Provinsi Kalimantan Utara, termasuk mega proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kayan. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan memastikan pembiayaan PLTA Kayan tak hanya mengandalkan dana dari Tiongkok.

Pemerintah akan bersikap profesional dan tidak akan mengandalkan pembiayaan dari negara tertentu saja. Luhut menyebut Amerika Serikat juga berminat untuk membiayai pembangkit listrik tersebut. "Semua terbuka asal punya uang dan bunga murah," kata Luhut di kantornya, Jakarta, Selasa (5/6).

Dia menjelaskan sebenarnya investasi PLTA Kayan akan dilakukan oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Pembangkit ini akan memasok kebutuhan listrik smelter aluminium yang akan dibangun Inalum di Kalimantan Utara (Kaltara) dengan kapasitas 500 ribu - 1 juta ton.

Namun, Inalum tidak bisa sendiri dan membutuhkan mitra untuk berinvestasi di infrastruktur senilai US$ 17 miliar tersebut. "Tapi tetap lead-nya nanti tetap oleh Inalum," kata dia. (Baca: Mencari Peruntungan Kedua Dana Tiongkok di Jalur Sutera)

Advertisement

Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin mengatakan PLTA dengan kapasitas 1,7 Gigawatt (GW) ini mulai dibangun tahun depan. Pembangunan pembangkit ini memerlukan waktu lima tahun. "Pak Luhut maunya secepat mungkin, tapi tergantung pemerintah," kata dia.

Sementara Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambrie mengatakan pemerintah ingin mempercepat investasi di Pelabuhan Tanah Kuning yang sejak tahun lalu sudah masuk dalam Proyek Strategis Nasional. Investasi ini terintegrasi dengan PLTA Kayan yang potensinya bisa menghasilkan listrik lebih dari 9 Gigawatt (GW).

Listrik yang dihasilkan pembangkit ini diarahkan untuk mendukung kawasan industri seluas 1.600 hektare di provinsi tersebut. Kawasan industri ini akan dibagi menjadi beberapa kluster. "Ada smelter, kimis, minyak dan gas bumi, serta kelapa sawit," kata dia.

Dia mengungkapkan sudah ada beberapa calon investor yang akan masuk, dari dalam negeri dan luar negeri. Selain investor Tiongkok yang menggandeng perusahaan lokal, perusahaan asal Korea Selatan Dragon Land juga berminat berinvestasi di PLTA Kayan. Bahkan, Dragon Land berencana memfasilitasi 30 perusahaan Korea lainnya berinvestasi di kawasan industri.

(Baca: PM Li Tegaskan Investasi Tiongkok Harus Gunakan Tenaga Kerja Lokal)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait