Tahun Depan Mobil Pribadi yang Masuk ke Jakarta Harus Bayar

"Jadi, kalau mobil dari Bekasi melintasi perbatasan Jakarta, langsung kena bayaran," kata Kepala BPTJ
Image title
24 Maret 2018, 08:00
Kemacetan DKI Jakarta
Katadata | Donang Wahyu

Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) berencana akan menerapkan jalan berbayar elektronik (Electronic Road Pricing/ERP) di sekeliling jalan Ibukota pada 2019. Studi penerapan ERP ini akan mulai dilakukan pada Juni mendatang.

"Penerapannya tahun depan, tapi dikaji dulu, kan ada pengadaan alat, lalu uji coba," ujar Kepala BPTJ Bambang Prihartono di Batik Kuring, Jakarta, Jumat (23/3).

Bambang mengatakan penerapan ERP ini merupakan solusi jangka panjang untuk mengurangi pemakaian kendaraan pribadi dan kemacetan Jakarta. Sementara, kebijakan pelat nomor ganjil-genap hanya merupakan solusi jangka pendek.

(Baca: BPTJ Terapkan Sistem Ganjil-Genap di Gerbang Tol Bekasi Barat & Timur)

Advertisement

Penerapan ERP akan dilakukan pada jalan-jalan di sekeliling Jakarta, terutama yang berbatasan dengan kota lain, seperti Depok, Tangerang, dan Bekasi. Dengan begitu, kendaraan pribadi dari luar Jakarta yang melintasi jalan ini akan dikenakan biaya.

“Jadi, kalau mobil dari Bekasi melintasi perbatasan Jakarta, langsung kena bayaran. Ini mencegah orang untuk tidak bepergian naik kendaraan pribadi bila keperluannya tidak penting-penting sekali," ujarnya.

Penerapan ERP sendiri, dikatakan Bambang, hanya akan berlaku untuk kendaraan roda empat saja karena roda dua tidak diizinkan oleh undang-undang. Meski begitu, Kementerian Perhubungan sudah punya niatan untuk mengatur kendaraan roda dua yang masuk dari luar Jakarta.

(Baca: Dewan Transportasi Jakarta Usulkan Kenaikan Tarif Parkir)

Saat ini BPJT tengah mengkaji dan merencanakan kebijakan yang tepat untuk mengatur volume sepeda motor di Jakarta. "Nanti kita punya kebijakan sendiri untuk motor. Tunggu tanggal mainnya," kata Bambang.

Mengenai besaran tarif ERP yang akan dikenakan untuk pengendara mobil yang melintas masuk ke Jakarta, masih perlu menunggu studi. Dirinya hanya memastikan, semakin padat kendaraan yang masuk ke Jakarta, maka tarif yang dikenakan akan semakin tinggi.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait