Menteri Rini Ajak Puluhan Investor Dunia Investasi di Infrastruktur

Puluhan investor ini berasal dari beberapa negara, antara lain Kuwait, Qatar, China, Azerbaijan, Malaysia, dan Norwegia.
Image title
26 Januari 2018, 20:20
Rini Soemarno
Arief Kamaludin|Katadata
Menteri BUMN Rini Soemarno

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno memaparkan peluang bisnis di Indonesia kepada puluhan investor, saat kunjungan kerjanya di Zurich, Switzerland. Investor ini berasal dari beberapa negara, antara lain Kuwait Investment Fund, investor dari Qatar, China, Azerbaijan, Malaysia, dan Norwegia.

Dia mengajak para investor tersebut untuk menanamkan modalnya pada proyek-proyek infrastruktur di Indonesia. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015-2019, kebutuhan dana untuk pembangunan infrastruktur mencapai US$ 500 miliar.

Beberapa proyek yang akan dibangun adalah listrik 35 gigawatt (GW), 2.650 kilometer (km) jalan baru, dan 1.800 km jalan tol. Kemudian di sektor telekomunikasi Indonesia sedang mengembangkan jaringan serat optik melalui proyek Palapa Ring sepanjang 46.356 km dan 152 ribu menara Base Transceiver Station (BTS).

“Rencana ekspansi kami memang terlihat ambisius. Tapi pada saat bersamaan sangat realistis,” ujarnya.

Advertisement

Rini mengungkapkan Indonesia memiliki sejumlah keunggulan kompetitif yang banyak negara lain tidak memiliki. Keunggulan itu antara lain dari bonus demografi, tenaga kerja muda yang melimpah, makro ekonomi yang kuat dan lingkungan politik yang stabil.

Di hadapan investor global tersebut, Rini memberikan contoh investasi di Indonesia yang menarik minat investor asing. Salah satunya Komodo Bonds Jasa Marga yang diluncurkan November 2017 dan terdaftar di bursa London. Selain itu juga ada Komodo Bonds Wijaya Karya.

Tiga lembaga pemeringkat kelas dunia, yakni Moody’s, S&P Global, dan Fitch Rating juga telah menempatkan Indonesia sebagai negara tujuan investasi karena ekonomi yang terus membaik. Selain itu, Rini juga mengungkapkan sejumlah indikator makro ekonomi Indonesia yang terus membaik seperti neraca perdagangan yang positif dalam tiga tahun terakhir dan inflasi yang selalu terkontrol.

“Dua tahun terakhir ini, ekonomi tumbuh di atas 5 persen dan akan terus membaik di masa yang akan datang," ujarnya. Tingkat kesejahteraan juga meningkat dengan menurunnya angka kemiskinan dari 11,7 persen pada 2012 menjadi 10,1 persen pada 2017.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait