3 Tahun Jokowi, Menhub Klaim Konektivitas Daerah Terpencil Meningkat

"Competitiveness pelabuhan juga semakin meningkat ditandai dengan kapal-kapal besar yang berada di sini," ujar Budi
Image title
Diproduksi oleh Tim Publikasi Katadata
10 Oktober 2017, 19:43
Tol Laut
Arief Kamaludin|KATADATA
Kapal logistik ini merupakan bagian dari program tol laut yang dicanangkan Presiden Joko Widodo sejak masa awal pemerintahannya.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK) telah memasuki tahun ketiga. Berbagai pencapaian dipamerkan oleh jajaran pemerintahannya. Kementerian Perhubungan mengklaim salah satu capaian kinerja pemerintahan Jokowi-JK adalah meningkatnya konektivitas di daerah-daerah terpencil.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan amanat pemerintahan Jokowi-JK selama tiga tahun ini adalah untuk meningkatkan konektivitas antar wilayah, terutama daerah yang belum terhubung dengan transportasi. Dia mengklaim, saat ini, konektivitas laut telah tercipta dengan baik.

Hal ini ditunjukkan dengan pembangunan pelabuhan-pelabuhan yang bukan hanya di pesisir pulau-pulau besar, tetapi juga di wilayah timur Indonesia yang seringkali terabaikan. Selain itu, perjalanan kapal roll on roll off (roro) juga semakin diperbanyak untuk mengangkut penumpang dan logistik antarkawasan.

Upaya ini dilakukan salah satunya untuk menekan biaya logistik yang berujung pada penurunan harga pangan dan barang. "Competitiveness pelabuhan juga semakin meningkat ditandai dengan kapal-kapal besar yang berada di sini (Indonesia)," ujar Budi saat ditemui di Stasiun Juanda, Jakarta, Selasa (10/10).

(Baca: Luhut: Kontrak Freeport dan Aspal Plastik Jadi Prestasi 3 Tahun Jokowi)

Di bidang perhubungan udara, Kementerian Perhubungan juga telah menciptakan konektivitas khususnya ke kota-kota kecil yang sulit terjangkau. Dia menjelaskan wilayah seperti Papua, Kalimantan Utara, dan Aceh, kini telah terlayani dengan angkutan udara, sehingga akses menuju ke wilayah tersebut semakin mudah. Ini dilakukan dengan adanya revitalisasi bandara-bandara di wilayah tersebut.

Bandara-bandara besar di Indonesia memiliki daya saing yang terus meningkat, dibandingkan dengan bandara di negara lain. Sebut saja bandara Soekarno-Hatta yang saat ini telah memiliki fasilitas seperti skytrain. Kemudian Bandara Kualanamu Medan dan Bandara Ngurah Rai Bali yang telah memiliki standar internasional.

"Maskapai penerbangan Garuda Indonesia juga mendapat apresiasi yang baik. Saya pikir ini suatu capaian yang baik," ujar Budi.

Dari sektor kereta api, kata Budi, pemerintah telah mendorong investasi kereta api jarak jauh dengan teknologi yang mumpuni. Terdapat proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dan Kereta Semi-Cepat Jakarta-Surabaya yang menjadi proyek besar dengan mengundang investor Tiongkok dan Jepang dalam pembangunannya. Selain itu, perbaikan pelayanan kereta dalam kota pun terus ditingkatkan.

Untuk angkutan darat, pemerintah akan terus melakukan revitalisasi terminal-terminal yang ada, demi menciptakan situasi yang nyaman dan aman. Pihaknya juga terus bekerja sama dengan pemangku kepentingan terkait untuk menciptakan kelancaran dan keamanan saat arus mudik. 

(Baca: Tiga Tahun Jokowi-JK, Pembangunan Tol Capai 560 Kilometer)

Di sisi lain, Budi mengakui fenomena munculnya angkutan berbasis online masih menjadi pembahasan lintas kementerian dan seluruh pemangku kepentingan terkait. Pembahasan bersama pun akan dilakukan pada tanggal 17 Oktober mendatang. "Semua keinginan kami adalah untuk memberikan kesetaraan antara online dengan konvensional dan dijunjung bersama-sama," ujarnya.

Budi mengatakan pihaknya akan terus berupaya untuk menciptakan transportasi massal yang baik dan nyaman. Ini akan menjadi solusi bagi kemacetan di dalam kota, khususnya di Jakarta dan tentunya menjadi solusi untuk meningkatkan konektivitas antar wilayah di Indonesia.

Penulis: Miftah Ardhian

Video Pilihan

Artikel Terkait