Gubernur Bali Yakin Potensi Erupsi Gunung Agung Tak Ganggu Pariwisata

"(Kabupaten) Karangasem masih dalam zona aman, jadi jangan dipikir dahsyat betul sehingga pariwisata terancam," kata Pastika
Ameidyo Daud Nasution
Oleh Ameidyo Daud Nasution
28 September 2017, 18:15
Wisata Bali
ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Pariwisata Bali

Gubernur Bali Made Mangku Pastika meyakini potensi erupsi Gunung Agung saat ini tak akan berdampak pada sektor pariwisata di pulau tersebut. Dia menilai dampak maksimum letusan Gunung Agung di luar debu hanya radius 12 kilometer. Bahkan, 64 dari 78 desa di kabupaten Karangasem tidak terdampak langsung letusan gunung berapi yang terakhir erupsi tahun 1963 tersebut.

"(Kabupaten) Karangasem masih dalam zona aman, jadi jangan dipikir dahsyat betul sehingga pariwisata terancam," kata Pastika usai rapat terbatas soal bencana Gunung Agung dan Sinabung dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (28/9)..

Pastika mengatakan hingga saat ini jumlah pengungsi erupsi gunung tersebut mencapai 122 ribu. Dia juga memastikan kondisi pengungsi tersebut dalam keadaan relatif baik kecuali beberapa persoalan kesehatan pada balita. Hal ini pun telah ditangani oleh Kementerian Kesehtan dan Kementerian Sosial.

(Baca: Ratusan Kilometer Jalan Akan Terdampak Erupsi Gunung Agung)

Meski telah menetapkan status awas, pemerintah juga terlihat menganggap kondisi Gunung Agung saat ini masih belum terlalu mengkhawatirkan. Bahkan, pemerintah masih menetapkan Bali sebagai tempat penyelenggaraan pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF) - World Bank.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono memastikan pembangunan jalan terowongan (underpass) untuk mendukung kelancaran acara tersebut masih terus berjalan. Apalagi, jarak tempuh antara wilayah Gunung Agung dengan lokasi penyelenggaraan acara IMF-World Bank di Denpasar, masih sekitar dua jam.

Basuki menjelaskan pihak Kementerian PUPR saat ini sedang melakukan pengerukan terhadap 87 sabo dam di jalur lahar yang ada di Karangasem. Sabo dam dibangun  untuk difungsikan sebagai pengendali aliran laharakibat letusan gunung berapi,  agar tidak menyebar ke daerah-daerah yang tidak diinginkan.

Pengerukan dilakukan untuk menyediakan penampungan lebih besar agar air sungai dapat terpisah dengan lahar dan pasir. Basuki memang tidak menyebutkan berapa anggaranyang akan dikeluarkan untuk pembangunan sabo dam ini. Dia hanya menjelaskan anggaran darurat bencana di Direktorat Jenderal Sumber Daya Air mencapai Rp 17 miliar.

"Sabo dam ini juga kami bangun di (gunung) Merapi," ujarnya. (Bac:a: Jakarta Jadi Lokasi Cadangan Acara IMF-World Bank 2018)

Video Pilihan

Artikel Terkait