Mitsubishi dan Itochu Berniat Relokasi Usaha Perikanan ke Indonesia

Selain minat Jepang merelokasi usahanya dari Thailand, beberapa negara Eropa seperti Norwegia dan Skotlandia juga berencana relokasi ke Indonesia
Michael Reily
28 Agustus 2017, 11:47
Bongkar muat ikan
Donang Wahyu|KATADATA
Aktivitas bongkar muat ikan tak selamanya dilakukan di pelabuhan perikanan samudera Bitung. Sejumlah kapal juga melakukan bongkar muat di dermaga-dermaga kecil yang terdapat di sekitar Bitung.

Dua perusahaan pengolahan ikan asal Jepang, Itochu Corporation dan Mitsubishi menyatakan keinginan untuk merelokasi pabriknya dari Thailand ke Indonesia. karena ketersediaan pasokan tuna di Tanah Air. Terkait peluang investasi ini, pemerintah bakal mengurus pembebasan bea masuk produk perikanan ke Jepang.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nilanto Perbowo mengatakan pemerintah tengah mengupayakan penanganan kebijakan bea masuk sektor perikanan dengan Jepang. Ini dilakukan untuk memudahkan transaksi perdagangan bagi pengusaha Jepang yang melakukan relokasi usaha ke Indonesia.

Penyelesaiannya akan dilakukan lewat penyesuaian Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA). "Seharusnya Jepang memberikan tarif bea masuk nol persen bagi semua produk perikanan Indonesia," kata Nilanto dalam keterangan resmi, Jakarta, Sabtu (26/8).

(Baca: Jepang Siap Bantu Pembangunan 6 Sentra Perikanan di Indonesia)

Dia merasa yakin pihak Jepang akan mendukung kerja sama antara kedua negara dalam sektor perikanan. Karena bahan baku perikanan Jepang berasal dari Indonesia. Menurut catatan KKP, stok ikan lestari Indonesia tahun tahun lalu mencapai 12,54 juta ton atau naik sekitar 71 persen dibandingkan 2013 yang hanya 7,31 juta ton.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Rifky Effendi Hardjianto menyatakan perusahaan-perusahaan Jepang yang ingin berbisnis di sektor perikanan masih terhambat bea masuk. "Jepang masih mengenakan impor tarif 7 persen," kata Rifky akhir pekan lalu.

Rifky menjelaskan stok ikan tuna yang ada di wilayah pengolahan perikanan nasional menjadi daya tarik utama masyarakat Jepang. Dia juga menjanjikan akan menindaklanjuti proposal bisnis yang diajukan Mitsubishi untuk perdagangan tuna.

Selain itu, dia menyebut ada minat dari negara-negara Eropa seperti Norwegia dan Skotlandia untuk memindahkan pabrik ke Indonesia. "Ada beberapa negara yang memang mau merelokasi cold storage (fasilitas pendingin dan penyimpanan ikan)," ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti menjelaskan pihaknya telah bertemu dengan perwakilan dari Itochu pada kunjungan ke Jepang, pekan lalu. Dia yakin Indonesia mampu memenuhi kebutuhan bahan baku perikanan untuk meningkatkan nilai perdagangan.

"Itochu akan memindahkan pabrik pengolahan ikan dari Thailand ke Indonesia karena ketiadaan raw material (bahan baku)," kata Susi. Selain tuna, Itochu bakal berinvestasi untuk komoditas ikan kakap, gurita, dan udang. (Baca: KKP Ingin Perluas Ekspor Ikan Segar ke Timur Tengah)

Dia mengatakan pemindahan pabrik pengolahan akan disesuaikan dengan minat pihak Jepang untuk proyek pembangunan 6 Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT). September nanti, pihak Itochu akan membahas ketentuan teknis untuk mempercepat realisasi kerja sama.

Kesepakatan finalnya sudah bisa dicapai akhir tahun ini. "November nanti ditandatangani Perdana Menteri Jepang dan Presiden Indonesia," ujarnya.

Saat ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menargetkan pembangunan SKPT di 12 titik, yaitu Natuna, Saumlaki, Merauke, Mentawai, Nunukan, Talaud, Morotai, Biak, Mimika, Rote, Sumba Timur, dan Sabang. Sejauh ini, JICA baru akan memberikan bantuan pangkalan pendaratan ikan terintegrasi dan pembangunan pelabuhan di Natuna.

Video Pilihan

Artikel Terkait