Kemendag Targetkan Ekspor ke Afrika Selatan Rp 10 Triliun

"Indonesia menargetkan ekspor meningkat mencapai US$ 806,4 juta ke Afsel," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita
Michael Reily
1 Agustus 2017, 11:08
Enggartiasto Lukita
ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita

Kementerian Perdagangan menargetkan ekspor nonmigas ke Afrika Selatan (Afsel) meningkat sebesar 5,6 persen. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita melakukan misi dagang ke Afrika pekan lalu dalam upaya diversifikasi produk dan pasar ekspor global.

"Indonesia menargetkan ekspor meningkat mencapai US$ 806,4 juta (sekitar Rp 10 triliun) ke Afsel," kata Enggar saat konferensi pers di Jakarta, Senin (31/7).

Dia mengaku telah mendatangi Joint Trade Comittee kedua negara untuk membahas upaya peningkatan hubungan kerja sama bilateral di bidang ekonomi dan perdagangan. Pada kesempatan itu, kedua negara sepakat menandatangani Joint Working Report untuk menyelesaikan isu hambatan dagang dan melakukan promosi dagang dan investasi secara intensif.

(Baca: Pemerintah Bawa 21 Perusahaan Berpromosi ke Afrika)

Advertisement

Enggar juga meminta potensi ekspor Indonesia ke Afrika Selatan ditingkatkan. Selama ini terdapat lima produk unggulan Indonesia yang diekspor ke negara tersebut. Produk ini adalah minyak kelapa sawit mentah dan turunannya, perhiasan, otomotif, produk kimia, serta alas kaki.

Kementerian Perdagangan mencatat sepanjang tahun lalu total perdagangan nonmigas Indonesia dan Afsel mencapai US$ 1,02 miliar dengan nilai ekspor sebesar US$ 727,63 juta. Nilai ekspor nonmigas Januari sampai Mei pada tahun ini sudah mencapai US$ 297,88 juta.

Salah satu hal yang memicu peningkatan perdagangan ini adalah forum bisnis yang dihadiri sekitar 30 pelaku usaha dari Indonesia. PT Wijaya Karya berhasil bekerja sama dengan lima perusahaan potensial untuk sektor konstruksi, pergudangan, properti, manajemen pembuangan sampah, dan pertambangan. 

Forum bisnis dengan Afrika Selatan merupakan salah satu langkah diversifikasi kerja sama Indonesia dengan negara lain. "Selama ini, kita bergantung dari Australia, lalu kami buka dengan India, Meksiko, dan Cile," kata dia. (Baca: Jokowi Targetkan Perjanjian Dagang dengan Cile Rampung Tahun Ini)

Di sisi lain, kata Enggar, Afsel lebih banyak menawarkan produk untuk diekspor dan salah satu komoditas yang ditawarkan untuk Indonesia impor adalah daging sapi. Alasannya, negara ini sedang mengalami resesi, sehingga pemerintah menyanggupi untuk mengimpor komoditas tersebut.

Impor daging sapi dari Afsel, akan ditindaklanjuti oleh Kementerian Pertanian dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) setelah memenuhi kriteria kesehatan secara internasional. Pihak yang memegang impornya adalah PT Charoen Pokphan bekerja sama dengan Afrigow, Afriholding (Pty) Ltd, dan International Trade and Commoidities Otto Mbanglala.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait